Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
25. Minggu Depan Nikah


__ADS_3

"Apa lamarannya di tolak pak Jack?" tanya kakek Wira pada Jack.


"Oh, maksud saya emm di terima kok, heheh." kata Jack dengan tawa kecilnya.


"Ooh, syukurlah. Saya kira di tolak, nah Leon. Salami calon mertuamu itu." kata kakek Wira.


Leon melihat ke arah Jack, mulutnya meringis melihat penampilan Jack. Memakai jas lusuh dan kaos oblong saja dalamnya. Celana juga lusuh, seperti lama tidak di pakai atau memang celana bekas.


"Leo! Jangan memperhatikan penampilan calon mertuamu. Cepat salami dia." bisik kakek Wira.


Leon menatap kakeknya dan mendengus kasar, kemudian dia menghampiri Jack dan menyalaminya. Tidak ada kata apa pun dari mulut Leon, hanya senyum segaris. Luna melihat Leon menyalami bapaknya hanya diam saja.


Acara selanjutnya pun pembicaraan formal, mengenai pernikahan. Luna diam saja, dia bahkan sering garuk-garuk di bagian punggungnya karena merasa gatal. Dewi sendiri takjub dengan ketampanan Leon yang sempurna. Dia selalu menatap Leon dengan senyum-senyum sendiri.


Tapi Riki memukul tangan Dewi dan melotot padanya. Membuat Dewi bersungut kesal.


"Apa sih lo?!" ucap Dewi.


"Tuh lihat Luna, dia garuk-garuk terus punggungnya. Ngga ada anggun-anggunnya sih, semua sibuk bicara nikahan dia malah garuk-garuk punggung." kata Riki.


Dewi melihat Luna memang sedang menggaruk pinggungnya, sesekali dia kesal karena garukannya tidak tepat. Dewi pun menghampiri Luna dan menarik tangannya yang hendak melepas resleting di bagian punggungnya.


"Hei Luna! Jangan di buka." bisik Dewi.


"Gatal gue, nih baju bikin gatal punggung aja sih. Gue mau lepas." ucap Luna agal keras


Membuat yang lainnya menoleh, tak terkecuali Leon. Dia tersenyum sinis, dia awalnya terpesona dengan Luna yang cantik dan memakai gaun pendek. Tapi sekarang justru gadis itu malah menggaruk-garuk terus punggungnya dan mau melepas bajunya.


Untung Dewi menariknya, dan membantu mengelus punggung Luna agar tidak gatal. Semuanya menggeleng kepala, dan maklum karena Luna tidak biasa memakai gaun seperti itu.


"Jadi bagaimana rencana pernikahannya?" tanya kakek Wira.


"Terserah pak Wira saja, dan calon suami Luna." jawab Jack.


"Ooh, begitu. Baiklah, bagaimana kalau bulan depan saja pak Jack?" tanya kakek Wira.


"Apa?!"


Leon dan Luna berteriak secara bersamaan dan melebarkan matanya. Keduanya pun saling tatap penuh kesal.


"Luna! Jangan teriak-teriak. Diam saja kamu." kata Jack memarahi anaknya.

__ADS_1


"Kecepetan pak kalau bulan depan." kata Luna.


"Ya ngga apa-apa. Bapak juga senang kok." kata Jack.


"Pak, ya ngga gitu juga. Apa bapak senang Luna pergi dari rumah ini?"


"Luna!"


"Haish!"


"Hahah! Anak gadis memang seperti itu, tidak rela meninggalkan orang tua yang di sayanginya. Tapi percaya kakek Luna, kamu bisa kok mengunjungi bapakmu setiap waktu." kata kakek Wira.


"Ya, asal ada izin dari Leon sebagai suamimu nantinya." kata kakek Wira melirik pada Leon.


Luna menatap Leon, Leon sendiri diam saja. Tidak peduli apa yang akan di lakukan Luna nanti setelah menikahinya.


"Leon, berikan buket bunganya pada Luna." bisik kakeknya.


"Iya."


Leon mengambil buket bunga yang dia letakkan di meja, dan memberikannya pada Luna.


"Terima kasih." ucap Luna juga datar.


Tak ada pembicaraan pada keduanya, kakek Wira dan Jack sudah sepakat bulan depan pernikahan Luna dan Leon. Di adakan di gedung mewah, tapi yang di undang nanti terbatas.


