
Sudah setengah tahun Luna dan Leon menjadi suami istri normal. Luna bisa meladeni Leon di meja makan dan juga mengikat dasi suaminya. Karena sejak mereka sering mengungkapkan perasaan cinta masing-masing, Leon semakin manja pada istrinya Luna.
Kali ini, mereka berada di kamar. Leon mau berangkat ke kantor dan meminta Luna mengikat dasinya. Mengikat dasi pada suaminya sebenarnya menyenangkan, bisa lebih dekat dan menatap satu sama lain. Dan Leon, sudah pasti tangannya kemana-mana.
Plak!
Tangan Leon di pukul oleh istrinya karena seperti biasa dia memainkan slime Luna. Dia tersenyum, seperti bayi yang mendapatkan mainan. Leon sangat suka dengan bagian itu untuk di mainkan jika mereka berdua.
"Kok aku lihat slime kamu tambah besar ya?" kata Leon kembali memencet slime Luna.
"Kan emang segitu besarnya." kata Luna salah terus dengan ikatan dasinya.
"Ngga deh, aku kan setiap hari mainan slime kamu. Jadi aku tahu ukurannya, sekarang melebihi tanganku pegangnya." kata Leon memencet kembali slime itu.
"Apa sih, jangan di pencet kencang gitu, ih!"
Plak!
Kembali Luna memukul tangan suaminya yang jahil. Leon tertawa senang, Luna pun selesai mengikat dasi suaminya. Dia tersenyum, lalu mengambil tas suaminya di atas ranjang.
"Aku mau main ke rumah bapak ya siang ini." kata Luna.
"Kangen sama bapak?" tanya Leon.
"Kangen sama Boby sebenarnya, tapi pengen ke rumah bapak dulu." jawab Luna.
"Eh, siapa Boby?" tanya Leon curiga.
"Ck, itu. Teman satu pasar yang nagih iuran. Aku udah lama ngga ketemu dia sejak menikah, bahkan aku ngga undang dia di nukahan aku." kata Luna lagi.
"Terus? Kamu mau ke pasar lagi?" tanya Leon.
"Ketemu Boby aja, ngga apa-apa kan?" tanya Luna.
"Ck, tadi katanya mau ke rumah bapak. Kenapa sekarang mau ketemu Boby?" tanya Leon merajuk.
"Ish! Dia telepon terus, kalau aku ngga ketemu dia. Dia akan terus ganggu aku dengan teleponnya." kata Luna.
"Dia suka sama kamu?"
"Ya nggalah, dia lebih tua dari aku."
"Ya kan bisa aja dia suka sama kamu."
"Ngga! Udah jangan bawel deh, sebentar aja kok. Setelah itu aku ke rumah bapak, kamu boleh jemput aku di rumah bapak sorenya sepulang dari kantor." kata Luna.
Leon diam, dia tahu sudah lama Luna ingin pergi ke pasar menemui Boby teman satu profesinya. Karena Leon melarangnya terus, Luna menurut tidak ke pasar. Biasanya jika preman benar-benar itu akan memaksa dan memberontak, tapi Luna selalu menurut apa katanya.
"Ya udah, hari ini aja ya. Besok-besok jangan ketemu lagi, aku cemburu." kata Leon.
"Cemburu? Emang aku melakukan apa? Aku ngga macam-macam sama dia kok." kata Luna.
"Iya aku percaya."
Mereka turun ke bawah untuk sarapan pagi. Kakek Wira senang cucunya sudah mulai mencintai Luna, dan sepertinya sebentar lagi akan mendapatkan cicit dari Leon.
_
__ADS_1
Luna duduk di jondol yang biasa dia nongkrong dengan Boby setelah mereka menarik uang iuran di pasar. Boby kini sedang menarik iuran ketika Luna datang. Tukang parkir di pasar kaget dengan datangnya Luna kembali ke pasar.
"Luna, lo udah ngga di pasar lagi?" tanya pedagang yang kenal dengan Luna.
"Ngga bang, gue udah nikah sekarang." jawab Luna.
"Lho? Kapan nikahnya? Ko abang ngga di undang?" tanya pedagang itu bernama Toni.
"Heheh, Boby aja ngga gue undang bang. Makkumlah dadakan nikahnya." kata Luna.
"Lo bunting duluan ya, nikah dadakan?"
"Kagaklah bang. Gue tonjok dulu selebum orang sentuh gue sampe bunting." kata Luna lagi.
