
Dewi bekerja setiap hari seperti biasanya. Dia berangkat lebih pagi dari Riki hari ini, terkadang Riki yang lebih pagi berangkatnya. Yang penting setiap pagi toko sudah ada yang membersihkan dan siap untuk di kunjungi oleh pelanggan.
Kini Dewi sendiriam di toko, motornya dia masukkan ke parkiran belakang bagian karyawan. Dia tidak tahu kalau di jalan ada seseorang yang sedang memperhatikan Dewi dan toko De'Luna Colection.
"Jadi dia bekerja di toko itu? Sudah berapa lama dia kerja di toko itu? Setahuku toko itu baru buka dua bulan yang lalu." gumam seseorang berdiri di pinggir jalan.
Dia pun masuk ke dalam mobilnya, menunggu waktu tepat untuk datang lagi ke toko itu. Mengejutkan gadis di dalam toko itu, bagaimana jika dirinya datang dan bertemu dengannya. Karena sejak Dewi kerja di tokonya, dia penasaran sekali pada gadis itu.
Tak lama, motor Riki datang dan masuk halaman toko. Dia juga memarkirkan motornya di belakang sama dengan Dewi. Dia masuk ke dalam toko dan bersiap untuk merapikan baju-baju yang kemarin belum sempat di beresi.
Dia mencari di mana Dewi berada. Tapi kemudian Dewi muncul dari kamar kecil. Dewi menghampiri Riki yang sedang menata baju-baju di rak dan di gantung.
"Nanti siang gue ke pasar induk, mau ambil barang pesanan dan juga nanti langsung mampir ke bank. Setor uang." kata Dewi.
"Terus, gue di sini sama siapa?" tanya Riki.
"Kan ada Nina, nanti Nina yang jaga kasir. Lo awasi toko sama si Boby juga sambil melayani pengunjung. Kemarin sempat ada pengunjung pengutil, karena gue sejak dia masuk curiga. Jadi gue ikuti dia, makanya lo harus awasi pengunjung. Jangan sampai dia ambil baju tanpa bayar." kata Dewi.
"Oke. Lo pulang jam berapa?"
"Jam sepuluh gue ke bank dulu, baru ke pasar induk. Mungkin ya habis makan siang gue pulang ke toko." kata Dewi.
"Ya, baiklah."
"Lo bisa kan jaga toko berdua sama Boby?" tanya Dewi.
"Bisa kok. Nanti si Nina di bagian kasir aja juga sambil awasi pengunjung yang bayar di kasir. Atau kalau bisa om Jack suruh jaga parkir aja dj toko ini ya." kata Riki mengusulkan.
"Luna udah kasih tahu sama om Jack, tapi om Jack ngga mau. Ya udah sih, kalau Sapri bener orangnya sih biar dia yang jaga parkiran di depan toko." kata Dewi.
__ADS_1
"Iya ya, kata si Boby, si Sapri itu mainnya curang."
"Udahlah, jangan pikirkan dia. Biarkan aja parkiran bebas dulu, nanti kalau ada yang minat jadi tukang larkir di depan toko kita ajukan sama Luna."
Setelah pembicaraan itu, Nina dan Boby baru datang. Mereka membantu Riki merapikan baju-baju sebelum toko buka. Baru setelah semuanya selesai, semuanya siap untuk membuka toko tepat jam delapan pagi.
_
Dewi baru keluar dari bank menyetor uang. Motor dia lajukan menuju pasar induk untuk membeli beberapa baju anak-anak dan nanti tinggal kirim saja ke alamat toko. Karena baru buka dua bulan, jadi Dewi harus mencari pelanggan dulu di pasar induk dan bisa meminta kontak telepon untuk menghubungi jika meminta barang di kirim.
Ini belanja yang ketika kalinya, tidak begitu repot karena belanjaan di kirim oleh pemilik grosir toko baju. Dewi memarkirkan motornya di parkiran, lalu masuk ke dalam pasar induk. Ponselnya berdering, dia mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon.
"Halo?"
"Wi, kalau sempat lo beli makan siang deh buat kita." kata Riki di seberang sana.
"Iya, apa aja. Yang penting kenyang dan banyak, heheh."
"Ish, ya udah. Gue mau masuk pasar nih.".
"Iya."
Klik!
Dewi masuk menuju tempat yang mau dia beli baju-baju anak-anak dan remaja. Dengan cekatan dia memilih contoh-contoh dan meminta pada pedagang untuk menjumlah harganya. Dewi membeli perkodi setiap ukuran dan model baju.
Hingga dia tidak menyadari ada yang memperhatikan dari jauh. Seyum semirik laki-laki yang memperhatikan Dewi dari jauh itu tampak memcurigakan. Dia pun keluar dari dalam pasar induk itu, menunggu Dewi selesai berbelanja.
Satu jam setengah Dewi membeli baju-baju itu dan minta di kirim ke toko tempatnya bekerja. Setelah selesai, dia pergi ke warung makan dan membeli makanan untuk teman-temannya di toko. Tak lupa juga membeli minumannya, dia hanya membeli kue saja lebih dulu untuk mengganjal perutnya.
__ADS_1
"Makasih mas, ini uangnya." kata Dewi.
"Iya mbak, terima kasih."
Setelah menerima kantong kresek berisi beberapa makanan, Dewi pun pergi. Dia harus segera pulang ke toko, karena teman-temannya di sana sudah menunggunya. Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih jam setengah dua belas. Cukup waktu perjalanan pulang sampai toko waktunya istirahat.
Dewi menjalankan motornya setelah dia keluar dari parkiran. Baru juga jalan beberapa meter, motornya di cegat oleh mobil avanza hitam. Hampir Dewi membanting stir, namun dia hanya mengerem mendadak. Akibatnya dia hampir jatuh.
"Sialan! Woi, jalan jangan halangin jalan dong!" teriak Dewi pada mobil avanza hitam itu.
Dia diam ketika ingat kalau mobil avanza tersebut dia kenal. Dia berusaha mendorong motornya mundur dan memutar setir motornya untuk menghindar dari mobil avanza itu.
"Dewi! Berhenti kau!" teriak seseorang dari dalam mobil itu.
Laki-laki gendut dan berkumis serta berkulit hitam itu keluar dari dalam mobilnya. Tapi Dewi tetap menjalankan motornya, dia melajukannya dengan kencang untuk menghindar mantas bosnya.
Mobil avanza itu pun mengejar motor Dewi. Dewi terus melajukan motornya, dia melihat mobil avanza hitam itu mengejarnya dengan kencang pula. Sialnya keadaan jalan sedang sepi, jadi mobil avanza tersebut bisa mengejar motor Dewi.
Dewi bagaikan pembalap profesional, dia menjalankan motornya seperti meliuk-liuk. Kadang ada umpatan dari kendaraan lain karena Dewi mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Begitu juga mobil Avanza tidak mau ketinggalan, pengemudinya juga mempercepat laju mobilnya.
Hingga Dewi belok dan dia hampir menabrak sebuah gerobak yang sedang lewat itu. Dia pun mengerem mendadak, dan akhirnya mobil avanza hitam itu bisa menyusul motor Dewi dan menguncinya.
"Kena kau kancil kecil!"
_
_
__ADS_1