
Juna mulai menggeliat karena semalam dia tidur sangat nyenyak. Dia menengok ke samping. Tiff masih memegang tangannya, dan dia tersenyum senang begitu tau bahwa ini bukan mimpi.
Juna mengambil ponselnya. Dia menekan nomor yang sering di teleponnya.
"Halo, kapan kita adakan konfrensi pers?" Tanya Juna begitu teleponnya di angkat.
"Jun, tapi kamu tau kan aku bakal celaka kalau mereka tau ini semua. Juga wanita itu."
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi..aku bisa melindungi kamu dan Tiff."
Tiff sebenarnya sudah bangun, tapi dia berpura-pura tetap tidur untuk mendengar dengan siapa Juna bicara. Jiwa detektif Tim tampak nya sudah menular pada Tiffany.
"Megan.. You know me.. Kita ga bisa seperti ini terus.. Semua orang bisa salah paham, termasuk Tiffany."
"Kamu benar-benar suka dia?"
"Tentu saja aku menyukai Tiffany." Juna membenarkan rambut Tiff yang berantakan.
"Sangat." Tambah Juna.
"Oke, kita perlu bertemu dulu."
Juna bangun dari ranjangnya. Tiff berpura-pura menggeliat. Dia menatap Juna yang bertelanjang dada. Juna berbalik, lalu tersenyum. Wajahnya jauh lebih segar daripada kemarin. Dan tentu saja, Tiff tidak bisa mengalihkan pandangan pada dada bidang Juna.
"Kamu udah sembuh?"
"Tentu saja.. Karena suster nya beda. Pasti cepat sembuh." Juna mendekat. Dia duduk di sebelah Tiff.
"Badan mu sakit?" Tanya Juna khawatir. Semalam Tiff tidur sambil duduk.
"Enggak kok.. Sudah biasa.. Kan biasa juga tidur di mana aja." Tiff ingat betul kerjaannya yang dulu. Dia bisa lembur dan kalau kelelahan pasti dia dan Aeris tidur di pojok panggung.
"Aku siapkan makan dulu ya.." Tiff buru-buru menghindar karena Juna semakin mendekat.
***
Mereka berdua berpindah ke dapur. Seluruh pembantu panik karena majikannya belum pernah sama sekali menginjak dapur.
"Jun, kamu tunggu saja di depan." usir Tiff. Dia sangat risih dengan Juna yang terus menatap nya sejak tadi.
"Aku ingin lihat kamu masak."
"Kamu tau ini apa?" Tiff menunjukan pisau yang sedang dia pegang.
"Nona, Bapak benar. Lebih baik anda berdua tunggu saja di depan. Biar kami saja yang siapkan." salah satu pembantu merebut pisau yang di pegang Tiffany, lalu satu pembantu lainnya mendorong Tiffany untuk segera keluar.
__ADS_1
Akhirnya mereka pergi ke tengah, tepatnya menuju meja makan panjang dengan kursi 8. Juna menarikan satu kursi untuk Tiffany, dan dia, duduk di sebelahnya.
"Kamu tinggal sendirian, kenapa meja makannya besar sekali?" tanya Tiff heran.
"Emm.. aku hanya memakai yang ada." "Lagipula meja ini akan terisi jika kita menikah nanti." kata Juna santai.
Dia mulai melihat tabletnya untuk mengecek pekerjaan Jo. Beberapa hari sakit membuat Juna tidak dapat berfokus pada pekerjaan.
"Memangnya kamu berencana untuk menikah?"
Juna otomatis menengok. Dia menatap Tiffany dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Pertanyaan bodoh."
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Tiffany berdering. Timothy calling..
"Pagi Tim.. Gimana?" "Kerjaan lagi?" "Oke.. aku..."
Juna merebut ponsel yang sedang di pegang Tiffany.
"Tiffany sedang bersama aku. Besok saja kerjanya." setelah menutup telepon sepihak, Juna mematikan ponsel Tiffany. Dia bahkan menyita ponselnya dengan memasukan ke saku celananya.
"Jun... Tim bilang itu penting..." protes Tim.
