Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
21. Hasutan Sapri


__ADS_3

Setelah perdebatan malam itu, Luna jadi semakin sering di awasi oleh bapaknya. Ketika dia pergi ke pasar untuk kegiatan rutin, menagih iuran keamanan di pasar.


Luna tahu bapaknya mulai protektif padanya setelah pembicaraan dan perdebatan malam itu. Jadi dia santai saja, karena memang tidak pernah berbuat macam-macam. Boby, yang pernah melihat bapaknya Luna ikut mangkal di pasar jadi heran dan bertanya pada Luna.


"Luna, bapak lo tuh ikut mangkal di depan. Lo tahu?" tanya Boby.


"Biarin aja, bapak lagi jadi satpam gue." kata Luna sekenanya.


"Satpam lo? Emang lo jadi copet di pasar? Kerja dobel job dong." ucap Boby.


"Ish! Berisik lo. Udah jangan di lihatin terus, bapak gue lagi jadi satpam gue karena gue mau jadi orang kaya. Udah diam aja lo!" ucap Luna kesal.


"Lha, benerkan? Lo mau nyopet juga di pasar, karena pengen kaya. Jangan gitu Lun, lo kalau mau jadi copet juga aja gue dong. Heheh!" kata Boby.


"Haish! Lo kalau ngomong asal aja. Udah diam, berisik banget sih lo! Siapa juga yang mau nyopet." kata Luna dengan kesalnya.


Dia mendengus kasar, melihat ke arah bapaknya yang sedang mengobrol dengan penjaga parkir di depan. Sapri juga sepertinya bergabung dengan bapaknya di sana, Boby melihat Sapri ikut nimbrung dengan bapaknya Luna.


"Lun, tuh si Sapri ikut ngobrol sama bapak lo." kata Boby.


"Gue tahu, sejak tadi juga gue lihatin dia terus." kata Luna.


Dia agak curiga Sapri datang menghampiri bapaknya. Sampai bapaknya menatap Luna dari jauh dengan tajam. Apa yang di katakan Sapri pada bapaknya itu?


Tak lama, mereka berhenti mengobrol. Sapri pergi dari tempat itu, sempat melihat Luna sekilas. Bapaknya Luna pun mendekat pada anaknya dengan wajah kesal sepertinya. Hati Luna tidak tenang, sepertinya dia akan di marahi sama bapaknya. Boby juga tampak ketakutan ketika bapaknya Luna mendekat dengan wajah menyeramkan bagi Luna dan Boby.

__ADS_1


"Luna, pulang kamu." kata bapaknya.


"Luna kan masih kerja pak, nanti sore pulangnya." jawab Luna.


"Ada si culun Boby di sini, kamu pulang cepat!" kata Jack dengan sedikit berteriak.


Membuat Luna bersungut kesal. Apa yang di katakan Sapri pada bapaknya, Boby sendiri hanya diam saja. Dia takut pada bapaknya Luna yang galak dan jiwa premannya keluar jika sedang marah.


Mau tak mau Luna pun harus menurut, dia menoleh ke arah Boby yang diam ketakutan.


"Boby, lo jaga di sini sampai sore ya. Keliling juga ke pasar, barangkali ada aksi copet lagi seperti kemarin." kata Luna.


"Iya Lun, lo tenang aja." kata Boby.


"Pak, tadi bapak ngobrol apa sama Sapri?" tanya Luna pada bapaknya, mereka berjalan beriringan di jalan trotoar.


"Tidak ngobrol apa-apa." jawab Jack agak ketus.


"Tidak mungkin! Bapak setelah ngobrol sama Sapri kenapa marah-marah sama Luna? Luna itu anak ayah, kenapa jadi marah-marah ngga jelas sama Luna." kata Luna heran.


"Kata Sapri, kamu sering banget di jemput mobil mewah di jalan pasar. Kamu jual diri sama yang punya mobil mewah itu?!" tanya bapaknya kini mulai emosi mengingat ucapan Sapri padanya.


"Ish! Siapa bilang? Kan Luna udah katakan sama bapak tadi malam, Luna mau menikah sama cucunya orang kaya." kata Luna, dia bingung juga menjelaskan pada bapaknya.


"Iya, dengan kesepakatan bahwa kamu menyerahkan apa yang kakek itu mau. Termasuk nanti penarikan pasar dan juga parkir akan di jadikan ladang bisnis mereka. Mereka tahu kalau kamu itu anaknya bapak. Preman yang di takuti, jadi mereka mendekati kamu." kata Jack lagi.

__ADS_1


"Waah, si Sapri udah fitnah gue sama kakek Wira. Kurang ajar dia, awas aja kamu Sapri!" umpat Luna dengan kesal.


"Jangan mengancam Sapri, Luna! Beruntung dia kasih tahu bapak kalau kamu bersepakat mau jadikan lahan parkir di depan pasar itu sebuah toko. Lalu menggusur lahan parkir itu." kata Jack dengan emosi.


"Bapak! Sapri itu dari dulu udah ngga beres, dia itu tadinya sama Luna dan Boby di pasar minta iuran, tapi dia pergi setelah Luna ngga kasih uang yang dia minta karena udah ambil iuran sendiri. Dia curang pak, main tikung dan suka hasut juga. Kenapa bapak percaya sama Sapri dari pada Luna anak bapak sendiri." ucao Luna ikutan emosi juga.


Dia emosi karena Sapri telah menghasut bapaknya mengenai dirinya yang sering di ajak mobil mewah yang sering di lihat Sapri. Dia pikir Sapri akan cuek saja dengan apa yang di lakukannya.


"Pak, Sapri itu ucapannya jangan di dengar. Dia hanya omong kosong, percaya sama Luna, Sapri itu berbeda dengan yang dulu. Dia sekarang senaitif, suka gosip juga." kata Luna.


"Tapi kamu dengan suka rela memberikan jiwa ragamu pada kakek tua itu. Malah mau di nikahkan, apa itu namanya kesepakatan dengan parkiran di depan akan di jula oleh mereka yang punya duit banyak!"


"Ngga pak, mana mungkin! Setap ajak Luna itu memang ada pembicaraan serius mengenai pernikahan. Bapak jangan percaya sama Sapri, dia hanya ingin Luna ngga di pasar aja." kata Luna lagi me jelaskan pada bapaknya.


Mereka terus melangkah masuk gang, keduanya juga saling diam. Tapi Luna akan menamprat Sapri karena sudah menghasut bapaknya memarahinya.


Dia akan membuat perhitungan dengan Sapri nanti. Hingga mereka hampir sampai rumahnya, dia di buat terpaku dengan sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Banyak para tetangga mengerumuni mobil itu.


Luna melihat seorang kakek Wira yang duduk di teras rumahnya dengan senyum mengembang. Jack mendekat tidak percaya dengan kakek Wira yang dulu pernah dia kenal.


_


_


__ADS_1


__ADS_2