Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
43. Bekal Makan Siang


__ADS_3

Leon kembali ke kantor dengan perasaan kesal, dia benar-benar merasa di bodohi oleh Sherly. Padahal kakeknya sudah mengingatkan kalau Sherly itu hanya memanfaatkannya saja, kata orang Leon itu ATM berjalan Sherly. Jadi sekarang dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan model itu.


Sampai di ruangan kantornya, dia melihat kakeknya sudah ada di dalam. Sedang memeriksa berkas-berkas di mejanya. Leon menghela nafas panjang dan duduk di sofa, memperhatikan kakeknya yang sedang memeriksa satu persatu hasil kerjanya selana satu minggu ini.


"Kamu dari mana?" tanya kakek Wira tanpa melihat Leon.


"Menemui Sherly." jawab Leon cepat.


Tangan kakek Wira berhenti, kepalanya mendongak. Menatap datar pada cucunya itu, Leon tersenyum sinis.


"Aku memutuskannya kek, jangan khawatir. Setelah ini aku tidak lagi menemuinya." kata Leon.


"Baguslah, jika kamu sadar." kata kakek Wira.


Dia bersedekap dan menatap Leon, menghela nafas panjang.


"Apa karena rekaman itu?" tanya kakek Wira.


Leon diam saja, dia hanya mendesah berat. Seharusnya memang menuruti apa kata kakeknya dari dulu.


"Kakek juga banyak bukti tentang perselingkuhan gadis model itu. Bahkan dia masuk hotel dengan laki-laki lain, entah apa yang dia lakukan di dalam kamar hotel. Kamu pasti sudah menebaknya, Leon. Jika butuh bukti lagi, kakek akan kirim ke ponselmu. Bahkan ketika dia ada di Singapura, kamu pikir benar dia ikut kontes model di sana? Dia hanya cadangan saja di sana, bahkan dia selalu bersenang-senang dengan produsernya sendiri. Dasar naif." kata kakek Wira.


Membuat Leon semakin geram dengan Sherly, matanya memerah menahan amarah. Berkali-kali dia mendengus kasar, karena cerita dari kakeknya lebih banyak dari pada rekaman Luna. Leon bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela yang di tutup kaca riben.


Memandang jauh ke gedung-gedung tinggi, di pejamkannya matanya. Tangan kanannya memukul keras kaca di depannya, ingin dia berteriak kencang.


Kakek Wira bangkit dari duduknya, dia berjalan keluar dari ruang kantor Leon. Leon menyesali dirinya sendiri, masih berdiri di depan kaca jendela dengan amarah yang besar. Entah dia marah karena tidak juga menyadari kesalahannya selalu percaya pada Sherly, atau memang karena kebodohannya selalu buta dan menuruti kemauan Sherly.


Hingga banyak yang dia buang uang untuk gadis munafik itu, entah sudah berapa ratus juta uang keluar dari tabungannya sendiri. Bahkan uang yang ada di ATMnya malah tambah sedikit. Kembali Leon menarik nafas, kali ini lebih pelan. Dia berbalik dan tubuhnya mundur karena kaget ada gadis yang tadi malam tidur mengorok.


"Sedang apa kamu di sini?!" tanya Leon masih dalam keterkejutannya.


"Kakek bilang beliau mau makan siang di kantor, dan gue bawa makan siang untuk kakek Wira. Di mana beliau?" tanya gadis itu yang ternyata Luna.


"Ck, membawa bekal hanya untuk kakek saja? Mana bekal makanan untuk suamimu?" tanya Leon.


"Gue cuma bawa bekal buat kakek Wira, lo ngga minta di bawakan makanan." kata Luna.


"Ish, udah sini bekalnya. Kakek udah makan di restoran sama Riko, bekalnya buat aku aja." kata Leon mengambil bekal dari tangan Luna.


"Tapi itu untuk kakek, jangan di makan!" teriak Luna.


"Aku bilang, kakek udah makan. Ngga percaya banget sih!"

__ADS_1


"Kalau udah makan, mana mungkin kakek Wira minta di bawakan bekal makanan?!" kata Luna masih dengan nada tingga.


"Haish! Biar aku hubungi kakek, apakah beliau sudah makan atau belum." kata Leon.


Dia mengambil ponselnya danenghubungi kakeknya.


"Halo, Leon. Ada apa?"


"Luna datang bawa bekal makanan yang kakek minta. Apa kakek sudah makan?" tanya Leon melirik pada Luna.


