Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
80. Eksekusi


__ADS_3

Acara pernikahan selesai, resepsi juga usai. Kini Dewi akan di bawa Riko untuk bermalam di hotel yang dia sewa selama dua hari setelah pernikahannya itu, baru setelah itu akan di bawa ke apartemennya.


Sengaja dia akan menyewa hotel dari pada langsung di bawa ke apartemennya tempat tinggalnya. Dia mengendari mobil sendiri, karena ibunya sudah pulang lebih dulu dengan tetangga yang lain. Kini dia dan istrinya menuju hotel.


"Kita mau kemana bang?" tanya Dewi.


"Ke hotel." jawab Riko singkat.


"Kenapa ngga ke rumah abang aja?" tanya Dewi lagi.


"Emm, aku ingin bulan madu di hotel." jawab Riko lagi.


Dewi diam, hatinya berdebar. Sudah pasti dia akan di eksekusi oleh suaminya itu, karena sekarang pikiran Riko sekarang sudah mesum. Riko menoleh ke arah Dewi, dia mencium pipi Dewi dan bibirnya. Dewi kaget, namun dia diam saja.


"Ayo keluar." kata Riko.


"Hotelnya di sini?" tanya Dewi melihat-lihat sekeliling halaman hotel yang banyak orang lalu lalang.


Riko keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk istrinya. Dia menggait pinggang istrinya untuk masuk ke dalam dan menuju resesionis untuk memesan hotel. Dia bertanya apakah kamar VIP masih ada untuknya.


"Kamar VIP masih ada ya mbak?" tanya Riko.


"Sebentar saya cek ya pak." kata bagian resepsionis.


"Oke."


Lama resepsionis itu mengecek kamar VIP yang masih kosong. Lalu dia pun tersenyum dan menatap Riko.


"Masih ada dua kamar pak, apa anda mau ambil dua-duanya?" tanya resepsionis.


"Ya satu aja mbak, buat apa dua. Kami ini suami istri." kata Riko.


"Oh maaf kalau begitu pak. Anda bisa memilih mau yang paling pojok atau di tengah? Soalnya yang tersisa hanya itu." kata resepsionis.


"Yang paling pojok saja." jawab Riko.


"Atas nama siapa?"


"Riko Santoso dan Dewi Lestari."

__ADS_1


"Maaf, mohon tunjukkan kartu identitasnya?"


Riko mengambil kartu kependudukan untuk di tunjukkan pada pegawai itu. Setelah selesai, pegawai itu pun memberikan kartu kependudukan Riko. Menghubungi bagian pemegang kunci dan pelayanan kamar.


"Anda bisa bayar sekarang pak."


Riko kembali mengambil kartu ATMnya untuk membayar kamar yang dia pesan selama tiga hari itu. Setelah petugas datang, mereka mengikuti kemana petugas kamar itu membawanya.


Dewi sendiri sejak tadi dian saja, dia agak bingung karena baru kali ini masuk hotel. Naik ke lantai tiga untuk menuju kamar VIP yang di pesan Riko. Sampai di depan kamar, petugas membuka kamarnya dan memasukkan koper yang di bawa Riko.


"Terima kasih ya." kata Riko memberikan tips uang sebesar lima puluh ribu.


"Terima kasih tuan."


Petugas layanan kamar itu keluar, Riko menutup pintu kamarnya. Dewi masuk lebih dalam, dia merasa asing namun begitu nyaman sekali.


Riko melihat Dewi melihat sekeliling kamar, lalu mendekat dan memeluk Dewi dari belakang.


"Bagaimana, kamu suka kamarnya?" tanya Riko mencium pipi Dewi beberapa kali.


"Hemm, ya. Emm aku mau mandi dulu bang." kata Dewi gugup.


Dewi semakin gugup, dia langsung mencari kamar mandinya. Namun belum menemukannya, Riko tertawa. Dia tahu istrinya itu gugup sampai tidak menemukan kamar mandinya.


"Emm, kamar mandinya di mana?" tanya Dewi.


"Tuh, dekat dengan lemari." jawab Riko melepas bajunya.


Dewi langsung berjalan cepat, sekilas dia melihat Riko bertelanjang dada. Dada Dewi berdebar kencang.


"Uuh, gue baru kali ini lihat tubuh cowok yang sempurna. Tapi gue takut banget lihatnya, apa lagi punya bang Riko." gumam Dewi.


Akhirnya Dewi segera melepas semua bajunya, dia mandi segera. Rasanya nyaman sekali merendam tubuhnya di bethup. Satu jam dia mandi dengan berendam, hingga suara ketukan terdengar dan dia pun terkejut.


Setelah di rasa cukup, Dewi segera mengambil handuk. Tapi ragu, jika handuk pastinya akan terlihat tubuhnya di mata Riko. Akhirnya dia mengambil bethrop saja dan menggulung rambunya dengan handuk.


"Sayang, kamu lama banget sih mandinya?" tanya Riko di depan kamar mandi.


Ceklek!

__ADS_1


Dewi muncul, Riko berdiri di depan. Dan tentu saja, Dewi di tarik tangannya oleh suaminya. Di giring ke atas ranjang, dengan rakus Riko pun mencumbu Dewi.


Dewi terkejut, tapi akhinya dia pun menikmati cumbuan suaminya, di bukanya perlahan bethrop dan terlihat benda kenyal terpampang. Tal menunggu lama, Riko memainkan mulutnya di sana.


Tentu saja Dewi kaget, merasakan sensasi lain. Rasa geli dan nikmat. Dan akhirnya keduanya terbuai dengan permainan demi permainan. Rasanya Riko sudah tidak sabar dengan gairhanya untuk menuntaskannya.


"Bang, eeuh sakiit ...." ucap Dewi menahan rasa sakit di bagian bawahnya.


"Maaf ya, tanggung soalnya." kata Riko.


Dia menciumi wajah Dewi beberapa kali dan bibirnya untuk mengalihkan rasa sakitnya. Dan akhirnya jebol juga, dia sesaat. Riko menatap lembut istrinya lalu mencoba untuk menggerakkannya dengan pelan.


Kini semakin pelan semakin terasa kalau mereka sudah menikmatinya permainan mereka. Lama mereka melakukannya, hingga malam hari akhirnya selesai juga. Keduanya lunglai dan lelah.


Riko menatap istrinya yang masih terpejam, dia mencium kening Dewi. Hingga gadis itu membuka matanya lalu tersenyum, pipinya memerah karena kegiatan mereka tadi.


"Terima kasih ya." kata Riko membelai pipi Dewi.


"Iya bang, kewajibanku sudah terpenuhi kan?" tanya Dewi.


"Ya, dan akan terus melakukan kewajiban setiap hari." kata Riko.


"Masih sakit bang." ucap Dewi.


"Hahah! Kalau sekarang sih cukup. Nanti kalau sudah tidak sakit lagi. Apa kamu lapar?" tanya Riko.


"Iya."


"Aku pesankan ya. Kita makan di kamar aja." kata Riko.


"Iya."


Dia pun beringsut menuju meja, mengambil gagang telepon untuk memesan makanan dan di antar ke kamarnya. Setelah selesai, dia pun kembali berbaring dan memeluk Dewi. Tak henti-hentinya mencium pipi dan bibir istrinya. Dia merasa bahagia, beginilah rasanya mempunyai istri yang bisa di sayangi dan di cintai serta bisa melakukan apa pun pada istrinya itu.


_


_


__ADS_1


__ADS_2