Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Show yang berantakan


__ADS_3

Satu persatu tamu datang. Tiffany sudah berganti pakaian dan juga memoleskan make up tipis supaya tidak terlalu tampak seperti pembantu di antara orang-orang penting itu. Dia masih berputar ke meja-meja untuk mengecek. Dia sangat fokus sampai-sampai tidak sadar seseorang sedang memperhatikan nya tanpa berkedip, Timothy.


Timothy meminum champagne nya sambil memandang Tiff. Meskipun tanpa make up berlebihan, Tiffany tampil cantik hari ini. Dia juga sangat rajin, membuat Timothy semakin mengagumi gadis mungil itu.


“Matamu bisa copot kalau memandang dia terus.” Sapa seoarang yang baru datang. Dia menarik kursi di sebelah Tim. Tim memandangnya sekilas, lalu kembali menatap ke arah Tiffany.


“Soal kemarin, sorry.. aku mabuk..” Ericka menghela nafas panjang. Sepanjang hari ini dia memikirkan apa saja yang dia katakan pada Tim. Tapi Ericka tidak mengingat satupun.


“No problem dokter Ericka. Saya pandai menjaga rahasia.” bisik Tim lirih.


Ericka memandang Tim dengan curiga. "Apakah aku bicara tentang Juna?" tanya Ericka hati-hati.


Tim tersenyum. Dia menuangkan champagne pada gelas Ericka yang masih kosong.


"Acara hampir di mulai.. kita bicara nanti saja."


Feeling Ericka tiba-tiba menjadi tidak enak. Jika dia sampai bicara tentang rahasia Juna kepada Tim, maka habis lah riwayatnya. Bukan saja karirnya yang akan hancur, tapi juga kehidupannya.


***


Show di mulai..


Bintang utama malam itu sudah datang. Marsha tampil bak putri dalam dongeng. Dia menggunakan dress merah yang press body dengan model sabrina. Dress itu memperlihatkan belahan dadanya sehingga membuat para pria tidak bisa berpaling untuk melihatnya. Dia sudah bersiap untuk melakukan pembuka.

__ADS_1


Sedangkan Megan yang bersiap di samping Tiffany tidak kalah cantik. Dia menggunakan dress warna hitam blink-blink yang sedikit longgar, dan jepit rambut emas di sisi kirinya.


“Kamu gugup?” Tanya Tiff pada Megan. Dia melihat wanita itu tidak berhenti mengetukan jari tangannya ke meja.


“Ya sedikit..”


Tiff memberikan sebotol air mineral pada Megan supaya dia bisa lebih tenang.


"Terimakasih." Megan segera meminum air yang di berikan Tiffany.


“Selamat malam semua.. saya, Marsha Lee sangat senang karena kalian semua bisa hadir di sini.” Suara Marsha menggema ke seluruh ruangan membuat ruangan yang tadinya riuh suara para tamu seketika hening. Mereka semua berfokus pada Marsha yang berdiri di tengah.


Tiffany bersiap. Dia memberitahu Megan kapan wanita itu akan masuk. Tidak lupa Tiffany harus mematikan lampu ruangan, dan menyalakan lampu tengah saja saat Megan mulai menyanyi.


Megan berjalan ke tengah secara perlahan, tapi Tiff melihat orang lain mendekat ke arah Megan.


Dia tahu itu bukan salah satu kru, dan perasaannya menjadi tidak enak. Tiff buru-buru berlari, mendorong Megan ke samping dan


‘Buk’ ‘prang’ Tiffany merasakan tubuhnya terhempas dan dia menabrak meja dengan keras membuat seisi meja terjatuh.


Seketika lampu menyala. Pemandangan yang terlihat adalah Megan tersungkur di lantai. Dia memegangi perutnya yang sakit.


Sementara itu tidak jauh dari nya, Tiffany juga terjatuh dengan pecahan botol, piring dan gelas di sebelahnya.

__ADS_1


Sedangkan Marsha berdiri di antara mereka dengan keadaan yang aman karena Ken berada di sebelahnya.


Di tengah kekacauan itu, seorang pria yang tidak asing lagi berlari maju ke depan. Dia langsung menghampiri Megan yang tampak kesakitan.


“Berani kamu bawa aku pergi, semua orang akan tau.” Ancam Megan pada Pria yang sudah bersiap menggendongnya.


Pria itu tidak peduli. Dia tetap menggendong Megan, dan segera membawa nya keluar dari kerumunan. Sekilas, pria itu melihat dengan pandangan membunuh ke arah Tiffany yang masih pucat pasi.


Kejadian yang begitu cepat itu segera mendapatkan sorotan dari kamera wartawan yang ikut dalam acara. Tiffany yang masih shock hanya bisa pasrah saat lampu-lampu flash kamera menyorotnya.


Tim segera menghampiri Tiffany. Dia melepaskan jas nya, untuk menutupi badan Tiffany. Setelah itu Tim mengangkat Tiffany supaya dia berdiri, lalu membawanya pergi.


Bu Meri yang sangat shock harus memutar otak. Dia menyuruh kru yang tersisa untuk membereskan semua pecahan kaca di podium, sementara itu dia segera menghandle situasi dengan mengambil mic dari tangan Marsha.


"Mohon untuk tenang, karena acara akan tetap di lanjutkan. Silakan untuk para wartawan bisa duduk."


Bu Meri membisik kan sesuatu pada Bodyguard Marsha. Ken mengangguk mengerti arahan dadi Bu Meri. Dia mengambil kursi dan membiarkan Marsha duduk lebih dulu. Dia masih tercengang melihat kejadian tadi.


"Kita saksikan Bobby yang akan membuka acara malam ini."


Semua kembali terkendali begitu Bu Meri menyebut nama Bobby. Mereka bertepuk tangan menyambut penampilan Bobby.


***

__ADS_1


__ADS_2