Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
31. menjemput Luna


__ADS_3

Riko segera pergi ke hotel di mana Loen dan Luna menginap untuk bulan madu. Semuanya berantakan entah siapa yang memulai, tapi justru itu memang tidak akan terjadi. Malam pertama antara Leon dan Luna,.


"Kasihan sekali nona Luna, di tinggalkan sendirian di hotel. Bagaimana bisa dia beradaptasi di hotel mewah itu, apa yang akan dia lakukan di sana. Sedangkan semuanya pasti serba tidak tahu." gumam Riko.


Saat memasuki parkiran depan, petugas palet menunggunya. Riko memberikan kunci mobil pada petugas palet itu, lalu dia masuk ke dalam hotel. Menuju resepsionis dan bertanya tentan pengunjung hotel bernama Leon.


Awalnya susah sekali, tapi akhirnya berhasil mendapatkan nomor kamar dan kunci. Tapi, kenapa harus di kunci?


"Ah ya, nona Luna tidak ada di kamarnya. Begitu kata tuan Leon, tapi kemana dia." gumam Riko.


Akhirnya, dia kembali ke resepsionis lagi. Bertanya tentang Luna, gadis yang bersama Leon. Petugas itu memeriksa di daftar tamu.


"Namanya nona Laluna kan tuan?" tanya petugas resepsionis itu.


"Ya, Laluna."


"Tapi ada sama tuan Leon, suaminya." katanya lagi.


Riko bingung, bagaimana mencari Luna di hotel itu. Dia lalu mengeluarkan ponselnya, mencari foto Luna yang sempat dia abadikan di ponselnya ketika ada di pelaminan dengan Leon. Riko menunjukkan foto Luna itu pada petugas.


"Apa nona tahu orang ini? Namanya Luna, barangkali dia sering lewat atau keluar barangkali dan nona sempat melihatnya." kata Riko.


"Saya tidak tahu, tuan. Mungkin petugas kebersihan kamar tahu orang yang anda maksud itu."


"Oh ya, benar. Kalau begitu saya akan tanya pada petugas keberishan kamar." kata Riko.


Dia lalu pergi menuju lift mencari petugas kebersihan. Bertanya apakah pernah melihat Luna. Dan kebetulan dia bertemu petugas kebersihan yang hendak keluar untuk membuang sisa sampah keluar gedung hotel yang dekat parkiran bagian dalam, Riko pun bertanya sambil menunjuk foto Luna.


"Mas, apa pernah melihat gadis ini?" tanya Riko.


Petugas kebersihan itu memperhatikan wajah Luna yang di rias pengantin. Ada keraguan, tapi dia menggeleng.


"Saya tidak tahu tuan."


"Kamu perhatikan saja wajahnya, wajahnya tidak jauh beda jika tidak di rias." kata Riko lagi.


"Tadi pagi sih saya melihat gadis yang memang mirip dengan wajah itu. Dia sedang ke kamar mandi di belakang gedung, dia memakai topi dan kaos saja dan celana jeans pendek." kata petugas itu.


"Oh ya? Di mana dia?"


"Tapi, apa benar itu orangnya? Soalnya sangat beda sekali, dia seperti tukang parkir. Dan katanya dia tukang parkir di parkiran dalam."


"Tukang parkir?"


"Iya, dia tukang parkir baru sejak kemarin sore. Kata mas Jojo penjaga palet di depan itu, gadis itu minta jadi tukang parkir untuk dapat uang. Dan uangnya untuk ongkos pulang. Kata manajer di suruh kerja di bagian dapur, dia tidak mau. Akhirnya hanya di beri waktu sampai sore ini, dia harus pergi dari parkiran hotel." kata petugas kebersihan itu.

__ADS_1


"Oke, terima kasih informasinya." kata Riko.


Dia lalu segera kembali ke depan, bertanya pada petugas palet yang bernama Jojo.


"Selamat siang tuan, anda mau keluar? Saya keluarkan mobilnya dari parkiran." kata Jojo.


"Tidak, saya hanya ingin menemui gadis yang katanya jadi tukang parkir di hotel ini." kata Riko.


"Gadis tukang parkir?"


"Ya, kamu tahu dia kan?"


"Dia mengaku dari jauh, dan ingin pulang kampung. Butuh ongkos pulang karena tidak punya uang, jadi saya perbolehkan dia menjadi tukang parkir di sini."


"Ya, saya tahu. Di mana dia?" tanya Riko tidak sabar.


"Anda mau apa?"


