
"Jun,,Tiff.." panggil Jason yang terkejut saat melihat mereka berpelukan. Tim tidak pernah bercerita apapun tentang Tiffany, jadi dia pikir Tiffany masih lajang. Tentu saja Jason tampak kecewa dengan kenyataan yang ada di depannya.
Tiffany hendak melepaskan diri dari Juna, tapi sial, rambutnya malah tersangkut kancing kemeja Juna.
"Jun, ini ngangkut." katanya panik. Dia mencoba menarik rambutnya, tapi tidak berhasil.
"Kalian hanya datang berdua?" Juna tidak mempedulikan Tiffany karena dia ingin menginterogasi Jason.
"Tim pergi saat kami sampai di bandara." jelas Jason yang kini sudah berada di dekat mereka.
"Jun, tolongin.." rengek Tiff lagi.
"Saya harap anda mengerti dengan hubungan kami." jelas Juna. Sekali lihat saja, Juna tau jika Jason tertarik dengan Tiffany.
"Memangnya, kamu ada hubungan apa Tiff?"
"Daripada tanya itu, cepat bantu lepaskan rambutku." teriak Tiff.
"Kamu sangat lama. Sudah lah, nanti saja di mobil." Juna menggendong Tiffany ala bridal dengan posisi kepala Tiff yang masih menempel pada dada Juna.
"Junaaaaaaaa.." protes Tiff. Tapi Tiffany tidak dapat melakukan apapun karena jika dia bergerak, rambutnya bisa tertarik.
Tim yang baru saja datang, segera menahan Juna yang hendak pergi ke parkiran mobil.
"Ada apa ini Jun?" tanya Tim penasaran. Baru pergi sebentar saja, sudah terjadi drama korea yang begitu seru.
"Kamu harus jelaskan nanti, kenapa Tiffany bisa pergi dengan rambut landak itu!" "Satu lagi, tolong bilang ke dia, kalau Tiffany ini calon istriku."
Juna beranjak pergi karena dia tidak ingin Tiffany berteriak memprotes kata-katanya di depan mereka.
Tim mendekati Jason yang masih melihat kepergian Juna-Tiffany. Dia merangkulnya dengan prihatin.
"Sudah lah Bro.. Lawan kita itu berat.. Kita ga akan mampu." hibur Tim.
__ADS_1
"Kalau yang itu bagaimana?" Jason menunjuk dengan dagunya seorang wanita yang berjalan mendekati mereka.
Wanita itu sangat seksi dan langsing dengan balutan dress maroon.
"Hai Tim, kapan kamu kembali?" sapa Ericka ramah.
"Baru saja." Tim tidak dapat mengalihkan matanya dari Dokter cantik yang sudah lama tidak dia temui.
"Saya Jason, teman Tim." Jason mengulurkan tangan pada Ericka.
"Ericka, teman Tim juga." kata Ericka ramah.
"Er, nanti kita ngobrol lagi, kami sudah mau pulang." Tim yang masih merangkul pundak Jason, menarik paksa pria itu untuk pergi.
"Hey, aku belum selesai bicara sama dia." protes Jason.
"Sudahlah, kerja mu hanya melihat wanita cantik saja. Dia wanita aneh.. kamu jangan dekati dia." ucap Tim setengah berbisik.
"Kamu suka ya sama dia?" tuduh Jason yang melihat perubahan sikap Tim.
*
*
*
Sementara itu, Juna-Tiffany sudah sampai di dalam mobil. Sopir Juna begitu heran karena melihat Juna datang sambil menggendong Tiffany dengan mesranya.
"Apa maksud ucapanmu tadi." Tiff kembali mencoba melepaskan rambutnya yang tersangkut dengan lebih tenang.
"Yang mana?" kali ini Juna membantu Tiff dan ikut turun tangan juga.
"Calon istri!" Tiffany menekankan nadanya.
__ADS_1
"Ya, betul kan? Kamu ga mau?"
Tiffany berhasil melepaskan diri. Kini dia bisa menatap Juna dengan lebih leluasa. Apakah pria itu sedang melamarnya secara tidak langsung?
Tiffany membayangkan jika Juna akan berlutut di depannya dengan memberikan sebuah cincin yang indah sambil mengatakan,"will you marry me?"
"Jadi gimana?" ulang Juna dengan tidak sabar.
Ekspetasi dan realita selalu bertolak belakang. Tiffany harus sadar, jika realitanya, Juna melamar Tiffany saat rambutnya tersangkut kancing kemeja Juna.
"Diam berarti setuju." lanjut pria itu lagi.
"Jun, kamu selalu bertindak semaunya sendiri." ucap Tiff kesal. Dia ingat betul bagaimana Juna hanya memberinya opsi, 'jadi kekasih' atau 'langsung menikah'. Keadaan kali ini tidak jauh berbeda.
"Waktu anda habis. Kita akan tetap menikah." Juna tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi, kamu ga berikan aku cincin." Tiff menunduk sedih. Dia masih mengharapkan perlakuan romantis dari seorang Juna.
Juna mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya. Kotak itu sengaja dia bawa hari ini, karena Juna memang berniat segera melamar Tiffany setelah mereka bertemu kembali.
Tapi kehadiran Jason membuat segala rencananya berantakan. Kini Juna harus menerima jika dia melamar Tiffany di dalam mobil dengan disaksikan oleh sopirnya.
Tiffany sangat senang melihat sebuah cincin berlian yang di perlihatkan oleh Juna. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, saat Juna memakaikan pada jari manisnya.
"Makasi Jun.." Dia memeluk Juna lagi sambil menangis.
"Kenapa menangis? Apa cincin nya jelek?" Juna tampak khawatir karena wanitanya kini menangis.
Tiffany menggeleng. "Aku sangat bahagia, Jun."
Juna tersenyum. Dia mengusap air mata yang membasahi pipi Tiffany.
"Selamat Pak Juna, akhirnya anda akan menikah juga." ucap sopir Juna yang sejak tadi diam saja. "Tapi, ini kita harus pergi ke mana pak?" tanya nya bingung. Dia tidak berani menjalankan mobilnya karena Juna tidak memberikan perintah.
__ADS_1
"Kita ke rumah saja pak."
"Baik, pak. Siap meluncur." sopir Juna mulai menyalakan mobilnya. Tidak lupa dia mengubah posisi spion tengah supaya dia tidak dapat melihat kemesraan Juna dan Tiffany.