
"Iih, kakek tahu aja deh ya kalau nona Luna ini sangat cantik. Apa kakek mau menikahi gadis polos ini?" tanya penjaga salon itu mengaku bernama Meri.
"Dia cucuku, mana ada aku menikahi cucuku sendiri." kata kakek Wira dengan santai.
"Ooh, kirain calon istri muda kakek. Ahhahah!" kata Meri dengan tertawa kencangnya.
Membuat seisi salon itu melihat ke arahnya, merasa heran. Namun kemudian Meri menutup mulutnya, laki-laki gemulai itu pu meneruskan make up pada Luna. Luna malas untuk menolak lagi, karena Meri lebih garang dari yang dia duga. Suara basnya akan keluar jika sudah jengkel pada pelanggan yang berulah.
"Bagus nona Luna, anda jadi penurut sekarang ya." ucap Meri.
"Ya, saya takut suara auman macan keluar lagi." ucap Luna pasrah.
"Hahah! Suara saya seksi nona, semuanya pasti akan terkejut karena suara seksi saya. Hahah!"
"Pastilah, mereka takut dengan suara aumanmu." ucap Luna lagi.
"Haish, kamu nona cantik ucapanmu bikin sakit hati. Ya sudah, kamu selesai di dandani. Bikin ilfil aja nona Luna. Huh!." ucap Meri melangkah pergi menuju pelanggan lain dengan langkah gemulainya.
"Sudah Meri?"
"Sudah kakek, cucumu itu tajam ya mulutnya." kata Meri.
"Jangan di ambil hati, dia baik sebenarnya." kata kakek Wira.
Luna pergi dari salon dengan kakek Wira, mereka naik mobil menuju suatu tempat.
"Apa kita langsung bertemu dengan cucu kakek itu?" tanya Luna.
"Kita cari baju untukmu."
"Apa?"
"Baju yang pantas."
"Tapi kek, ini saja saya sudah risih banget. Kenapa harus ganti baju?" ucap Luna.
"Ingat yang kakek katakan? Cucuku itu tidak mau kamu terlihat tidak rapi, setidaknya bertemu dengan orang harus rapi." kata kakek Wira.
"Haish, ribet banget sih. Ketemu orang harus dandan, harus rapi. Nanti lama-lama gue kayak ondel-ondel." gerutu Luna.
__ADS_1
Dia menyesal ikut dengan ucapan kakek Wira, melirik pada laki-laki tua yang kini sudah duduk santai di sampingnya. Sebenarnya dia tidak ingin mengurusi hal seperti itu, pergi ke salon, membeli baju untuk Luna. Tapi ini demi kelancaran rencananya, menjauhkan Sherly dari Leon.
Jika suatu hari Leon jatuh cinta sama Luna, itu bonus juga. Toh sekarang Luna belajar jadi gadis cantik dengan perawatan di salon dan juga memakai baju yang pantas. Begitu pikir kakek Wira, dia lupa Luna itu siapa. Gadis preman yang sewaktu-waktu akan marah dan meledak jika kebebasannya di atur.
_
Siang ini, kakek Wira mengajak Luna makan di restoran. Tidak terlalu mewah, tapi ada juga tempat lesehannya agar lebih santai. Kakek Wira memesan tempat lesehan privat, agar mereka hanya bertiga saja. Kakek Wira bisa saja makan di restoran mewah, tapi dia tidak ingin Luna tidak nyaman.
Sejak membeli baju di suruh memakai dres, Luna tidak mau. Dia ngotot mau pakai celana jeans dan kaos polos, dan akhirnya kakek Wira pun mengalah. Kini Luna memakai celana jeans dan kaos oblong lalu memakai blazer senada dengan celana jeansnya.
Kini keduanya menunggu Leon datang, kakek Wira meminta datang sendiri. Sepuluh menit menunggu, akhirnya Leon datang juga, dia melihat ke segala arah di mana kakek dan gadis pilihannya itu duduk. Ternyata ada di tempat lesehan, Leon berdecak kesal..
"Ck, kenapa cari restoran begini. Dudum di lesehan pula. Apa maksudnya." gumam Leon menghampiri sebuah ruang lesehan.
Dia melihat kakeknya dan gadis yang sedang duduk bersila sambil menunduk. Pakaiannya tidak seperti gadis biasa anak konglomerat, tapi Leon diam saja. Dia menghampiri kakeknya dab duduk di samping kakeknya.
"Kek, kenapa duduknya di lesehan seperti ini sih?" tanya Leon.
"Kakek hanya ingin santai, setelah pembicaraan kita nanti tidak ada perdebatan yang serius. Kamu harus menerima keputusan kakek." kata kakek Wira dengan tegas.
