
Luna melihat isi kulkas, dia mencari sayuran dan telur serta mie instan. Dia ingin makan itu, karena malam hari Luna malas makan nasi. Jadi dia akan membuat mie rebus dengan sayuran dan telur. Mengambil panci dan merebus air, lalu memasukkan mie setelah air mendidih. Baru memasukkan telur serta sayurannya.
Sedang asyik memasak mie rebus, Luna di kagetkan dengan suara bariton kakek Wira di belakangnya.
"Luna, kamu sedang apa?" tanya kakek Wira.
"Oh, kakek Wira. Aku lapar kek, jadi pengen buat mie rebus. Apa kakek mau? Sekalian di buatkan." kata Luna.
"Tidak, kamu saja. Oh ya, kemana kamu pergi tadi sore?" tanya kakek Wira.
"Hanya jalan-jalan saja kek, kupikir Leon menunggu. Jadi pergi jalan-jalan saja di taman kota." jawab Luna berbohong.
"Lalu, kalian kemana lagi? Kenapa baru sampai di rumah." tanya kakek Wira lagi.
"Jalan-jalan lagi, keliling kota." jawab Luna.
Dia menuangkan mie rebusnya ke dalam mangkuk dan membersihkan panci rebus mie. Setelah selesai, dia pun membawanya ke meja makan. Kakek Wira sudah masuk lagi ke dalam kamarnya setelah mengambil air minum.
"Kamu makan sendiri aja, kenapa ngga di buatkan untukku juga?" tanya Leon yang tiba-tiba datang menghampirinya di meja makan.
"Kalau mau, buat aja sana sendiri." kata Luna menyantap mienya.
"Ish, kamu istriku. Sudah sewajarnya istri meladeni suamimu. Menyediakan makanan untukku, cepat buatkan mie rebus juga." kata Leon.
"Sssh! Dasar pemaksa." kata Luna dengan geram, menatap tajam penuh kekesalan.
Tapi akhirnya dia pun pergi ke dapur juga membuat mie rebus untuk suaminya. Lama menunggu, Luna akhirnya selesai membuatkan mie rebus untuk Leon. Dia letakkan di depan suaminya dengan kasar.
"Kenapa kasar ngasihnya, kalau tumpah gimana?" kata Leon.
"Kagak tumpah, udah jangan bawel. Makan aja tuh mienya." kata Luna.
Dia duduk dan memakan lagi mie rebus yang dia buat tadi. Leon memperhatikan cara makan Luna, ada perbedaan dari pertama dia lihat cara Luna makan dengan sekarang. Sekarang lebih kalem dan tidak terburu-buru, menatap wajah gadis itu dengan seksama. Memang cantik Luna itu.
Luna yang sedang di perhatikan Leon pun menoleh ke arahnya. Dia menatap datar laki-laki yang ternyata berwajah tampan.
"Kenapa lihat gue begitu?" tanya Luna.
"Kamu cantik." jawab Leon tulus.
"Baru sadar gue cantik?"
"Ngga juga, aku sudah tahu kalau kamu itu cantik." jawab Leon, dia memakan mie rebusnya sampai habis.
Setelah selesai dia memyusul Luna di dapur untuk membersihkan mangkuknya.
"Udah biar gue yang nyuci mangkuknya, sana tidur aja." kata Luna.
__ADS_1
"Mana boleh habis makan mie langsung tidur, nanti lemaknya menumpuk. Gendut lagi perutku, ngga ada yang melirik lagi." kata Leon.
"Heh! Lo pede banget ya banyak yang lirik? Ck, mata lo udah buta aja masih mikir ada yang lirik lo lagi." kata Luna mencibir.
"Aku di kantor itu, para pegawai perempuan pada modus ingin ketemu sama aku. Ada aja alasannya, jadi jangan remehkan ketampananku. Kamu saja yang buta kalau aku tampan dan banyak yang suka." kata Leon lagi.
"Apa? Hahah! Ya terserah lo aja, bebas mau bilang lo tampan juga bego. Terserah." kata Luna.
Leon kesal pada Luna, kenapa gadis itu selalu saja menganggapnya bego dan bodoh. Dia menghela nafas panjang, menatap datar pada istrinya.
"Katanya kamu punya rekaman Sherly selingkuh, coba aku lihat." kata Leon.
Luna menatap datar pada Leon, dia diam saja. Dia menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Leon, juga kamarnya sebenarnya.
"Luna!"
"Iya nanti, gue isi baterai dulu. Ponsel gue mati." jawab Luna.
Dia mengambil charge dan memasukkannya ke ponselnya. Dia lalu pergi ke kamar ganti baju, tidak mandi tapi hanya cuci muka saja. Setelah selesai, dia mengambil bantal di atas ranjang Leon dan meletakkannya di bawah. Semua di perhatikan oleh Leon, sejak dia mencharge ponsel sampai ganti baju dan cuci muka di kamar mandi lalu tidur di bawah.
"Eh, jangan tidur di bawah. Di atas aja sini." kata Leon.
"Kagak, gue takut lo nanti *****-***** gue lagi." kata Luna menolak ajakan Leon.
