
"Mereka pergi ke America." lapor Jo pada Juna. Dia sudah bersiap dengan segala reaksi Juna yang akan dia dapatkan.
Jika Juna berlari ke bandara, Jo sudah menyiapkan sopir dan mobil.
Jika Juna marah, Jo sudah mempersiapkan betadine dan salep.
"Jadi dia pergi?" tanya Juna sekali lagi.
"Ya, dengan Timothy."
Juna mengangguk. Dia lalu berbalik dan menatap keluar jendela rumah sakit. "Baguslah kalau dia pergi."
"Jun,, kamu gila? Pacarmu pergi dengan orang lain dan kamu bilang bagus?" protes Jo. Dia tidak mengharapkan reaksi seperti ini dari Juna. Dia lebih suka jika Juna akan marah dan mengamuk padanya.
"Kita batalkan juga konferensi persnya." lanjut Juna.
"Jun, lo gak apa-apa kan?" Jo berdiri di samping Juna untuk melihat ekspresi bosnya.
"Jo, Dad benar. Akan lebih baik jika aku hanya mengurus diri ku sendiri." "Megan akan tetap menikah dan hidup tenang, Tiffany juga masih bekerja di Event Organizer itu." sesal Juna.
Jo seperti tidak mengenal bos nya saat ini. Juna Liem adalah orang yang percaya diri dan dia tidak akan mundur jika belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Juna pasti sangat stress saat ini.
"Semua akan kembali seperti biasa Jo." Juna menengok dengan ekspresi datar.
Jo tidak menjawab karena Juna pasti tidak ingin mendengarkannya.
__ADS_1
"Kita kembali sekarang." ajak Juna.
"Kakak ipar mau ke mana?" Bobby yang baru saja keluar dari ruangan menghentikan langkah Juna dan Jo.
"Jaga Megan. Aku mungkin akan jarang menemuinya. Hubungi Jo saja kalau terjadi sesuatu." Juna mengeluarkan kartu nama Jo dari dompetnya kepada Bobby.
Bobby menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seharusnya dia senang jika Juna tidak akan menempel pada istrinya, tapi saat ini Bobby malah merasa kasihan pada Juna.
*
*
*
Di parkiran, bodyguard Juna sudah menunggu di samping mobil roll royce kesayangannya.
"Baik Pak. Hati-hati Pak." Ucap Jo dengan formal. Dia membukakan pintu mobil untuk Juna dan menunggu Juna untuk pergi bersama bodyguardnya. Mobil Juna melesat dengan cepat meninggalkan rumah sakit.
Entah kenapa perasaan Jo tidak enak dan sepertinya dia melupakan sesuatu. "Oh, my God." pekik Jo. Dia baru ingat pesan dari Tim saat di telepon tadi. Bodyguard Juna!
Jo buru-buru masuk ke mobilnya untuk mengikuti mobil Juna.
'Ciiiiiiiit. BRAK.' Suara itu terdengar begitu keras sehingga Jo dengan cepat mengerem mobilnya.
Jo keluar dengan tubuh gemetaran. Dia melihat di depan mata kepalanya sendiri mobil Juna menabrak tiang dan terbalik.
__ADS_1
Orang-orang di sekitar mulai berdatangan untuk membantu korban kecelakaan itu.
"Pak, tolong panggil ambulance.. ada orang yang terjepit di dalam." salah seorang ibu-ibu menarik Jo sehingga membuat pria itu tersadar.
Jo segera menelepon ambulance dengan panik. Setelah itu, dia mendekati mobil untuk memastikan keadaan bos nya.
Karena jarak mereka belum terlalu jauh dari rumah sakit, ambulance cepat datang. Para medis segera mencoba mengeluarkan 2 orang di dalam mobil dengan bantuan warga yang menolong.
Juna terluka cukup parah di bagian dadanya, sedangkan bodyguard Juna hanya mengalami luka di pelipisnya. Jo segera, menghubungi Marsha untuk meminta bantuan. Hanya nama itu yang muncul dalam benaknya, karena Juna tidak punya siapapun lagi.
"Sha, Juna kecelakaan. Aku butuh bantuan mu dan Ken sekarang."
Jo mencoba tenang, tapi pikirannya kacau sekarang. Dia harus menjaga Juna, tapi dia takut bodyguard Juna itu akan kabur.
*
*
*
Doa Jo terjawab karena Marsha datang bersama Ken tepat saat para medis memasukan Juna ke dalam ambulance.
"Jo, mana Juna?" tanya Marsha panik.
"Aku akan jelaskan nanti. Tolong awasi saja dia. Dia orang yang ingin mencelakai Megan dan Tiffany." Jo menunjuk ke arah pria berbadan kekar yang sudah mulai sadar.
__ADS_1
"Tapi Juna.."
"Nona, aku mohon kali ini saja.. anda bisa melihat keadaan Juna setelah ini." Jo berlari dengan segera menuju mobilnya untuk mengikuti ambulance.