"Ya ya, kan ini sudah di bahas kek. Jadi aku siap semuanya." kata Leon.
Luna yang sejak tadi diam dan menunduk karena bermain game di ponselnya kini mengangkat wajahnya dan melihat siapa laki-laki cucu dari kakek Wira. Dia pun tersenyum sinis dan menatap kakek Wira.
"Iya Luna. Kenalkan, dia Leon cucu kakek calon suamimu." kata kakek.
Leon menatap Luna, sejenak dia terpaku dengan wajah Luna yang cantik alami. Tanpa make up juga sebenarnya sudah cantik, berbeda dengan Sherly dia cantik di bantu make up. Tapi sejenak dia mengingat siapa Luna itu, dia pernah bertemu dengan wajah ayu di depannya.
"Tunggu kek, dia yang akan jadi istriku?" tanya Leon.
"Ya, dia Luna namanya." jawab kakek Wira.
Leon menarik nafas panjang, akhirnya dia ingat siapa Luna. Seorang preman jalanan yang dia ingat waktu bertemu Luna di mobilnya.
"Jadi kamu yang akan jadi istriku, preman jalanan." kata Leon.
"Leon! Jaga bicaramu!" ucap kakek Wira dengan keras.
Luna diam, dia menatap Leon dengan sinis, ternyata memang tampan dan juga sepertinya berpendidikan bagus. Tentu saja bagus, dia cucu kakek Wira. Namun sayang, sikapnya tidak bagus bahkan mulutnya pedas.
__ADS_1
"Kek, kalau mau menjodohkanku harus lebih baik penampilan dan asal usulya. Aku tahu siapa dia kek, dia preman jalanan yang suka mencuri." kata Leon dengan sinisnya, dan tentu saja Luna tahu sikap Leon sekarang.
"Kamu jangan sembarangan bicara Leon. Dia gadis baik-baik, kakek kenal dia juga sering di tolong oleh Luna." kata kakek Wira.
"Tapi bukan berarti aku harus menikah dengan gadis preman itu kek!" teriak Leon, membuat orang-orang di sebelahnya itu heran.
"Kakek Wira, saya mau pulang. Percuma juga berdekatan dengan laki-laki sombong dan bodoh itu." kata Luna.
"Apa kamu bilang? Aku bodoh?! Kamu belum tahu siapa aku hah?!"
"Gue tahu, lo laki-laki bodoh yang pernah gue lihat dan gue temui." ucap Luna dengan keras dan kasar.
"Kamu?!"
"Luna, duduk dulu. Kakek mau bicara sama kamu dan juga Leon. Kalian sudah bersepakat dengan kakek, jadi kakek minta turunkan ego kalian. Kalian baru kenal dan baru bertemu saat ini dengan kakek." kata kakek Wira.
"Tidak!" jawab Luna dan Leon secara serempak.
Luna melirik Leon, begitu juga Leon. Keduanya pun mendengus kesal, kakek Wira jadi heran. Tapi akhirnya laki-laki tua itu tersenyum tipis. Itu akan menjadi percikan cinta selanjutnya, pikirnya.
"Lunq,Leon. Tenanglah, kakek mau bicara."
"Bicara saja kek, jangan berbelit-belit. Yang jelas gadis yang kakek tunjukkan ini sepertinya bukan termasuk kriteriaku, dia gadis kasar dan juga pergaulannya bebas dengan para preman-preman jalanan." ucap Leon.
"Dih, siapa juga yang mau berkenalan dengan laki-laki bodoh dan dungu kayak kamu. Gue sih ogah, sok perhatian dan romantis. Hueeek! Cuih!"
"Kamu?!"
"Sudah! Jangan bertengkar lagi. Adduuh ...." ucap kakek Wira memegangi dadanya.
Dia berakting jantungnya kumat, Leon dan Luna terkejut. Leon mendekat pada kakeknya untuk duduk tegap. Meski aneh, kenapa kakeknya bisa sakit begitu. Tapi Leon panik juga.
"Kakek kenapa? Apa tiba-tiba kakek kena penyakit jantung?" tanya Leon, Luna juga ikut khawatir.
"Kakek pusing, kenapa kalian ribut. Baru juga ketemu tapi malah ribut. Kalian ada masalah apa sih?" tanya kakek Wira.
Luna dan Leon saling lirik, tapi lirikan Leon lebih tajam pada Luna. Karena dia takut Luna membocorkan apa yang dia tahu waktu itu. Membelanjakan uangnya untuk Sherly, tapi Luna sendiri tidak mengerti apa arti lirikan tajam Leon.
_
__ADS_1
_