"Ish, itu wajar aja sebagai suami istri. Tapi malam ini ngga akan aku apa-apain kamu, cepat naik." kata Leon.
"Ya ampuun, kamu susah banget ya. Apa aku paksa dulu baru kamu nurut sama aku?!" tanya Leon kesal.
"Lo janji jangan ngapa-ngapain sama gue." kata Luna.
"Iya, gue janji. Meski cuma cium aja sih aku ngga janji." kata Leon pelan, membuat Luna menatao tajam pada suaminya itu.
Leon tidak sabar, akhirnya dia menarik tangan Luna agar cepat naik ke atas ranjangnya. Mau tidak mau Luna pun duduk di ranjang yang empuk itu, dia kaget ternyata ranjang itu sangat empuk sekali.
"Waah, kalau tahu ranjangnya empuk sih. Dari dulu aja gue tidur di sini." kata Luna menggoyangkan tubuhnya dengan senang.
"Makanya, jangan menolak." kata Leon.
Luna pun duduk tenang, dia menghela nafas panjang. Entah apa yang mau dia lakukan di ranjang empuk itu.
"Coba mana ponsel kamu." kata Leon.
"Buat apa?" tanya Luna.
"Aku mau lihat rekaman yang kamu bilang Sherly itu selingkuh." kata Leon.
"Ngga! Nanti kamu hapus lagi." kata Luna.
__ADS_1
"Ck, berarti kamu bohong punya rekaman dia selingkuh." kata Leon memojokkan Luna.
"Enak aja, gue punya!"
"Ya mana? Tunjukin sama aku!"
Luna menatap tajam pada Leon, dia ingi tidur seberanrnya. Tapi laki-laki itu memaksa minta rekaman Sherly selingkuh. Akhirnya Luna mengambil ponselnya dan mengaktifkannya. Setelah menyala, Leon mengambil cepat ponsel Luna. Luna berusaha mengambil kembali ponselnya, tapi Leon menghalanginya.
Dia mencari-cari di galeri namun tidak di temukan. Luna tersenyum sinis, lalu menarik cepat ponselnya.
"Lo yakin mau lihat videonya?" tanya Luna.
"Yakin, agar aku bisa bertindak tegas padanya." kata Leon.
"Sok-sokan mau tegas. Lo di rayu aja bisa luluh, gue jadi kasihan sama kakek Wira. Udah di kaaih tahu berulang kali tetap aja ngeyel masih pacaran sama dia." kata Luna.
"Udah jangan bawel, cepat tunjukkin rekaman videonya."
Luna pun mencari di file lain, lalu memutar video tersebut dan memperlihatkan pada Leon. Leon pun melihat video tersebut, dia melihat awalnya biasa saja karena suara rekaman itu tidak jelas. Tapi setelah kamera mendekat, dia pun mendengar percakapan Sherly dan selingkuhannya.
Dengan geram dan mengepalkan tangannya, dia sangat marah. Matanya menatap tajam pada video tersebut, membuang kasar ponsel Luna ke samping. Mengusap wajahnya dengan kasar, dadanya bergemuruh.
"Aaaargh! Brengsek!" teriak Leon.
Dia turun dari ranjangnya dan menuju meja kerjanya. Dia memukulkan tangannya dengan keras beberapa kali, hingga terluka tanpa dia sadari. Luna diam, dia menghela nafas panjang dan mendekati Leon yang masih marah dan dadanya bergemuruh.
"Gue sebenarnya ngga peduli dan malas dengan apa pun masalah lo dan pacar lo itu. Tapi kakek Wira meminta gue untuk menikah dengan lo, agar lo sadar dan tidak lagi menemui cewek munafik itu. Gue jadi kesal sendiri, kenapa lo bego banget jadi orang." kata Luna.
"Aku ngga pernah percaya dengan ucapan kakek, meskipun aku selalu merasa berat jika dia meminta di belikan barang mahal. Karena dia bisa membuatku tersentuh dan menuruti apa maunya dia." kata Leon.
"Makanya, itu terserah lo aja. Jika lo masih mau bego di bodohin sama dia, ya sana pacaran terus sama dia. Biar gue yang nikmati warisan kakek lo, gue bisa jadi kaya raya." kata Luna dengan senangnya.
"Ck! Aku ngga habis pikir dengan perubahan pikiranmu. Katanya ngga peduli dengan harta kakekku, tapi kenapa sekarang malah senang dengan harta warisan kakekku." kata Leon.
"Karena dengan harta dan uang bisa melakukan apa aja. Gue juga bisa kuliah di luar negeri." kata Luna, dia mengambil kain kasa dan betadin dan mengoleskannya pada tangan Leon.
Leon sendiri tertegun dengan ucapan Luna itu, ternyata ada keinginan Luna kuliah di luar negeri.
"Tadi aku lihat ada dua video, satunya video apa?" tanya Leon.
Dia mengambil ponsel Luna dan membuka video kedua. Ternyata video rekaman cctv dari sebuah toko baju. Memperlihatkan Luna di sangka pencuri oleh Sherly, dan Leon meletakkan ponsel Luna lagi di meja. Dia berbaring dan ingin segera tidur, sangat lelah sekali rasanya hari ini.
_
_
__ADS_1