
Dua hari Indah selalu datang ke rumah ibunya Riko, dengan alasan membawa makanan atau cemilan apa saja. Agar dia bisa bertemu Riko, dan tentu saja ibu Juminah selalu memaksa Riko untuk menemuinya dan memakan makanan yang di bawa oleh Indah.
Sperti siang ini, dengan malas Riko harus bertemu dengan Indah lagi. Mereka duduk di ruang tami, Riko yang sibuk dengan gadgetnya. Dengan membuka perdagangan saham di bursa saham. Indah dengan senang bisa mengobrol dengan Riko, maka dia pun berinisiatif mengajak Riko jalan. Indah melihat mobil Riko ada di depan, pastinya dia ingin mencoba mobil milik Riko.
"Mas Riko, kita jalan yuk." kata Indah.
Riko diam, dia menoleh pada Indah. Sebenarnya Indah tidak seperti apa yang di katakan ibunya yang kalem, pendiam dan juga penurut. Riko tidak melihat itu pada Indah, justru dia melihat Indah yang agresif.
"Mas Riko kok diam aja sih?" tanya Indah.
"Memang kamu mau kemana?" tanya Riko.
"Ke mall mas, aku pengen di belikan baju sama mas Riko. Heheh." kata Indah dengan tidak tahu malunya.
Membuat Riko jadi semakin malas pada gadis di depannya itu. Ibunya benar-benar tidak tahu kalau gadis bernama Indah itu gadis yang matre.
"Kamu belum jadi pacar aku aja udah minta seperti itu, gimana nanti kalau jadi istri?" kata Riko.
"Ya, kan aku akan beli banyak barang mas. Suami sayang istri pasti menuruti kemauan istrinya kan." kata Indah.
"Memang kamu yakin aku akan menikahimu?" tanya Riko mencibir.
"Kan kata ibu mas Riko mau nikahin aku sama mas Riko." kata Indah lagi.
"Kamu bukan tipeku, belum apa-apa minta di belikan baju. Itu namanya ngelunjak, aku bukan pacarmu. Kita baru kenalan, dan sekarang tidak usah datang lagi kemari deh." kata Riko langsung saja bicara apa adanya tentang ketidak sukaannya pada Indah..
Sudah bisa di tebak, biasanya parempuan seperti itu akan sama dengan Sherly. Mantan pacar Leon, dia akan meminta banyak barang. Dan jika menikah, akan bertambah melunjak keinginannya.
Indah diam, dia malu mengatakan seperti itu pada Riko. Dia kira Riko suka padanya, tapi ternyata dia di hina oleh Riko saja. Riko tahu Indah malu padanya, dia menghela nafas panjang.
"Kita itu hanya berkenalan saja, dan jika saya suka sama kamu bukan berarti harus seperti ini. Cobalah untuk tidak meminta apa pun sebelum kamu sudah pasti jadi istri orang. Maaf ya Indah, saya bukannya tidak mau membelikan baju atau apa pun sama kamu. Tapi kamu baru kenal saya beberapa hari lalu, dan saya juga belum tentu suka sama kamu. Apa lagi jadi pacar lalu jadi istri." kata Riko lagi menjelaskan pada Indah.
"Maaf mas Riko, kalau begitu Indah pulang aja." kata Indah yang sudah menahan malu karena ucapannya tadi.
Dia terlalu percaya diri menganggap Riko suka dan mau di jodohkan dengannya.
__ADS_1
"Indah, lain kali kalau punya pacar harus hati-hati. Mungkin saya tidak meminta apa pun sama kamu dengan membalas permintaan kamu itu. Tapi bagaimana jika laki-laki lain? Sudah pasti akan meminta imbal balik dengan sikap kamu yang seperti itu, misal minta keperawanan kamu misalnya. Apa kamu mau menyerahkan begitu saja pada laki-laki yang meminta seperti itu sama kamu?" tanya Riko.
"Ngga mas, Indah ngga mau." kata Indah.
"Makanya, nanti kalau kamu punya pacar jangan meminta apa pun. Kamu harus hati-hati, banyak laki-laki yang mendekati hanya karena ingin tidur dengan kamu. Setelah mendapatkannya, kamu nanti di tinggalkan sama laki-laki. Kamu sendiri yang sengsara kan?" kata Riko.
Dia menasehati Indah agar jangan sampai gadis itu menyerahkan apa yang jadi miliknya berharga. Indah diam saja, dia merasa ada yang benar dengan ucapan Riko.
