
Setelah mendekati proyek ke Jepang, Tiffany cs semakin sering mengadakan rapat. Marsha pun sibuk, sehingga rapat di adakan melalui zoom.
Tiffany sudah merasa lebih lega karena tidak ada lagi hal aneh lagi sejak Juna tidak muncul. Dia juga sudah mengembalikan uang Juna, jadi tidak ada hal lagi yang berhubungan dengan Juna.
"Reno ikut?" Tanya Tiff setengah berteriak karena Aeris bilang Reno akan ikut ke Jepang.
"Iya.. Dia di undang Marsha juga.."
"Inget fokus kerjaan dulu,, jangan pacaran.."
"Yee... Sirik aja lo.. Makanya cepet cari pacar." Sindir Aeris.
Tiffany tertawa. Dia bukannya tidak mau berpacaran, tapi dia lebih suka bekerja dan mencari uang karena tanggungannya banyak.
"Gue mau cari yang kayak Reno. Udah ganteng, baik lagi."
"Awas lo ya.." Aeris mencoba menimpuk Tiff dengan tipex di depannya.
Tiff menghindar, tapi dia malah tersandung sampai menabrak seseorang. Untung saja Orang itu dengan sigap memegang Tiff supaya tidak jatuh. Ketika, menengok, Tiff melihat Tim sedang tersenyum ke arahnya.
"Ngapain lo?" Omel Tiff sambil cepat berdiri.
"Anter makan siang untuk nona Aeris." Tim memberikan sebungkus besar plastik berisi makanan kesukaan Aeris.
"Lo udah makan Tim?" Tanya Aeris.
"Belum.."
"Makan sekalian di sini." Pinta Aeris sambil menepuk kursi di sebelahnya.
__ADS_1
Tim melihat ke arah Tiffany.. Tiff melengos ke arah lain. Dia malah penasaran dengan apa yang di kirimkan oleh Reno.
Dalam sekejap, meja Aeris penuh dengan makanan. Reno memberinya banyak sekali jajanan. Mulai dari telur gulung, tokkpoki, onigiri, sampai es potong pinggir jalan.
"Enggak deh.. Temen kamu kan makannya banyak." Tolak Tim.
Spontan Tiff melotot. Tim tertawa senang sambil berlalu dari kedua wanita yang hobi makan itu.
"Tim sepertinya suka sama lo." Aeris memulai pembicaraan sambil memakan telur gulung nya. Tim beberapa kali muncul di kantor ini untuk membawa makanan. Dan setiap kali bertemu Tiffany, Tim sangat senang menggoda sohib Aeris itu. Jadi Aeris menyimpulkan jika Tim memang menyukai Tiffany.
Tiffany menyemburkan air minum di mulutnya karena terkejut dan sontak membuat Aeris berteriak heboh karena baju nya basah.
"Gila lo." Omel nya kesal.
Tiffany hanya tertawa melihat Aeris yang marah. Salah sendiri dia bicara sembarangan. Tim memang tidak jelek, tapi dia aneh sama seperti Juna.
***
Rumah yang Juna tempati begitu besar. Ada 10 kamar, 2 kolam renang, lapangan tenis, tempat fitness dan bahkan ada tempat untuk sauna. Juna tidak kekurangan apapun jika berada di rumah. Tapi, Juna sendirian di sini. Tidak ada keluarga yang tersisa. Dia hanya anak satu-satunya, sedangkan kedua orangtua nya sudah meninggal sejak lama. Hal itulah yang membuat Juna tidak menyukai rumah. Dia lebih senang berada di kantor sampai larut malam, bahkan menginap di kantor.
Juna mengambil ponselnya. Dia membuka galeri, dan dia menemukan foto Tiffany di sana. Dia sengaja mengambil foto Tiffany untuk meyakinkan detektif yang di sewa Marsha, dan Juna lupa menghapusnya.
Sejak kejadian di rumah sakit, Juna tidak pernah bertemu Tiffany. Dia terkadang khawatir apakah Tiffany aman, tapi Juna tidak mau mengganggu gadis itu lagi.
Ponsel Juna tiba-tiba berdering.. Tiffany calling... Juna berpikir sebentar, kemudian dia memutuskan untuk menekan tombol hijau.
“Selamat malam Pak,, saya sedang mencatat daftar untuk pembelian tiket pesawat. Saya hanya memastikan apakah anda akan ikut?” Suara di sana terdengar sangat ramah dan lembut.
Juna hanya diam saja. Dia sebenarnya sangat malas karena dia akan bertemu dengan artis-artis yang berusaha mendekati atau bekerjasama dengannya.
__ADS_1
“Pak,, apa anda tidur?” “Pak..” ulang Tiffany karena tidak kunjung mendapat jawaban.
“Ya..”
“Anda dengar kan tadi saya bilang apa?”
“Hmmm.. dengar.”
“Jadi?”
“Belikan saja.. biarkan kosong jika saya tidak bisa ikut."
“Astaga,,sombong sekali..” ucap Tiff lirih.
“Saya dengar nona,,”
“Syukur deh kalau denger.”
“Kamu...” Juna berhenti mengomel karena telepon sudah terputus.
Tiffany.. kenapa wanita itu.. suka seenaknya sendiri.. batin Juna. Dia secara tidak sadar tersenyum kecil. Perlakuan seperti ini justru membuat Juna lebih senang pada Tiffany karena dia memperlakukan nya secara manusiawi, bukan sebagai Juna yang notabene seorang bos besar.
***
Tiffany memukul kepalanya menggunakan clipboard yang dipegangnya. Dia sekali lagi menatap tulisan yang sudah susah payah dia bikin seharian ini.
Ya, Tiffany di tugaskan untuk mengatur pembelian tiket pesawat dan pengaturan kamar hotel, jadi dia harus memastikan siapa yang akan ikut ke sana. Semua dapat Tiffany selesaikan dalam waktu 2 jam saja, tapi ketika sampai pada nama terkahir, Tiffany menjadi sangat galau. Dia harus menelepon Juna.
Sebelum itu, Tiffany lebih dulu menyusun sekenario percakapan untuk mengantisipasi jawaban dari Juna. Dia juga sudah bertekad untuk meminta maaf pada Juna karena perkataan nya tempo lalu.
__ADS_1
Tapi, dasar manusia tidak sempurna. Ketika mendengar suara Juna, Tiffany melupakan segalanya.
"Fokus Tiffany.. kenapa kamu malah memikirkan Juna?" Tiffany mulai membayangkan wajah Juna yang sangat dekat dengannya waktu berada di semak-semak.