
"Lunaaa!" teriak semua orang.
Reflek Leon menangkap Luna yang terjatuh, dan Leon tidak menjaga keseimbangannya jadi keduanya pun jatuh. Leon di bawah dan Luna di atas, keduanya hampir saja saling mencium. Tapi justru Dewi mengetahui seperti itu, malah dia mendorong kepala Luna hingga kedua bibir mereka pun bersentuhan.
"Hei! Kalian jangan buru-buru main kuda-kudaan di sini, malu tahu. Tuh di lihatin banyak orang, bangun!" kata Jack, bapaknya Luna.
Membuat Luna segera bangkit, dan segera berganti posisi jadi duduk. Leon memegangi pantatnya yang terkena batu tadi, dia meringis. Baru terasa sakitnya terkena batu, dia lupa ketika Luna berada di atasnya.
Riko membantu Leon bangun, sedangkan Luna di bantu Dewi. Luna tahu tadi Dewi mendorong kepalanya sampai bibirnya menyentuh bibir Leon.
"Lo sengaja kan dorong kepala gue?" tanya Luna menoyor kepala Dewi.
"Ish, harusnya lo senang gue dorong tadi. Sampai ciuman gitu. Aaauuw! Luna, sakit." kata Dewi di tarik telinganya oleh Luna.
"Lo lihat tadi, semua lihat gue dan dia. Bikin malu aja kamu dorong kepala gue." kata Luna.
"Lha, kenapa malu? Lo sama Leon itu udah nikah. Kalian suami istri, wajar aja ciuman."
"Ish! Lo tuh ya. Kesel gue sama lo." ucap Luna pada Dewi.
Sedangkan Dewi hanya senyum-senyum sendiri dengan perbuatannya tadi pada Luna. Leon bahkan biasa saja, hanya dia kesakitan tadi pantatnya terkena batu.
Semuanya sudah ada di depan rumah Luna, dekorasi ala sederhana dan juga katering untuk prasmanan juga ada. Semua tetangga dan yang hadir di sana, makan dengan sepuasnya, karena jarang sekali mereka makan di kondangan yang ternyata kateringnya lumayan enak.
Tentu saja, karena semuanya di persiapkan oleh kakek Wira secara mendadak untuk acara pernikahan sederhana. Tidak mengapa jika acaranya sederhana seperti itu, nanti di hotel mereka akan melangsungkan resepsi lagi setelah keduanya sudah bisa beradaptasi satu sama lain.
Begitu kira-kira rencana kakek Wira. Mungkin saat ini Leon sedang kaget, begitu juga dengan Luna yang bersikap biasa saja. Bahkan dia tidak merasa sedang menikah. Tingkahnya yang membuat orang geleng kepala ketika melihatnya.
Justru dia ikut antri mengambil makanan kateringan. Jika tidak di tarik Dewi dan Riki sahabat masa kecilnya itu, semua akan heran dengan Luna.
"Lo kenapa ikut antrian ambil makanan?" tanya Dewi pada Luna.
"Gue lapar, pengen makan. Dari pagi gue belum makan." jawab Luna.
__ADS_1
"Haish! Lo temenin tuh suami lo, gue ambilin makanan buat lo." kata Dewi.
Siapa yang menikah, siapa yang repot. Begitu gerutu Dewi, dia mengambil makanan tidak melalui antrian. Tapi langsung meminta pada panitia prasmanan agar memberinya makanan untuk sang pengantin yang sedang kelaparan.
Setelah selesai, Dewi mengantar makanan pada Luna. Dia jalan terburu-buru hingga tidak tahu jika dia menabrak Riko, sampai piring berisi makanan hampir mengenai lengan Riko.
"Eh, maaf tuan ganteng. Duh ya ini kenapa juga nabrak orang sih." singut Dewi, dia melihat Riko juga menatapnya lalu tersenyum dan memberi isyarat agar meneruskan langkahnya menuju pelaminan.
"Nih, makan lo. Jangan bikin orang repot terus." ucap Dewi dengan kesal.
"Lo kenapa marah-marah terus sama gue dari pagi. Udah sono, kalau lapar makan aja. Jengkol juga ada tuh buatan ibunya Riki." kata Luna.
"Nanti aja, gue belum lapar." ucap Dewi pergi dari hadapan Luna.