Tiba-tiba dia menangis terisak, entah apa yang membuat Indah menangis terisak itu. Riko heran dan bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Riko.
"Hwuaa! Indah pernah kenalan sama cowok mas Riko, dia kenalan di facebook sama Indah. Terus ajak ketemuan, katanya pengen kenal dekat sama Indah. Jadi Indah mau ketemu sama cowok itu." kata Indah bercerita.
"Lalu?"
"Lalu kita sering ketemu dan jalan-jalan. Awalnya Indah ngga minta apa-apa terus dia nawarin Indah beli baju dan apa saja yang Indah mau. Hik hik hik." kata Indah kembali terisak.
"Kamu masih ketemu sama dia?" tanya Riko.
"Ya sudah, lupakan saja. Dia memang laki-laki hanya main-main saja sama kamu." kata Riko.
"Tapi, ... Indah sama dia sudah ...." ucapan Indah terhenti.
Ibu Juminah pun mendengar cerita Indah itu, dia mendekat dan bertanya pada Indah.
"Indah sama laki-laki itu sudah apa?" tanya ibu Juminah membuat kaget Riko dan Indah.
Indah menatap ibu Juminah dengan takut, Riko juga kaget dan menyuruh ibunya diam dulu.
"Bu, sudah. Jangan tanya Indah." kata Riko.
Dia tahu cerita Indah itu mengarah pada pergaulan bebas, dan Indah di jebak pastinya dengan rayuan mautnya laki-laki buaya.
"Indah! Cepat katakan sama ibu!" kata ibu Juminah.
__ADS_1
"Bu, jangan menghakimi Indah. Bukan ibu yang memarahi Indah, tapi ibunya Indah." kata Riko.
"Tapi dia bohong sama ibu, Riko."
"Ya, tapi bukan Indah yang mau. Ibu dan ibunya Indah kan yang mau menjodohkan aku sama Indah. Aku juga ngga mau bu, tapi kasihan kalau Indah sampai di ketahui sama ibunya." kata Riko lagi.
"Tapi, dia harus jujur kalau anak gadisnya itu sudah tidak perawan! Ibu kecewa sama kamu dan ibumu, Indah." kata ibu Juminah ketus penuh kekesalan.
Dia masuk ke dalam kamarnya dan menutupnya dengan kencang pintunya. Membuat Riko dan Indah terlonjak. Indah hanya menunduk saja, dia malu sekali pada Riko dan ibu Juminah.
"Jadi benar, kamu sudah melakukan itu sama cowok yang kamu kenal di facebook?" tanya Riko.
Indah hanya diam, lalu mengangguk pelan. Tangisnya pecah lagi. Riko menghela nafas panjang, dia tidak mengerti dengan pergaulan gadis jaman sekarang. Gadis pendiam bukan berarti dia kalem dalam hal laki-laki, tapi terkadang akan terlihat seperti Indah.
Tertipu dengan laki-laki yang mengajak berkenalan, lalu semakin jauh hubungan mereka. Pada akhirnya si gadis akan di tinggalkan setelah meneguk manisnya mahkota seorang gadis.
"Sudahlah, lebih baik kamu harus berhati-hati jika kenalan di media sosial di mana pun. Jangan mudah tergoda oleh rayuan laki-laki, dan kamu kalau punya pacar dan serius sama kamu. Lebih baik kamu jujur, jangan seperti sekarang." kata Riko memberi nasehat pada Indah.
"Iya mas, tapi yang seperti Indah banyak kok mas. Teman Indah juga ada yang seperti Indah." kata Indah lagi, sudah tidak menangis lagi.
"Ya kami tetap harus hati-hati. Meskipun teman-teman kamu banyak yang seperti itu, kamu jangan ikut-ikutan lagi." kata Riko lagi.
"Iya mas, maaf ya mas Riko. Indah pulang dulu, terima kasih nasehatnya." kata Indah.
"Ya, sama-sama Indah." kata Riko.
Indah pun keluar dari rumah ibu Juminah, Riko hanya memandangi kepergian Indah yang menurutnya kasihan. Untung dia tidak hamil setelah melakukan itu dengan laki-laki brengsek. Kalau hamil, sudah pasti ibunya tidak akan memaksanya berkenalan dan menjodohkannya dengan gadis anaknya ibu Raisah itu.
Mampir guys kemari punya teman othor, senang sedih ada lho di cerita ini..😊
_
_
__ADS_1