"Nah, pak Jack. Semuanya sudah di bicarakan, dan anda setuju jika saya yang mengadakan resepsinya untuk Luna dan Leon." kata kakek Wira.


"Ya, kan saya tidak punya uang jika harus menikahkan Luna di gedung mewah atau di hotel. Pak Wira tahu siapa saya dan pekerjaan saya apa. Itu pasti biayanya mahal sekali pak Wira." kata Jack.


Kakek Wira hanya tersenyum saja, dia melihat cucunya sudah gelisah sejak tadi. Mungkin gadis itu menghubunginya, pikir kakek Wira.


"Kalau meikah dan cuma ijab kabul di masjid saja, saya masih bisa pak Wira." kata Jack lagi.


"Waah, boleh tuh. Menikah ijab kabul saja di masjid pak Jack. Ngga ada resepsi, saya setuju." kata Leon tiba-tiba antusias.


Membuat yang di dalam rumah itu heran dengan ucapan Leon. Menatap heran padanya, terutama Jack, tapi kakek Wira justru kesal dengan ucapan Leon itu.


"Waah, kamu setuju acaranya sederhana saja?" tanya Jack pada Leon.


"Ya, saya kurang suka dengan acara resepsi yang ramai. Jadi saya mau nikah dan ijab kabul saja di masjid, tidak masalah bagi saya pak." kata Leon santusias sekali.

__ADS_1


"Leon, apa yang kamu katakan?" tanya kakek Wira kesal dan menatap dingin pada cucunya itu.


"Tapi kek, pak Jack setuju dengan rencananya dan aku juga setuju. Kukira Luna juga setuju." kata Leon membela diri.


Dia tidak mau banyak yang tahu jika dia menikag dengan gadis preman dan juga lebih penting hubungannya Sherly aman. Pikir Leon.


"Baik, kalau begitu minggu depan menikah di masjid di kompleks ini. Bagaimana?" tanya Jack pada Leon.


Membuat Leon pun kembali kaget.


"Apa?! Minggu depan? Kan rencananya bulan depan." kata Leon.


"Minggu depan persiapannya cukup untuk ijab kabul dan resepsi sederhan. Saya hanya mengundang tetangga saja kok, tidak ada yang lain. Dan juga sama teman-teman kerjaku saja." kata Jack lagi.


Kakek Wira pun diam, dia tersenyum tipis. Riko yang sejak tadi diam tanpa ikut bicara pun ikut tersenyum, sudah pasti Leon kalang kabut. Karena minggu depan Sherly kabarnya akan ke Singapura untuk seleksi model yang ikut kontes.


Leon pun sudah pasti akan ikut juga kesana, dan di pastikan perempuan itu akan berbelanja barang-barang mewah di sana.


"Kalau seperti itu, saya juga setuju. Minggu depan pernikahan di laksanakan. Biar saya yang akan membiayai dan mengurusnya semua pak Jack." kata kakek Wira dengan bersemangat.


"Baiklah, saya juga akan memberitahu tetangga kalau minggu depan Luna akan menikah dengan cucu pak Wira. Jangan khawatir, semua tetanggaku pasti akan membantunya agar acara pernikahannya lancar." kata Jack lagi.


"Hahah! Ya, saya percaya pak Jack. Baiklah, saya kira semua sudah selesai. Dan terima barang hantaran yang tidak seberapa ini." kata pak Wira.


Dia memberi isyarat pada Riko dan dan pembantunya untuk mengambil beberapa hantaran untuk hadiah dan akan di berikan pada Luna dan Jack.


Semua yang di bawa di dalam mobil pun di ambil dan di bawa masuk ke dalam rumah Luna. Tetangga yang melihat itu banyak yang berdecak takjub dan kagum pada Luna yang beruntung menikah dengan orang kaya.


Semua hantaran memang tidak banyak, namun semuanya bagus dan ada beberapa baju serta barang mewah lainnya. Tak lupa juga parsel juga ada.


"Terimalah pak Jack, ini hadiah kecil dari kami. Semoga bermanfaat ya. Dan bisa di gunakan pada Luna juga." kata pak Wira.


"Aah, ini banyak sekali pak Wira. Saya jadi tersanjung. Heheh." kata Jack.


Setelah memberika hadiah hantaran, kakek Wira dan Leon pun pamit pulang. Nanti selanjutnya bisa menghubungi Luna untuk rencana selanjutnya.


_


_


__ADS_1


__ADS_2