
Riko mengerahkan orang suruhannya untuk mencari orang bernama Yahya di gang kampung Soang. Tiga gang di sana sudah di kunjungi oleh kakek Wira dan tidak di temukan orang bernama Yahya. Dan kini orang suruhan Riko sudah bergerak di tiga gang lainnya, namun tetap masih belum juga ketemu.
Hampir satu minggu waktu yang di tentukan kakek Wira pada Riko untuk mencari orang bernama Yahya. Tapi sudah waktu yang di tentukan belum ketemu. Riko pun membuat laporan bahwa orang bernama Yahya tidak di temukan.
"Tuan, orang suruhan saya tidak menemukan orang yang anda cari. Sudah tiga gang di kampung Soang tidak ketemu juga." kata Riko.
"Apa dia pergi dari kampung itu?" ucap kakek Wira.
"Mungkin saja tuan, mereka pindah ke kampung lain. Dan warga di sana tidak mengenal orang bernama Yahya. Kebanyakan penduduk di kampung itu pendatang dan menetap setelah tiga tahun atau empat tahun di sana. Jadi, jika orang yang anda cari itu menginggalkan kampung itu setelah tujuh tahun itu. Pasti mereka tidak tahu." kata Riko memberikan analisisnya tentang pencariannya.
"Benar juga, kemungkinan dia pergi setelah tujuh tahun itu. Tapi kemana mereka pergi?" ucap kakek Wira.
Dia bukannya bingung di mana sahabatnya tinggal, atau anak dan cucunya. Tapi bagaimana dia akan mengenalkan gadis pada Leon, sudah satu minggu tidak menemukan gadis yang cocok untuk Leon. Tujuan dia hanya menghindarkan Leon dari Sherly, dengan begitu Leon akan tahu kemunafikan Sherly.
"Jika meminta pada kolega anda tuan, anaknya?"
"Aah, kupikir mereka akan sama saja. Manja pada Leon nantinya, ayahnya seorang pengusaha. Sudah pasti hidupnya akan glamor dan berfoya-foya. Aku pernah bertemu dengan beberapa kolega dan anaknya kebetulan datang ke kantornya. Meminta uang begitu banyak, apa itu. Apa mereka tidak mengerti dengan berusaha lebih keras." ucap kakek Wira.
Riko diam, dia memberi ide bukan itu sebenarnya, namun bosnya itu justru menolak usul itu. Dia pun berpikir lagi, namun agak ragu menyampaikannya.
"Tuan, apa saya boleh memberi ide untuk anda?" tanya Riko ragu.
"Ide apa?"
"Emm, ini memang terlalu sulit. Tapi rasanya jika di coba dulu, tidak apa. Dan bisa jadi kita akan bekerja sama dengan orang yang saya maksud tuan." kata Riko.
"Apqla maksudmu? Aku tidak mengerti, Riko. Jelaskan apa yang kamu pikirkan." ucap kakek Wira.
"Begini tuan, maafkan saya kalau ini terlalu sulit. Dan mungkin tidak memenuhi kriteria anda." kata Riko.
"Jangan berbelit-belit Riko, katakan saja. Jangan membuatku penasaran." ucap kakek Wira.
"Emm, bagaimana jika tuan Yahya tidak di temukan dan anak serta cucunya juga. Anda pasti tidak punya gadis lain yang di jadikan alternatif lain kan tuan?"
"Ya, lalu?"
"Luna, tuan. Gadis preman itu, dia sebenarnya cantik. Jika perawatan di salon dan di dandani serta memakai baju yang pantas, kurasa bisa untuk melakukan perjanjian dengan anda tuan." kata Riko.
__ADS_1
kakek Wira memikirkan apa yang di katakan Riko. Orang tua itu pun tersenyum, dia menatap Riko dan menjentikkan jari. Riko pun ikut tersenyum melihat sepertinya majikannya itu setuju dengan usulnya.
"Aku juga memikirkan gadis itu, tapi aku ragu untuk melakukannya. Dia seorang preman pasar, bahasanya kasar dan juga sering berkelahi tentunya. Jika di bawa ke salon dan di bawa ke mall, pasti kecantikannya terlihat. Juga belajar table maner yang akan kita datangkan gurunha untuk membantunya berubah jadi perempuan anggun dan elegan." kata kakek Wira.
"Jadi, anda setuju dengan usul saya tuan?" tanya Riko.
"Ya, karena pada dasarnya dia baik. Hanya lingkungannya yang seperti itu, kasar dan juga sering berkelahi." ucap kakek Wira.
