Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
45. Di Apotik


__ADS_3

Luna dan Leon sedang memilih baju untuk bapaknya Luna, mertua Leon. Yang sejak menikah belum bertemu lagi, dia akan bersilaturahmi dengan mertua mantan premannya. Dengan santai dan senang, Leon juga membelikan Luna beberapa baju. Dia memgambil baju lingerie untuk Luna, dia ingin merayu Luna agar mau memakai baju transparan itu.


Malam pertamanya belum mereka lakukan, tapi Leon akan memintanya pelan-pelan pada istrinya itu. Karena dia tahu Luna sangat susah di taklukkan, jadi dia harus bersabar.


"Kamu milih baju apa?" tanya Luna pada Leon.


"Baju buat kamu." jawab Leon membayar baju yang dia pilih dan membayarnya langsung.


Luna cuek saja,dia tidak tahu kalau suaminya membeli lingerie untuknya. Mereka lalu kembali ke mobil dengan beberapa paperbag di tangan. Setelah memasukkan ke dalam bagasi, Leon masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke rumah Luna.


"Nanti mampir ke tukang martabak ya, gue pengen beli martabak buat bapak." kata Luna.


"Ya."


Leon pelan melajukan mobilnya, dan berhenti di persimpangan. Ada penjual martabak, Luna turun dari mobil Leon dan membeli martabak untuk bapaknya. Dia duduk menunggu martabaknya di layani.


Ada seorang laki-laki menghampiri Luna dan duduk di sebelahnya. Awalnya Luna biasa saja, tapi laki-laki itu mencoba menggoda Luna. Leon melihat istrinya di ganggu laki-laki lain pun kesal. Dia keluar dari mobil dan menghampiri istrinya dan berdiri dekat laki-laki yang mengganggu Luna.


"Udah sayang, martabaknya?" tanya Leon melirik laki-laki itu.


"Belum, itu sebentar lagi selesai." jawab Luna.


Laki-laki yang tadi menggoda Luna pun pergi dari sana, Leon hanya tersenyum sinis melihat dia pergi. Maklum saja, Luna memang cantik dan berpakaian rok lebar dan gaun. Kesan seorang gadis benar-benar terlihat sekali.


Tidak seperti biasanya dia memakai celana jeans dan kaos saja lalu memakai topi. Setelah selesai, Luna dan Leon masuk lagi ke dalam mobil dengan menenteng martabak.


"Bapak sudah pulang belum ya?" ucap Luna.


Karena biasanya Jack pulang setelah magrib, baru dia pulang. Ini baru sore jam lima, jadi mungkin masih di tempat parkiran depan mall. Meski di dalam mall sendir ada parkiran khusus, tapi pengunjung mall kadang ingin memarkirkan motornya di luar.


Alasannya terlalu mahal mereka membayar uang parkir. Kalau di luar biasa mereka membayar parkir hanya dua ribu rupiah saja.


"Memang bapak kerja di mana?" tanya Leon.


"Di parkiran mall Kencana biasanya, atau di depan apotik Sejahtera." jawab Luna.


"Ya udah, kita ke bapak aja." kata Leon.


"Eh? Lo yakin ngga malu ke tempat bapak kerja? Bapakku tukang parkir, bukan bos." kata Luna.


"Ya, emang kenapa kalau tukang parkir? Yang penting bapak bukan maling kan? Atau pencopet." kata Leon, membuat Luna menggeleng heran.


"Gue ingat lo pernah ngga setuju, bahkan lo memghina pekerjaan bapak dan gue juga kan. Kenapa sekarang jadi cuek begitu?" tanya Luna curiga.

__ADS_1


"Kapan aku menghina pekerjaan kamu dan bapak?" tanya Leon, dia hanya mengumpat dalam hati pekerjaan Luna dan bapaknya, tidak secara langsung.


"Dari sikap lo itu. Gue tahu lo menghina pekerjaan gue dan bapak gue." kata Luna menebak isi hati Leon.


"Ck, aku ngga menghina. Tapi heran aja, kamu kok perempuan cantik. Masa ikut jejak bapaknya sih? Itu aja yang aku pikirkan." kata Leon.


"Ish! Itu sama aja lo menghina gue." kata Luna.


Leon membelokkan mobilnya menuju mall Kencana, menjemput bapaknya Luna bekerja. Tal lama mereka pun tidak menemukan Jack, akhirnya pergi ke apotik Sejahtera seperti apa yang di katakan Luna tadi. Dan benar saja, di sana bapaknya Luna sedang mengatur mobil yang baru masuk ke dalam apotik.