Luna makan dengan lahap, dia tidak melihat Leon yang sejak tadi memperhatikan cara dia makan. Leon tersenyum sinis, dia seperti enggan melihat Luna makan. Nasinya kemana-mana, bibirnya juga hampir hilang lipstiknya. Pokoknya tidak ada anggun-anggunnya Luna di depan Leon.
"Kamu makan rakus banget ya." kata Leon.
"Haish! Lo ngga ada anggun-anggunnya ya jadi cewek. Lihat tuh, nasi bertebaran di muka kamu. Jadi orang punya malu kenapa sih." ucap Leon kesal melihat istrinya itu.
"Kalau ngga suka, kenapa lo mau menikah sama gue? Udah tahu gue kayak gini, masih aja maksa menikah sama gue." ucap Luna menatap tajam pada Leon.
Membuat Leon diam karena kesal dengan ucapan istrinya itu.
"Gue juga ngga mau nikah sama kamu, tapi kakekku yang maksa. Jadi, jangan harap kamu bisa mendapatkan cinta dariku nantinya." ucap Leon kesal.
"Siapa yang mau ngemis cinta sama cowok bego kayak lo. Cuih, mata saka hatinya di tutup sama cinta bodoh. Makan tuh cinta palsu, mau aja di selingkuhi sama pacarnya." kata Luna.
"Siapa yang selingkuh?!" ucapan Leon meninggi, tapi tidak membuat orang-orang dan undangan mendengar.
"Ya pacar lo lah, siapa lagi." kata Luna.
"Jangan sembarangan menuduh ya, pacar aku setia!" kata Leon semakin kesal.
__ADS_1
"Kalau setia, kenapa dia mau di pegang-pegang dan di remas-remas tuh mainan slame sama cowok lain. Lo aja yang bego, mau di bohongi terus sama dia." kata Luna.
"Apa itu slame?" tanya Leon bingung.
"Nih, gue punya slame dua. Ini slame kenyal." jawab Luna menunjukkan buah dadanya pada Leon.
Leon meneguk ludahnya sendiri melihat dada Luna yang ternyata besar itu di tonjolkan tanpa sengaja.
"Dan pacar lo slamenya di pegang sama cowok lain, menjijikan." kata Luna lagi, dia meletakkan piring yang sudah kosong.
"Kamu belum tahu pacar gue! Dia juga tahu kalau aku menikah dengan kamu, aku mau menikah denganmu itu karena persetujuan dia kok. Nanti setelah kakek menyerahkan perusahaannya padaku, aku akan menceraikanmu dan menikahi pacarku." ucap Leon semakin emosi.
Luna terdiam, nafasnya memburu karena geram dengan ucapan Leon itu. Dia masih saja percaya dengan pacarnya yang model.
"Kalau begitu, temukan gue dengan pacar lo itu. Gue mau tahu dia ingat ngga sama gue kalau gue pernah memergoki dia di pegang-pegang slamenya di pegang-pegang sama cowok lain di kafe dekat pasar di kursi jendela terbuka. Gue pengen tahu kagetnya dia melihat gue yang jadi istri lo." kata Luna menantang Leon.
"Oke, aku akan temukan kamu dengan pacarku. Dia tidak sebanding denganmu, dia cantik, anggun dan juga model yang sebentar lagi jadi model terkenal." ucap Leon membanggakan Sherly.
"Cuuih! Cantik juga pasti sudah habis babak belur tuh body sama cowok lain. Sebelum lo pegang slame dia. Masih aja bego jadi cowok!" ucap Luna kesal.
"Aku akan kasih tahu dia, jika kamu mau ketemu sama dia nantinya. Aku juga ingin tahu, seberapa anggunnya kamu di depan pacarku." kata Leon.
"Oke, gue tunggu! Kapan lo mau temuin gue sama pacar model lo itu. Gue juga mau tanya slamenya masih kenyal atau udah lembek karena di remas-remas terus." kata Luna menantang Leon.
Leon diam, dia menatap tajam pada Luna. Selalu saja masalah slame terus. Dia pun kembali berdebat, namun bukan masalah slame lagi. Tapi masalah sifat Luna yang tidak bisa di terima oleh dirinya.
Perdebatan itu masih terus berlanjut, Leon dan Luna kini saling menyindir dengan sikap masing-masing. Tidak ada yang menyadari mereka berdebat masalah Sherly, sedangkan orang yang di perdebatkan sedang bersenang-senang di Singapura dengan pacar gelapnya, sang produser di kamar hotel.
_
_
__ADS_1