"Lalu, kapan anda akan meminta pada gadis itu? Tentunya akan sulit untuk meminta padanya, atau memaksanya. Apa lagi waktu cuma satu bulan anda meminta pada tuan Leon kan." kata Riko.
"Ya benar, aku harus cepat bertindak. Dan coba kamu cari tahu bagaimana untuk membujuk dia agar mau menerima tawaranku." kata kakek Wira.
Riko tersenyum, dia pun menjelaskan bagaimana harus membujuk Luna. Dan itu harus punya trik agar Luna mau membantu kakek Wira. Bila perlu di beri imbalan uang untuk Luna.
_
Hanya satu bulan yang di tentukan kakek Wira pada Leon, karena dia sendiri yang mengatakan itu. Bahkan Leon tidak sabar ingin bertemu dengan gadis pilihan kakeknya itu. Dan kini kakek Wira akan membujuk Luna untuk membantunya.
Kini dia berada di depan pasar induk, menunggu Luna selesai mengerjakan tugasnya menagih iuran keamanan pada para pedagang. Tak lama, kakek Wiran melihat Luna keluar dari pasar sedang menghitung uang. Penampilannya memang seperti preman, dengan baju belel dan juga celana bolong.
Tak lupa topi dan rambut di kuncir, tanpa polesan make up Luna memang sangat cantik. Luna menghampiri dua orang temannya di jondol kecil dekat dengan parkiran.
"Lun, gue mau pulang dulu." kata Sapri yang tadi duduk di sebelah Luna.
"Hei! Lo kenapa sih, dari kemarin lo ngehindar dari gue terus. Ada apa sih lo?!" teriak Luna pada Sapri.
"Gue ngga ada apa-apa kok sama lo." ucap Sapri sambil berlalu.
"Ck, kalau ngga ada apa-apa. Seharusnya lo yang tugas tadi di pasar, minta iuran keamanan sama para pedagang." ucap Luna dengan kesal.
Sudah beberapa hari, Sapri menghindar dari Luna. Sekarang dia yang menagih iuran dari pedangang itu. Luna mendengus kesal, Sapri tidak menggubrisnya. Bobi pun datang dengan membawa kopi dan roti pesanan Luna, di letakkannya kopi itu di depan Luna.
"Lo kenapa Lun, bete banget kelihatannya." tanya Bobi.
"Gue kesal sama Sapri, dari kemarin dia menghindar terus dari gue." kata Luna.
Matanya menatap jauh ke depan, dia melihat orang yang dia kenal. Matanya menyipit, heran kenapa kakek Wira datang lagi ke pasar ini. Pikir Luna. Tapi, kenapa dia menuju ke arah Luna duduk, dan tersenyum pada Luna.
__ADS_1
"Hai Luna." sapa kakek Wira.
"Hai kakek Wira, mau belanja lagi?" tanya Luna mempersilakan duduk di jondol itu.
"Ngga, mau bertemu denganmu. Ada urusan penting." kata kakek Wira.
"Urusan penting?" tanya Luna heran, Bobi pun hanya mengedikkan bahunya. Tidak tertarik dengan urusan Luna dan kakek Wira.
"Apa bisa kakek ajak kamu keluar? Naik mobil kakek, Luna." kata kakek Wira.
"Mau kemana kek?" tanya Luna.
"Jika kamu mau, nanti di mobil kakek ceritakan masalah kakek ini." ucap kakek Wira sedikit di buat sedih raut wajahnya.
Luna diam, dia mempertimbangkan ucapan kakek Wira. Lalu dia menyerahkan sebagian uang hasil narik iuran pada Bobi.
"Bobi, ini uangnya bagi dua sama Sapri ya." kata Luna.
"Lho, Sapri kan pulang Lun. Dia juga ngga ngapa-ngapain sejak tadi." ucap Bobi.
"Udah, kasih aja uangnya bagi dua. Lo kalau kurang duitnya, nanti gue kasih." ucap Luna.
"Beneran?"
"Iya."
"Ya udah, sini."
"Gue mau ikut kakek Wira dulu, lo jaga di sini ya sampai sore."
"Iya. Lo mau sekalian pulang kan?"
"Iya."
Luna dan kakek Wira pun pergi dari Jondol tempat Luna dan kedua temannya itu biasa nongkrong. Dia ikut kakek Wira masuk ke dalam mobilnya, setelah Luna dan kakek Wira masuk. Mobil pun melaju pelan, memberi ruang berjalan pada pembeli yang mau berbelanja.
_
__ADS_1
_