Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
26. Leon Bohong


__ADS_3

Leon begitu kesal dengan semua rencana kakeknya itu. Dia tidak menyangka akan menikah minggu depan dengan Luna si gadis preman pasar. Dalam kamarnya dia terus mondar mandir memikirkan bagaimana nanti mengatakan pada Sherly, pacarnya.


"Aku benar-benar kesal sama kakek, kenapa menyetujui pernikahan mendadak itu. Bagaimana aku harus mengatakan pada Sherly, kalau minggu depan tidak bisa menemaninya pergi ke Singapura." ucap Leon masih terus momdar mandir di kamarnya.


Dia melihat ponselnya, belum ada panggilan dari kekasihnya. Biasanya jika sudah malam, Sherly akan menghubunginya. Mengobrol dengan santai.


"Syukurlah dia tidak menghubungiku. Aku bingung untuk memberitahunya kalau Minggu depan tidak bisa menemaninya seleksi kontes model." ucap Leon bicara sendiri.


Tapi baru juga berhenti dan dia akan pergi ke kamar mandi, ponselnya berdering. Nada dering khusus untuk telepon Sherly masuk itu membuat Leon bingung. Dia kembali ke ranjangnya, melihat nama Sherly di sana. Ragu dia menjawab, tapi akhirnya dia menjawab juga telepon dari Sherly.


"Halo sayang?" jawab Leon.


"Halo juga Leon sayang, kamu sedang apa?" tanya Sherly di seberang sana.


"Aku mau mandi, badanku lengket. Ada apa kamu menelepon?" tanya Leon pura-pura tidak ingat.


"Lho, kok tanya. Kan biasanya jam segini aku telepon kamu. Kenapa kamu lupa sih?"


"Hahah! Maaf sayang, aku tadi habis ngobrol sama kakek, jadi masih ingat ucapan kakek." kata Leon berbohong lagi.


"Ish, kamu tuh kalau sudah ngobrol sama kakekmu. Aku di lupakan." kata Sherly merajuk.


"Hahah! Itu masalah perusahaan saja sayang, kakek menanyakan masalah keuanganku. Jadi aku sedang mengingat-ingat keuanganku." kata Leon kembali berbohong.


Padahal dia sedang menghindari Sherly bertanya tentang pergi ke Singapura. Dan benar saja, Sherly pun bertanya.


"Ooh, jadi masalah uang kamu. Aman kan sayang keuanganmu?" tanya Sherly.


"Aman kok. Tenang aja."


"Jadi, aman kan kamu ikut denganku ke Singapura, aku mau belanja baju buat peragaan model di Bogor, ada fashion week di sana. Jadi aku mau yang terbaru, kamu udah janji ikut ke Singapura. Mengantarku ikut seleksi kontes model." kata Sherly merayu Leon.


Ini yang Leon bingungkan. Sejak tadi dia melamunkan itu, batal ikut pergi ke Singapura karena mau menikah dengan Luna. Menikah dadakan tentunya, membuat dia jadi kesal.

__ADS_1


"Leon, kok kamu diam sih?"


"Emm, sebenarnya aku minta maaf sayang. Aku tidak bisa mengantarmu ikut seleksi kontes model di Singapura. Kakek memintaku untuk menemaninya menemui seseorang." kata Leon kembali berbohong.


Sudah beberapa kali dia berbohong pada Sherly, dan Sherly di seberang sana sangat kecewa. Batal sudah Leon membelikannya barang-barang mewah di Singapura. Dia pasti akan mengeluarkan uangnya sendiri untuk membeli barang-barang itu.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan kakekmu?" tanya Sherly.


"Kan aku sudah bilang, mengantar kakek ke rumah seseorang. Aku tidak tahu siapa dia." kata Leon lagi.


"Itu pasti orang yang akan kekakmu jodohkan kan?" tanya Sherly.


Leon diam, bukan hanya menemuinya saja. Tapi akan menikahinya, rasanya dia berat mengatakan akan menikah dengan gadis pilihan kakeknya.


"Leon, kenapa diam? Benarkan kamu mau menemui gadis yang akan menikah denganmu?"


