
Juna kembali dan melihat meja itu kosong. Dia menemukan ponsel Tiff di meja, jadi dapat dipastikan kalau wanita itu tidak pulang atau kabur.
Pelayan yang berada disitu dan melihat Juna kebingungan segera menghampiri Juna dengan terburu-buru.
“Pak, tolongin wanita itu di bawa orang-orang jahat.” Katanya ketakutan.
Juna langsung berlari meskipun dia tidak tau harus mencari di mana. Ke kamar atau keluar dari hotel? Di dalam lift Juna berpikir keras untuk cepat menemukan Tiff. Dia menelepon Ken untuk menanyakan apakah ini ulah Marsha lagi.
"Tidak tuan. Nona sedang liburan."
Akhirnya, Juna sampai di Lower Ground. Dia menuju ke meja resepsionist.
“Apa anda melihat orang-orang berjas hitam check in di sini? Atau mereka sudah keluar?” Tanya Juna panik.
“Mereka check in.”
“Di kamar mana? Atas nama siapa?”
“Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi para tamu.” Tolak Resepsionist.
Juna menggebrak meja. Dia mengeluarkan kartu namanya, dan tentu membuat resepsionist di situ terkejut. Juna Liem masih pemegang saham di hotel Diamond ini.
“Cepat jangan sampai saya tarik saham saya dari sini.”
Resepsionist yang di tekan oleh Juna akhirnya memberikan informasi yang di perlukan Juna. Dia bilang jika orang itu ada di lantai atas kamar president suite.
Juna berlari ke lift secepat kilat. Sambil menunggu, Juna menelepon Sam. Tidak lama, Sam mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Sam, cepat retas cctv di hotel Diamond sekarang.”
“Jun, kenapa? Gue masih praktek.”
“Cepat Sam. Ini penting menyangkut orang yang gue suka.” Ucap Juna akhirnya.
“Oke..sabar Jun.. nanti aku kirim datanya ke kamu.”
LIft sudah terbuka. Lantai atas hanya ada satu kamar suite. Jadi tidak sulit bagi Juna untuk menemukan Tiffany. Juna menekan bel kamar, lalu dia bersembunyi di belakang Tembok. Juna sudah menelepon Jo untuk segera datang.
Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh kekar yang menggunakan masker hitam keluar.
“Ah, siapa sih. Gue kira si bos.”
Juna keluar dari persembunyiannya, lalu segera menghajar pria itu. Pria itu hanya terhuyung ke belakang. Baginya pukulan Juna itu hanya seperti pukulan anak kecil. Dia menatap Juna sambil tertawa. Juna sudah bersiap mengambil kuda-kuda. Dia pernah belajar bela diri, tapi karena merasa ada Jo yang dapat diandalkan, Juna tidak mau berlatih lagi. Mendengar keributan di depan, beberapa orang lagi keluar dari dalam.
“Berapa banyak bos kamu bayar ini?” tanya Juna santai.
“Apa urusan anda. Saya tidak akan memberikan informasi apapun.”
“Saya akan bayar kalian 3x lipat. Bagaimana? Saya tidak ingin ada keributan.” Juna mencoba bernegosiasi.
Pria itu menaikan alisnya. Dia menatap Juna curiga. Juna melapaskan jam tangannya. Dia menunjukan itu di depan wajah penculik Tiffany.
“Ini 4 miliar.” Kata Juna bangga. “Apakah cukup?”
“Kami berlima.” Ucapnya mulai tertarik dengan tawaran Juna. Juna tersenyum licik. Dia akhirnya mengeluarkan sebuah cek dalam dompetnya.
__ADS_1
“Beritau bos kamu kalau dia kabur.” Perintah Juna sambil memberikan cek yang sudah dia tulis dengan angka 1M.
“Oke, deal.” Sahutnya senang.
“Apa yang kalian lakukan dengan dia?” Tanya Juna sebelum pria itu pergi.
“Tidak ada. Wanita itu galak sekali. Dia menggigit kami, dan sekarang dia menangis dengan keras dan tidak mau berhenti.” Lapornya.
Sial. Juna mengumpat dalam hati. Dia langsung masuk ke dalam dan menyuruh mereka semua pergi. Setelah ruangan kosong, Juna menelepon Jo.
“Mereka sudah turun. Ambil cek dan jam tangannya."
Juna bukan orang bodoh. Dia tidak akan memberikan barangnya dengan cuma-cuma. Masalah penculikan selesai.
Sekarang Juna dapat berfokus pada Tiffany yang sedang menangis di pojok ruangan. Juna mendekat perlahan, lalu berjongkok di depan Tiffany.
“Semua aman Tiff.. maaf aku harusnya tidak pergi meninggalkan kamu.”
Tiffany yang mendengar suara Juna segera memeluk Juna erat. Dia seperti anak tersesat di pusat perbelanjaan yang baru saja ditemukan oleh ayahnya.
Juna pasrah dan membiarkan kemeja mahalnya terkena ingus Tiff. Dia menenangkan Tiff sambil mengelus punggungnya dengan lembut.
Baru saja Tiffany berkata tidak akan menangis, sekarang dia malah bertingkah seperti ini.
"Kamu takut Tiff? Tidak apa-apa ada aku di sini." Hibur Juna.
Tiffany menggeleng. "Aku takut kamu kenapa-kenapa." jawab Tiffany jujur. Dia pikir orang tadi mencelakai Juna.
__ADS_1
“Tiff,, aku sudah memutuskan, kita pacaran sekarang." Ucap Juna lirih.