Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
60. Obrolan Di Ranjang


__ADS_3

Setelah bergumul di ranjangnya, Luna dan Leo kini tertidur dalam keadaan polos. Mereka menikmati malam dengan penuh cinta. Luna yang dulunya gadis kasar tapi baik hatinya, kini akan menjadi ibu di usianya yang masih muda dua puluh satu tahun kurang sedikit lagi. Leon semakin mencintai istrinya itu yang sedang mengandung anaknya kembar empat.


Meski sedang hamil, Leon selalu merayu Luna untuk bisa melayaninya di ranjang. Apa lagi bermain slime miliknya yang semakin besar saja karena hamil. Dia membuka matanya, menatap istrinya yang tidur tidak bisa ganti posisi. Hanya bisa miring menghadapnya, di ganjal perutnya dengan bantal agar bisa bernafas dengan baik.


Leon tersenyum, menatap wajah istrinya yang kelelahan lalu mengecup bibirnya lembut dan pelan. Senyumnya masih mengembang di bibirnya, tangannya membelai pipi yang sudah terlihat chuby sejak usia kandungan tiga bulan.


"Aku benar-benar sayang sama kamu dan bayi-bayi kita, sayang. Cup." ucap Leon pelan dengan mengelus pipi istrinya.


Karena terganggu dengan sentuhan tangan dari suaminya, Luna membuka matanya pelan dan menguceknya dengan tangannya. Menatap balik pada suaminya itu.


"Ada apa? Kamu belum tidur?" tanya Luna pelan.


"Aku sedang mengagumimu, maaf kalau terganggu tidurmu sayang." kata Leon.


Dia merapatkan tubuhnya agar bisa memeluk Luna lebih rapat.


"Iiiih, sesak tahu. Ini aja udah engap nafasnya, kamu dekat-dekat gini tidurnya." ucap Luna seperti biasanya dia bicara.


"Ish, aku pengen dekat sama kamu." kata Leon.


"Aaah, itu sosis gosongnya tegang lagi. Udah sana jauh-jauh. Nanti minta jatah lagi, aku capek!" kata Luna menggeser mundur tubuhnya.


"Hahah, dia mau lagi. Yuk, eksekusi." rayu Leon.


"Kagak! Aku capek. Yang enak kamu, aku yang capek." kata Luna ketus.


"Sebentar aja sayang, ya?"


"Kagak mau, atau aku potong ini sosisnya?!"


"Ya, ngga boleh. Nanti kita ngga bisa goyang inul lagi, sadis banget sih sayang." kata Leon.


"Ya makanya, jangan bangunin penjagal tidur. Bisa-bisa di potong itu sosis. Cukup sekali aja sehari, itu juga kagak baik setiap hari minta jatah. Untung si kwartet tidak rewel. Kalau rewel, aku yang repot. Mana ada kamu ngerasain rewelnya kwartet." kata Luna dengan bersungut-sungut.


"Iya ngga, aku cuma mau peluk kamu aja kok. Sini lagi, dekat sama papi ya kwartet." kata Leon menarik tubuh Luna pelan.

__ADS_1


Mau tidak mau Luna pun mendekat, tubunya yang berat pada suaminya. Leon memeluk istrinya itu, membelai punggungnya yang polon dengan pelan. Mencium ujung kepalanya, dia benar-benar bahagia dengan Luna di sisinya.


"Emm, kata kakek minggu depan kita mau mengadakan tujuh bulanan." kata Leon.


"Ya, kakek juga bilang kok sama aku." ucap Luna, tangannya di pinggang Leon.


"Jadi, kamu ngga apa-apa kalau acara tujuh bulanan di adakan secara meriah?" tanya Leon.


"Ya ngga apa-apa. Kan semua tetangga aku di undang, bapak juga bawa beberapa temannya."


"Iya sih, tapi kakek juga mengundang teman-temannya dan juga rekan bisnisnya dulu. Kamu nanti gimana?"


"Apanya?"


"Ya, kan kakek mengundang rekan bisnisnya. Pasti bawa istrinya juga. Aku takut kamu nanti malu." kata Leon hati-hati bicara pada istrinya itu.