"Katakan saja di mana dia?!" ucap Riko kesal.


"Dia di parkiran belakang tuan." kata Jojo petugas palet.


Riko menuju parkiran, dari jauh dia melihat seorang gadis memakai topi dan rambut di kuncir kuda sedang memandu mobil yang mau keluar dari tempat parkir. Dan Tidak salah lagi, itu memang Luna, Riko pun mendekat.


Berjalan cepat menghampiri Luna, dia belun sadar jika Riko mendekat padanya.


Luna menoleh, melihat siapa yang datang padanya. Dia mau pergi, tapi di urungkan.


"Mau apa pak Riko?" tanya Luna.


"Ayo kita pulang ke rumah tuan Wira." kata Riko.


"Mau apa aku datang kesana? Tempatku di rumah, sore ini aku juga mau pulang ke rumah bapak." kata Luna.


"Nona sudah menikah, suami nona tuan Leon menunggu anda di rumah kakeknya." kata Riko berbohong.


"Menungguku? Untuk apa?"


"Pulanglah dulu nona ke rumah tuan Wira, nanti di sana tuan Wira akan menjelaskannya pada nona." kata Riko lagi.


Luna diam, dia mendengus kesal. Padahal dia sangat senang bisa dapat uang banyak dari parkiran. Hampir dua juta dalam satu hari itu, jika mengatur parkiran di pasar paling banyak dapat dua ratus ribu.


"Nona, ayo pulang ke rumah tuan Wira. Jika nona tidak pulang, saya yang akan di marahi tuan Wira." kata Riko lagi.


"Dan kamu di pecat?" kata Luna.

__ADS_1


"Bisa jadi, makanya tolong saya nona. Ayo kita pulang ke rumah kakek Wira ya." kata Riko membujuk Luna lagi.


"Baiklah, lagi pula. Aku sudah dapat uang banyak di parkiran ini." kata Luna.


Riko diam, melihat Luna sepertinya menghitung uang hasil mengatur parkir dari dalam kresek hitam di tangannya.


"Dapat berapa nona?" tanya Riko.


"Lumayan, satu hari dari kemarin sore itu total semuanya dua juta." jawab Luna dengan senang hati.


Riko tersenyum, dia lalu mengajak Luna keluar dari parkiran dan segera masuk ke dalam mobilnya. Luna sendiri masih menghitung uang tadi hasil parkir, dan baru saja mau menjalankan mobilnya, Luna pun menghentikannya.


"Pak Riko tunggu." kata Luna.


"Ada apa lagi?" tanya Riko.


"Saya mau kasih uang dulu sama bang Jojo. Uang hasil parkir kan harus di bagi dua, jadi saya turun kasih uang dulu sana bang Jojo." kata Luna.


"Kan itu hasil kamu, kenapa harus di bagi dua?" tanya Riko.


"Ngga pak Riko, ngga boleh serakah. Harus di bagi dua, tunggu sebentar ya." pinta Luna,


Riko pun mengangguk. Dia kagum pada sisi baik Luna seperti itu, pantas saja kakek Wira majikannya memilih Luna sebagai menantunya. Karena gadis itu tidak pernah serakah dengan apa yang dia dapatkan.


"Gadis itu memang tidak serakah, pantas saja tuan Wira menjadikannya istri Leon. Dia hanya butuh bimbingan untuk bertindak dan bersikap lebih baik. Jika sudah bersikap serakah, maka akan sama saja dengan gadis model itu." gumam Riko.


Tak berapa lama, Luna pun masuk lagi ke dalam mobil Riko. Dia tertawa kecil pada Riko.


"Maaf ya pak Riko, heheh."


"Sudah? Berapa kamu kasih dia?"


"Separonyalah. Satu juta." jawab Luna.


"Apa? Kenapa separuhnya."


"Kan memang begitu, harus du bagi dua. Saya di pasar juga begitu dengan Boby. Siapa yang bekerja, gantian dan hasilnya di bagi dua. Kalau ada tiga orang, ya di bagi tiga juga." jawab Luna.


Riko tersenyum, dia benar-benar kagum. Memang terkadang pekerjaan orang terlihat hina. Tapi kekompakan mereka sangat tinggi, dan jiwa solidaritasnya juga tinggi.


Riko lalu menjalankan mobilnya, dia masih saja ingat dengan ucapan Luna. Jika bukan istri dari cucu majikannya itu, dia akan mendekatinya.


Eh?


_

__ADS_1


_



__ADS_2