Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
36. Hidup Yang Di Atur


__ADS_3

Luna dengan senang hati memilih baju yang dia suka, karena mendapatkan gratis dari sang pemilik toko. Dia mencari-cari terus kaos yang dia incar sejak pertama kali masuk toko.


"Nah, ini dia kaosnya. Gue suka banget modelnya, gambar tengkorak dan ada vikingnya juga. Uuh, keren." kata Luna.


Dia mencari baju di bagian jejeran baju laki-laki, sehingga banyak pengunjung semua laki-laki. Ada juga beberapa pengujung perempuan, tapi itu sifatnya mengantar saja. Bukan mencari kaos seperti Luna, dan lagi-lagi dia bertemu dengan Sherly.


"Kamu lagi ada di sini. Mau mencuri lagi ya? Setelah ketahuan mencuri ponsel orang. Hah?!" kata Sherly dengan sinisnya.


"Gue ngga ada urusan ya sama lo." kata Luna memgabaikan ucapan Sherly, terus memilih baju lagi.


"Heh! Jika lo mencuri lagi, aku laporin sama satpam." kata Sherly lagi mengancam..


"Laporin sana, gue ngga takut. Yang ada lo yang malu. Males gue urusan sama cewek munafik dan tukang selingkuh. Apa jadinya ya, kalau gue bilang sama Leon jika pacarnya yang sangat dia cintai sedang selingkuh di depan mata gue." ucap Luna dengan mencibir dan menatap sinis pada Sherly.


"Kamu tahu siapa Leon? Dia pewaris tunggal, yang akan selalu mencintainya dan sebentae lagi aku yang akan jadi wanita satu-satunya istri Leon. Kamu tidak akan tahu siapa Leon itu, jangan ngaco pura-pura kenal sama Leon." kata Sherly.


"Oh ya? Tapi, bagaimana jika Leon itu suami gue? Lo pasti kaget dan kejang kan? Hahah!" ucap Luna sambil berlalu meninggalkan Sherly yang bingung akan ucapan Luna.


Kenapa gadis preman itu bicara tentang Leon? Dia pun mengejar Luna yang sedang mengantri membayar kaos yang dia ambil. Bukan, hanya mengantri saja dan langsung di bungkus tanpa membayar lagi.


Sherly menarik lengan Luna kasar, menatapnya tajam. Luna hanya menoleh sebentar lalu melepas pegangan tangan Sherly. Dia maju ke depan dan menyerahkan kaos yang dia ambil tadi pada petugas kasir.


"Mbak, dia ngga punya uang untuk bayar. Mana bisa bayar dia dengan baju begitu banyak." kata Sherly ingin mempermalukan Luna.


"Ini gratis mbak, dari pemilik tokonya bilang kalau mbak Luna ini gratis baju-baju yang dia ambil." kata petugas kasir.


"Apa? Gratis?! Mana bisa dia gratis, dia itu preman mbak. Kenapa dia tidak bayar?!"


"Saya tidak tahu mbak, coba tanya saja sama bos saya di bagian manajer." kata petugas kasir malas meladeni Sherly.


Luna sendiri sudah melenggang pergi meninggalkan Sherly yang bingung dengan Luna di beri gratisan baju dan celana jeans yang harganya lumayan mahal, jika di total cukup lumayan harganya.


"Halo sayang, yuk kita pulang. Aku sudah selesai beli bajunya." kata laki-laki selingkuhan Sherly.


Sherly diam saja, dia mengikuti kemana laki-laki itu membawanya. Pikirannya masih bingung, apa hubungannya Luna sama bos pemilik toko itu. Dan dia tahu Leon? Apa dia kenal Leon?

__ADS_1


_


Luna megikuti kelas kepribadian selama satu bulan. Dia belajar banyak hal, mulai dari tata cara bersikap dan bicara dengan orang. Belajar table maner juga, dia mencerna dengan baik. Awalnya dia kesal, semua harus di atur. Tapi setelah di beri pengertian oleh sang guru, akhirnya dia bisa mengikuti juga. Meski dia terpaksa melakukannya.