Karena mereka berdua dari kalangan yang berbeda, pastinya akan ada orang atau istri rekan bisnis kakeknya yang mencibir Luna. Dia tidak mau itu, dan Luna harus bisa dia lindungi. Makanya dia tidak mengundang klien dan rekan bisnis yang biasa dia ajak kerja sama.


"Memang nanti aku harus lepas baju gitu di acara tujuh bulanan?" tanya Luna membuat suaminya itu tersenyum.


Mereka tenggelam dalam ciuman mesra dan berubah jadi bergairah. Ini kesempatan bagi Leon, dia terus membuai istrinya dan tangannya sudah lari ke bagian favoritnya. Slime milik Luna dia remass dengan pelan, sedangkan Luna masih asyik dengan pikirannya yang bergaiah.


Kini Leon sudah berada di atas Luna, Luna sepertinya sudah mau dan siap di eksekusi, namun perutnya bergejolak. Tegang, Luna pun kaget. Dia mendorong suaminya yang siap untuk bertempur kembali.


Bug!


"Aaaaw!"


"Aduuuh, perutku!" teriak Luna.


"Sayang, kenapa? Kwartet rewel lagi?" tanya Leon panik.


"Iya, kali. Dia ngga mau papinya nengokin lagi. Uuuh, sakit banget." ucap Luna memegangi perutnya yang keras itu.


Leon tertegun, dia menarik nafas kasar. Akhirnya dia gagal juga dapat jatah diri istrinya, menoleh ka arah Luna yang memejamkan matanya dan menggigit bibirnya menahan kram. Leon mendekat, dia memeluk Luna dan mengelus perutnya pelan.

__ADS_1


"Sayang, maafin papi. Papi ngga jadi nengokin kalian. Jangan tendang bubun lagi." kata Leon.


Luna diam, dia tersenyum kecil. Merasa nyaman tangan Leon mengelus perutnya dengan pelan dan lembut.


"Setelah tujuh bulanan, nanti peresmian toko baju kamu. Tempatnya sedang di perbaiki. Riki yang bertanggung jawab, dan Dewi yang ngatur semua apa yang akan di jual dan di pajang di sana. Kamu tinggal lihat aja dan meresmikan tokonya." kata Leon.


"Benarkah? Kok kamu baru bilang sih sama aku." kata Luna cemberut.


"Biar kamu ngga capek. Pasti kamu ikutan kesana kemari, jadi biar mereka berdua yang mengurus. Kamu bisa kok datang kesana kalau sudah jadi, dan mengontrol yang ada di sana." kata Leon lagi.


"Terima kasih, kamu mau buatkan toko untukku. Kamu tahu kan kalau Dewi itu mau di ajak sama bosnya ke hotel, mau di ajak kuda-kudaan. Bosnya kan udah punya istri, masih aja genit." kata Luna.


"Ya, biar kamu juga bisa ada kegiatan nantinya. Ngga usah mikir ke pasar lagi ketemu di Boby."


"Ish, kan dia juga temanku." kata Luna.


"Ajak aja di Boby jadi pelayan di toko kamu nantinya, biar jangan jadi preman pasar lagi." kata Leon mengusulkan.


"Nanti di pasar ngga ada yang nagih iuran keamanan. Para pedagang di sana ngga keberatan kok di mintai dua ribu setiap hari buat keamanan pasar."


"Tapi kan ada juga yang memberatkan, pedagang kecil yang penghasilannya pas-pasan itu berat sayang."


"Kalau pedagang kecil ngga di mintai uang iuran, kita juga tahu kok pedagang kecil itu ngga banyak untungnya."


"Tapi tetap aja, udah si Boby suruh ke toko aja jadi pelayan. Biar karirnya meningkat dari preman sekarang meningkat jadi pelayan toko." kata Leon.


Dia mempercayakan semua teman-teman istrinya yang mengelola termasuk pegawainya juga. Luna tersenyum, benar juga. Biar ada peningkatan karir, benar menurut suaminya itu.


Malam semakin larut, mereka akhirnya tertidur dengan posisi Leon memeluk Luna dari belakang, karena tidak bisa merapat dan tangannya juga lebih leluasa memegangi slime milik istrinya.


_


_


__ADS_1


__ADS_2