"Iya, kamu tidak keberatan kan?" tanya Leon


Kini Sherly yang diam, dia mengepalkan tangannya di seberang sana. Merasa kesal sekali kalau semua niatnya memanfaatkan Leon selali saja di gagalkan kakeknya. Baginya, Leon adalah ATMnya. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun, dia harus bersabar untuk dapat selalu bersama Leon.


"Sherly? Kamu marah padaku?" tanya Leon.


"Aku marah Leon, tapi aku sendiri yang menyetujuinya. Bagaimana pun aku harus terima semuanya, tapi kamu harus janji Leon. Janji akan selalu mencintaiku dan selalu jalan denganku, menuruti kemauanku. Apa kamu janji?" kata Sherly.


"Tentu sanyang, aku janji. Karena aku sangat mencintaimu."


"Terima kasih Leon. Emm besok bisa kan kita jalan-jalan? Seperti biasa." kata Sherly.


"Besok hari Senin, jadwalku padat di kantor kalau hari Senin dan Selasa. Kamu kan tahu sendiri kalau Senin dan Selasa itu aku sibuk. Maaf, aku tidak bisa pergi jalan-jalan denganmu."


"Lalu, kapan bisa jalan-jalan denganku? Aku ingin pergi ke mall, menghilangkan rasa kecewaku dan rasa stres mikirin pekerjaan Leon. Apa kamu ngga kasihan sama aku?" rayuan maut Sherly meluncur pada Leon.


Leon diam, dia merasa bersalah telah mengecewakan gadis yang dia cintai itu. Tapi bagaimana lagi, itu tidak bisa di bantah. Dan jalan satu-satunya yaitu menenangkan Sherly agar hilang rasa kecewanya dengan menuruti kemauannya.

__ADS_1


"Leon?"


"Baiklah sayang, nanti aku kabari kamu jika waktuku senggang. Karena biasanya ada saja pekerjaan yang mendadak." kata Leon.


"Kamu cari saja asisten untuk membantu pekerjaanmu, Leon. Selalu saja jika aku ajak pergi jalan-jalan kamu tidak bisa, karena ada pekerjaan yang mendadak. Waktuku sama kamu jadi berkurang karena pekerjaanmu itu." kata Shelry protes.


Dia tidak bisa pergi dengan Leon sekarang, tidak seperti dulu sebelum kakeknya Leon mau menjodohkan Leon dengan gadis pilihannya.


"Nanti aku bilang sama kakek, biar di carikan asisten untuk membantuku bekerja. Seperti kakek yang punta asisten Riko. Kamu tenang aja sayang, emm kalau begitu hari Kamis kita jalan-jalan ke mall. Bagaimana?"


"Kamis ya? Kalau Kamis aku ada pemotretan sampai malam, Leon. Bagaimana hari Sabtunya? Katanya kamu hari Minggu kan pergi ke rumah gadis pilihan kakekmu?"


"Iya sih, tapi kalau hari Sabtu kadang juga tidak terduga. Jum'at aja ya. Bisa dong sayang, aku juga kangen sama kamu."


"Ya udah, tapi sore ya. Aku pemotretan pagi, dan latihan untuk seleksi kontes di Singapura. Waah, ternyata aku lupa, dari hari Rabu aku sibuk juga sampai hari Minggu itu. Latihan untuk seleksi kontes. Maaf Leon, kayaknya ngga jadi deh jalan-jalannya soalnya padat banget satu minggu ini. Paling besok aku ada waktu luang." kata Sherly.


"Ya, jadi satu minggu ini kita tidak bisa ketemu?" tanya Leon, dia yang kini kecewa.


"Iya, maafkan aku. Tapi setelah pulang dari Singapura, aku hubungi kamu deh. Kita buat rencana lagi untuk jalan-jalan menghabiskan waktu berdua. Bagaimana?"


"Ya udah, begitu juga tidak apa."


"Oke, aku tutup teleponnya ya sayang. Produserku sedang menunggu mau membicarakan pekerjaan dan pendaftaran seleksi untuk ke Singapura."


"Ya, baiklah. I love you sayang."


"Love you juga Leon."


Klik!


Sherly mematikan sambungan ponselnya, Leon menghela nafas panjang. Satu minggu ini dia tidak bertemu Sherly, dia lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi yang tadi terhenti karena telepon dari Sherly masuk.


_

__ADS_1


_



__ADS_2