Leon berhenti di pinggir jalan. Dia melihat dalam mobil itu keluar seorang gadis yang dia kenal menuju apotik. Luna turun dari mobil, namun di cegah oleh Leon.


"Kenapa?"


"Tunggu, ada Sherly di apotik itu." kata Leon.


Luna pun melihat ke arah apotik. Sherly tampak memakai kacamata hitam dan memakai topi lebar, dia membeli sesuatu di apotik. Entah beli apa.


"Lo hafal banget ya mantan pacar lo itu? Jangan-jangan lo masih suka lagi sama dia?" tanya Luna meledek.


"Haish! Kenapa larinya kesitu terus sih. Aku hanya tidak mau kamu ribut sama dia di depan bapak kamu. Kamu mau ribut dan di tonton banyak orang?"


"Ngga!"


"Tahu banyak ya." sindir Luna.


"Ya jelaslah, aku lama pacaran sama dia. Tapi yang jelas, aku tidak pernah melakukan apa-apa. Mungkin memang aku bodoh, tapi kali ini aku sadar berkat kamu istriku sayang." kata Leon menggoda Luna.


Dia memajukan wajahnya, membuat Luna mundur cepat kepalanya. Leon tertawa senang, dia berpikir Luna sedang cemburu.


"Kamu kalau cemburu, bilang aja. Jangan sindir-sindir begitu." kata Leon dengan senyum kemenangan.


"Ih, narsis! Udah gue turun, tuh mobilnya udah pergi." kata Luna, tapi pipinya merah.


Leon tertawa senang, ternyata menggoda Luna itu sangat menyenangkan. Dia pun ikut turun, menghanpiri bapak mertuanya. Jack kaget anak dan menantunya datang menghampirinya.


"Kamu kenapa kemari, Luna?" tanya Jack melirik pada Leon.


"Jemput bapak. Bapak udah selesai kerjanya?" tanya Luna duduk di teras.


"Sebentar lagi. Tapi kenapa sama suamimu juga?" tanya Jack.


"Dia mau ikut pak, ya udah kita kesinu jemput bapak sekalian." jawab Luna, Leon hanya tersenyum saja.

__ADS_1


"Ya sudah, kita pulang aja. Biar nanti yang nerusin kerjaan bapak si Wanto. Tunggu sebentar, dia lagi beli kopi." kata Jack.


"Iya."


Tak lama, Wanto pun datang membawa dua gelas kopi. Dia melihat anaknya Jack duduk di samping bapaknya.


"To, gue mau pulang. Tuh di jemput sama mantu dan anao gue." kata Jack pada Wanto.


"Oh ya bang, terus ini kopinya gimana?" tanya Wanto.


"Lo minum aja kopinya, nih uang buat bayar kopinya." kata Jack menyerahkan uang sepuluh ribu pada Wanto.


"Udah di bayar bang kopinya, lagian kopinya cuma tiga ribu kok." kata Wanto.


"Ngga apa-apa, buat jajan anak lo. Dan nih, gue tambahin lagi." kata Jack lagi menyerahkan uang sepuluh ribu lagi.


"Waah, makasih bang. Bang Jack baik banget." kata Wanto.


"Ya udah, gue pulang ya. Besok lo aja yang jaga parkir di sini, gue ke depan mall Kencana jadwalnya." kata Jack.


Membuat Leon tersenyun tipis, lucu juga bapaknya Luna. Punya jadwal kerja di dua tempat, tapi dia memang salut pada preman yang baik. Kekeluargaannya sangat baik, kompak jika menolong orang tidak perhitungan.


"Ayo Luna, bapak naik motor aja. Kamu mau ikut bapak atau sama suamimu?" tanya Jack.


"Sama bapak aja, bonceng di belakang."


"Ngga bisa, kamu harus ikut di mobilku." kata Leon dengan cepat menolak mertuanya mengajak istrinya.


"Ish! Kenapa ngga boleh.".


"Kamu temenin aku di mobil, bapak bisa kok jalan sendiri." kata Leon.


"Ya udah, benar Luna. Kamu naik mobil aja, bapak naik motor sendirian. Lagian kalian mau ke rumah bapak kan?" kata Jack.


"Iya."


Akhirnya Luna menurut, tapi dia melirik tajam pada Leon. Leon hanya diam saja, dia tidak mau istrinya terkena debu. Sayang kulitnya yang mulus, dia belum merasakan memegang lebih lama dan puas kulit Luna. Apa lagi membobol gawangnya Luna, Leon semakin penasaran saja.


_


_


__ADS_1


__ADS_2