"Tapi lo kayaknya lagi bunting deh."
"Eh! Masa sih bang?"
"Lha itu, perut lo gendut. Lo ngga sadar lagi bunting?"
"Kagak bang."
"Periksa sana. Tapi lo ada mual muntah ngga? Waktu bini abang sih kalau ngidam tuh ya, dia mual-mual dan muntah. Lo ngerasa gitu ngga?" tanya Toni.
"Kagak sih bang, cuma pagi aja gue mual sebentar. Terus biasa aja, lha pikir gue ngga hamil." kata Luna.
Lagi asyik ngobrol, Boby datang dengan wajah kaget dan senang. Luna datang lagi ke pasar.
"Lunaaa!" teriak Boby.
"Lo sombong banget sih jadi cewek. Kagak datang-datang kemari, nikah juga kagak undang gue. Lo lupa sama gue?" tanya Boby.
"Sori, gue nikah dadakan. Lo masih di pasar?"
"Ya masih, gue sendirian. Lo ngga ada, jadi duitnya buat gue semua. Heheh." kata Boby.
"Ya, terserah lo. Yang nagih kan lo sendirian."
Mereka mengobrol santai di jondol, Luna minta pada Boby banyak jajanan di pasar, bahkan minta di bayari pula. Membuat Boby cemberut. Herannya, Luna banyak sekali makan dan jajannya.
"Lo makan banyak banget, apa ngga kekenyangan itu perut?" tanya Boby.
"Ngga, mungkin benar gue lagi ngidam ini. Jadi pengen makan banyak dan minta jajan sama lo." kata Luna mengunyah makanan kerak telor.
"Ngidam? Lo hamil?" tanya Boby.
"Kata bang Toni gue kayaknya ngidam. Makanya makan gue banyak." kata Luna.
"Kamu hamil?!"
Tanya seseorang yang tiba-tiba datang di belakang Luna. Luna menoleh, dia melihat suaminya.
"Lho, kok kesini?" tanya Luna.
"Aku cari kamu ke rumah bapak, tapi rumahnya sepi. Kamu lagi apa di sini?" tanya Leon.
"Ketemu Boby, tuh dia orangnya." kata Luna menunjuk Boby.
__ADS_1
"Salam kenal om." kata Boby menyapa Leon.
"Om? Memangnya aku om kamu." kata Leon.
"Ya, kelihatannya kan lebih tuan dari gue om." kata Boby lagi.
"Ish! Jangan panggil om! Kamu siapa Luna?" tanya Leon.
"Teman Luna, bang. Luna itu lagi ngidam, tadi dia makan banyak." kata Boby laporan pada Leon..
"Eh, dia makan apa aja?" tanya Leon.
"Makan siomay, mie ayam, surabi, ciki-ciki lima bungkus. Terus tadi yang terakhir kerak telor, itu uangnya dari gue bang." kata Boby lagi.
"Lo gitu aja laporan. Gue lapar, Boby."
"Yakin kamu hamil?" tanya Leon.
"Ngga tahu, tadi kata bang Toni perut gue buncit." kata Luna.
"Ya udah, kita periksa aja ke dokter. Siapa tahu benar kamu hamil, aku sangat senang sekali." kata Leon dengan wajah ceria.
"Aku masih pengen di sini, nanti aja periksanya." kata Luna.
"Periksa dulu, besok boleh kesini lagi. Minta jajan tuh sama si Boby lagi." kata Leon.
"Bener gue boleh kesini lagi?"
"Iya, asal dia jajanin kamu." kata Leon.
"Dih, suami istri ngga ada akhlak. Ngga modal namanya itu, minta jajan tiap hari sama gue."
"Lo mau di temenin gue ngga?"
"Ya mau, tapi ngga setiap hari minta jajan. Rugi gue, mana jajannya banyak lagi."
"Gue ngidam, Boby."
"Cih! Alasan aja. Udah sono pergi, periksa dulu. Bener kagak lo bunting." kata Boby.
Luna menatap tajam pada Boby, dia pun pergi dengan suaminya mau memeriksakan diri ke dokter. Memang sudah dua bulan Luna tidak datang bulan, jadi kemungkinan dia sedang hamil.
Jika benar hamil, Luna akan meminta apa saja pada suaminya, senyum penuh kesenangan mengembang di bibirnya.
"Hahah!"
"...???" Leon.
Mampir guys, ini novel bagus punya teman othor ya..
_
_
__ADS_1