"Huh! Hidup jadi terbatas, ngga bisa sesuka hati. Makan juga ngga boleh asal comot, gue di pasar makan apa aja bebas-bebas aja." ucap Luna ketika dia duduk di meja makan mempraktekan hasil belajarnya selama satu bulan itu.


"Nona harus membiasakan diri agar bisa bergaul dengan orang penting nantinya. Suami nona itu termasuk orang penting, nanti kalau ada acara resmi di kantor. Nona bisa membawa diri dan tidak mempermalukan tuan Leon dan tuan besar." kata bi Dori.


"Tapi rasanya itu bukan kalanganku, mereka orang-orang penting. Jadi, buat apa aku kesana. Lagi pula, ngga ada yang tahu kalau Leon udah menikah dengan gadis preman." kata Luna.


"Ya, anggap saja itu pelajaran buat nona. Ilmu itu kan tidak sebatas di sekolah saja. Tapi belajar kepribadian juga termasuk ilmu lho nona." kata bi Dori.


Meski Luna hidup dengan orang-orang pinggiran dan preman jalanan, tapi mengenai belajar dia tidak bisa diam saja. Bi Dori tahu kalau Luna sebenarnya gadis yang pintar, hanya saja dia anak orang tidak mampu. Dan tahu keadaan dia dan bapaknya, jadi tidak menginginkan sekolah lebih tinggi.


Justru jadi preman pasar, nasib baik memang belum berpihak pada gadis cantik itu. Tapi sekarang mungkin, Tuhan sedang merubah nasibnya menjadi orang lebih baik. Meskipun lingkungan yang menciptakannya belum juga hilang dari kesehariannya.


_


Riko berada di rumah kakek Wira, kebetulan dia sedang di suruh mengambil berkas yang tertinggal. Luna melihat Riko datang, lalu mendekat padanya.


"Ya nona?" sahut Riko.


"Emm, rekaman itu. Masih ada kan?" tanya Luna.


"Masih nona, apa anda ingin memindahkannya?" tanya Riko.


"Ya, untuk jaga-jaga aja sih." kata Luna.


"Saya kirim ke ponsel nona ya, sekalian rekaman cctv di outlet itu juga." kata Riko.


"Rekaman yang mana?" tanya Luna.


"Rekaman sewaktu nona sama Sherly bertengkar. Simpan saja semuanya, nanti jika di perlukan bisa di gunakan." kata Riko.


"Ooh, ya terserah aja."

__ADS_1


Luna menyerahkan ponselnya pada Riko, dia menunggu Riko menyalin rekaman perselingkuhan Sherly dengan laki-laki lain. Setelah selesai, Riko mengembalikan ponsel Luna pada pemiliknya.


"Ini nona, saya juga menyimpan nomor nona. Di kontak nona ada nomor saya juga, jadi jika ada perlu bisa hubungi saya." kata Riko.


"Ya, tapi emm. Bolehkan aku pulang ke rumah pak Riko?" tanya Luna.


Dia merasa rindu dengan bapaknya yang sudah dua bulan belum pulang.


"Kenapa nona?" tanya Riko.


"Aku kangen sama bapak. Nanti bapak marah lagi kalau aku belum berkunjung ke rumah bapak, aku ngga mau jadi anak durhaka." kata Luna.


"Baiklah nona, saya antar berkas ini dulu ke kantor tuan besar. Nanti saya antar nona pulang ke rumah." kata Riko.


"Eh, tidak usah pak Riko. Biar nanti aku pulang naik taksi aja, ngga usah di antar." kata Luna.


"Tidak nona, nanti saya yang di marahi tuan besar jika tidak mengantar nona pulang." kata Riko lagi.


"Ya, terserah ajalah. Gue mau masuk kamar dulu." kata Luna dengan kesal.


Dia melangkah pergi meninggalkan Riko. Rasanya lelah, harus begini harus begitu. Semua serba di atur, dia ingin tidur saja. Riko tahu Luna tidak biasa hidup serba di batasi, harus di kawal segala olehnya. Dia pun pergi, harus membawa berkas ke kantor bosnya.



Guys, ada cerita menarik lho ini ya punya teman othor..


Yuklah kepoin ceritanya, bagus dan seru...😊


_


_



__ADS_1


\_


__ADS_2