"Sudah, kamu saja yang makan. Kakek sudah kenyang." kata kakek Wira.


"Oke, aku akan makan bekalnya." kata Leon.


Klik!


Dia menutup sambungan teleponnya, lalu duduk di sofa. Menyuruh Luna juga duduk dan menyiapkan bekal makanannya, agar dia cepat makan.


"Benar kakek udah makan?" tanya Luna tidak percaya.


"Ya ampun, kamu ngga percaya banget sih. Cepat buka kotak makannya, aku lapar." kata Leon lagi.


Luna pun membuka kotak makannya, dia juga baru tahu isi makanan itu. Karena yang menyiapkan semuanya bi Dori.


"Kamu udah makan?" taya Leon meminta Luna menyendok nasi dan lauknya.


"Kamu makan juga sama aku, gantian juga ngga apa-apa."


"Nanti aja, udah cepat lo makan. Setelah ini gue mau pergi." kata Luna.


"Pergi kemana?" tanya Leon.


"Ada pokoknya." jawab Luna.


"Buka mulutmu, aaa."


"Apa sih, kayak anak kecil aja!" kata Luna ketus, dia malu harus di suapi Leon.


"Buka mulutnya! Atau aku cium kamu?!"


"Ish! Kenapa sejak kemarin lo maksa-maksa terus ya?!" kata Luna ketus karena kesal dengan suaminya.


"Makanya nurut, buka mulutnya." kata Leon lagi.

__ADS_1


Mau tidak mau Luna membuka mulutnya, tapi masih dengan tatapan kekesalan pada Leon. Leon sendiri tidak peduli Luna kesal padanya. Dia menyuapi Luna beberapa kali dan dirinya juga. Setelah makanan habis oleh mereka berdua, Luna merapikan lagi kotak makannya.


Leon mengambil air minum untuk Luna, dia pun menerimanya dan menenggak isinya dengan cepat sampai tandas.


"Kamu mau kemana? Biar aku antar." kata Leon.


"Ngga usah, gue mau ketemu Dewi." kata Luna.


"Dewi siapa?"


"Tetangga gue."


"Berarti kamu mau pulang ke rumah bapak?" tanya Leon lagi semakin penasaran.


"Ck, kenapa lo kepo banget deh dengan urusan gue?!" tanya Luna kesal.


"Ish! Suamimu bertanya, dan kalau mau pergi itu harus izin suami. Meskipun pergi ke rumah orang tua, ridho istri itu ada di tangan suami. Makanya kalau mau pergi izin sama aku." kata Leon.


"Ck, pura-pura jadi suami yang baik. Lo sendiri masih memikirkan gadis model itu, terus masih juga menemui dia. Buat apa jadi suami?!"


"Aku udah putus sama dia! Jadi jangan menyangkaku lagi ketemu Sherly. Aku tidak akan menemuinya lagi, aku udah ngga ada urusan sama dia. Dan kamu jangan khawatirkan itu." kata Leon.


Membuat Luna diam, menatap Leon lebih lama. Lalu berpaling ke arah jendela. Menghela nafas panjang, dan mengambil kotak bekal makananya.


"Gue pulang." kata Luna.


"Katanya mau ketemu bapak? Ayo aku antar, sekalian aku mengunjungi mertuaku. Aku udah lama belum mengunjungi bapakmu sejak menikah." kata Leon, Luna tersenyum sinis lalu menggeleng.


"Lo sedang kerja, ngga usah ikut." kata Luna berusaha mencegah Leon ikut ke rumah bapaknya.


"Aku bebas hari ini, pekerjaanku sudah selesai."


"Yakin? Jangan sampai nanti sampai rumah kakek marah sama lo." ucap Luna.


"Itu berkas pekerjaanku selama seminggu, dan tadi kakek ada di ruanganku. Beliau memeriksa hasil kerjaku, jadi jangan khawatir aku di marahi kakek. Kakek ngga pernah memarahiku masalah pekerjaan, karena beliau tahu kalau aku bekerja dengan baik. Sudah, jangan membantah lagi. Aku tetap ikut sama kamu." kata Leon lagi.


Mau tidak mau Luna pun pasrah, dia keluar lebih dulu. Di susul Leon di belakangnya setelah mengunci ruang kantornya, tapi sebelumnya dia mengirim pesan pada kakeknya kalau dia pergi ke rumah bapaknya Luna.



guys, mampir kemari yuks, bagus ini ceritanya ya..


_

__ADS_1


_



__ADS_2