Tiffany mengalah. Dia tidak akan menang jika melawan Juna.
Makanan mereka pun sudah datang. Pembantu Juna membawakan banyak sekali makanan untuk Tiffany. Ada croffle, nasi goreng, bakmoy, jus, dan salad. Sedangkan untuk Juna hanya semangkok bubur. Tiffany merasa seperti sedang sarapan di hotel.
"Makan yang banyak sayang.." ucap Juna sambil mengacak-acak rambut Tiffany yang masih bengong.
***
"Kenapa kamu ajak dia?" Tim berbisik dengan sangat pelan pada Tiffany.
Tiffany menghela nafas berat sambil menatap Juna yang sedang duduk di depannya. Ya, Juna memaksa untuk pergi bersama Tiffany, yang akan menemui Tim.
"Jadi kerjaannya apa?" tanya Tiff kemudian dan berusaha untuk tidak menghiraukan Juna.
"Seperti biasa, kasus perselingkuhan."
"Kenapa banyak sekali orang yang selingkuh?" protes nya kesal. Sejak bekerja dengan Tim, yang dia lakukan hanyalah menyelidiki kasus perselingkuhan.
"Karena mereka tidak tahan godaan." "Makanya, Hati-hati kalau memilih pasangan." Tim melirik ke arah Juna.
"Kamu juga perlu hati-hati memilih partner kerja." kata Juna pada Tiff.
__ADS_1
Tiff menyenggol kaki Tim supaya dia tidak banyak bicara. Jika bersama Juna, mereka harus super hati-hati ketika bicara.
"Nanti kita pura-pura jadi pasangan suami istri ya.. " lanjut Tim.
'Brak' Juna menggebrak meja membuat semua pengunjung cafe menengok ke arahnya.
"Tiff, keluar sekarang juga." ucap Juna kesal. Dia tau Tim sengaja memancing emosinya. Dan Juna tidak akan membiarkan Tiff melakukan hal-hal konyol yang diminta oleh Timothy.
"Jun,, tapi aku butuh.."
"Aku sudah bilang, aku kasih apapun yang kamu mau. Tidak perlu bekerja." potong Juna.
Dia bangkit dari kursinya, lalu berjalan keluar dengan gontai.
Tim bukannya menyesal, dia malah tertawa dengan tingkah Juna yang bagaikan anak SMA sedang pacaran.
"Lo bener-bener gila Tim.. Bentar gue kejar dia dulu."
Tiff buru-buru keluar mengejar Juna yang sedang marah. Juna hanya berdiri di depan mobil sambil menenangkan dirinya.
"Sayang..sorry.." Tiff memegang lengan Juna.
"Tiff, aku tidak bisa lihat kamu dengan Tim seperti itu." Juna berbalik untuk menatap Tiff. Jika dia sedang marah, gadis itu selalu memasang wajah yang polos dan tanpa dosa.
"Jun, sabar.. aku bilang ini cuma 6 bulan." Tiffany meraih tangan Juna, tapi pria itu tampak masih kesal. Tiffany mencoba memutar otaknya untuk menenangkan Juna. Hanya ada satu cara andalan.
Tiffany berjinjit untuk mencium pipi Juna.
"Jangan marah lagi ya.."
Upaya Tiff membuahkan hasil. Juna sekarang tersenyum senang.
"Aku cemburu Tiff.." aku nya. Dia memegang lembut pipi Tiffany. "Aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain."
Kini Tiffany yang tampak berpikir. Dia teringat kembali bagaimana Juna menggendong Megan, bagaimana Juna meninggalkan dirinya bersama Jo di bandara, dan kemarin dia melihat Megan memeluk Juna dengan erat.
"Jun, aku juga tidak suka kamu dekat dengan Megan." ucap Tiffany akhirnya.
"Kamu akan tau sebentar lagi."
-
-
Mereka begitu serius bicara sampai tidak sadar jika seseorang mengamati mereka dari seberang jalan. Orang itu mengambil foto Juna dan Tiffany, lalu dia kembali menjalankan mobilnya.
__ADS_1