Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
72. Visum


__ADS_3

Riko mengantar Dewi ke dokter, bibirnya harus di obati. Dan juga bekas tamparan Jono harus di visum juga, di ambil bekas tamparan itu. Tangan Jono yang menempel di pipi Dewi.


Setelah dia mendaftar ke bagian resepsionis, Riko dan Dewi menunggu panggilan. Dewi meraba pipinya yang terasa perih, namun di cegah oleh Riko.


"Jangan di pegang. Biar nanti di periksa dulu sama dokter." kata Riko.


"Tapi ini sakit, kurasa pipiku bengkak." kata Dewi berusaha memegang pipinya lagi, namun kembali di cegah oleh Riko.


"Di bilangin jangan di pegang, tunggu dokter memeriksa. Baru bisa di pegang." kata Riko menarik tangan Dewi.


Dewi pun cemberut, dia menatap kesal pada laki-laki yang tiba-tiba jadi posesif itu. Tak lama, Dewi pun di panggil. Mereka masuk ke dalam ruangan dokter, dokter umum. Tapi Riko butuh penjelasan dan hasil pemeriksaan, kemudian di visum untuk bukti menjerat Jono yang telah mencoba menculik Dewi dan memukulinya.


"Mbaknya kenapa?" tanya dokter memperhatikan wajah Dewi.


"Di tampar sama orang songong dokter." jawab Dewi.


"Orang songong?"


"Jadi dia itu tadi habis di culik. Dia berusaha kabur, tapi malah di pukul beberapa kali sama penculik itu, dokter. Saya ingin dia di visum dan di buatkan surat laporan hasil visum. Karena nantinya kami akan melaporkan orang yang berusaha menculik dan menampar pipinya itu, dokter." kata Riko menjelaskan.


"Ooh, ya ya. Baik, saya akan periksa dan menuliskan laporannya hasil visum ya. Nanti pak suaminya ini memotret wajah bagian pipi yang di tampar tadi." kata dokter.


"Pak suami?" tanya Dewi bingung, menatap Riko lalu pada dokter.


"Iya kan? Anda berdua suami istri? Tapi kenapa mbaknya di culik?" tanya dokter jiwa penasarannya keluar.


"Panjang ceritanya dokter. Kalau di ceritakan tiga hari tiga malam ngga selesai." kata Dewi memutus rasa kepo dokter itu.


"Hahah! Baiklah, terserah anda mau cerita atau apa. Mari mbaknya berbaring untuk di periksa ya." kata dokter.


Dewi menurut, dia membaringkan tubuhnya. Lalu dokter memeriksa bagian wajah dan juga tangan dewi, detak jantung serta nadinya. Semuanya di periksa, di tanyakan untuk laporan pemeriksaan. Setelah selesai, dokter menuliskan resep. Dia juga menyuruh asistennya untuk membuat laporan.


"Nanti obatnya di olesi dan ada vitamin untuk di minum ya." kata dokter.


"Iya dokter. Terus tadi, yang di foto wajah saya apakah nanti ada di laporan?" tanya Dewi.


"Ya, tentu saja. Nanti kalau mau lebih teliti lagi, bisa di foto lagi ya." kata dokter.

__ADS_1


"Baik dokter."


Setelah selesai, Riko pun pergi ke apotik untuk menebus obat Dewi.


"Kamu tunggu aja di sini, duduk." kata Riko.


"Iya."


Riko melangkah pergi meninggalkan Dewi. Dewi memegangi bibirnya yang masih terasa perih. Dia benar-benar babak belur kali ini. Ternyata di bagian lengan tangan dan juga kepalanya itu banyak rambut yang rontok ketika tadi di tarik rambutnya untuk masuk ke dalam mobil lagi.


"Sialan si Jono, gue kesal banget sama laki-laki gendut tidak tahu diri itu. Ternyata dia masih dendam aja saka gue." ucap Dewi.


Beruntung tasnya tidak pernah lepas, Dewi pun mengambil ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan dari Riki. Ada juga pesan. Sebelum dia menghubungi Riki, dia mengambil gambar wajahnya untuk bukti nanti. Kemudian dia pun menghubungi Riki.


Tuuut!


"Halo? Lo kemana aja sih ngga pulang-pulang!" tanya Riki.


"Gue habis kecelakaan. Gue di cegat sama si Jono gendut sialan itu. Hampir gue di bawa sama dia, kalau ngga di tolong oleh pak Riko." jawab Dewi.


"Lo di kejar si mantan bos itu lagi?"


"Terus lo ngga kenapa-kenapa? Gimana ceritanya?"


"Nanti aja kalau gue udah sampai toko gue ceritakan. Terus, lo semua udah pada makan suang? tanya Dewi.


"Udah, nunggu lo lama banget. Jadi kita beli sendiri di warung depan toko."


"Gue udah beli kalian soto. Tapi motor gue juga ketinggalan tuh, gue mau ambil motor dulu. Baru gue ke toko." kata Dewi.


"Ya udah, lo hati-hati. Dan gue lihat di depan toko ada yang mencurigakan."


"Mencurigakan apa?"


"Entah, tapi nanti gue minta si Boby menyelidikinya. Gue yakin mungkin itu suruhan di bos gendut itu. Karena gue lihat tadi kenal juga orang yang selalu mengawasi tokonya."


"Ck! Si gendut itu benar-benar ya. Dia benar-benar mau menculik gue. Tapi sekarang gue mau laporin dia ke polisi sama pak Riko." kata Dewi kesal.

__ADS_1


Ternyata memang Jono terobsesi sama dia. Entah apa yang membuat Jono sangat ingin memperkosa Dewi, apakah memang hanya dia yang berani menolak ajakannya, terlebih lagi dia yang lebih dulu menggoda dan genit padanya.


Satu lagi, bagi Dewi. Dia akan mencari tahu para pelayan toko yang pernah di paksa oleh Jono untuk melayani nafsu bejatnya itu. Dia juga akan memberikan saksi pada Jono, dan juga pelayan yang dulu pernah di paksa dan di ancam.


"Yuk, obat sudah di ambil. Kamu mau pulang kemana?" tanya Riko.


"Motor saya ketinggalan pak di tikungan jalan sepi. Aku takut motornya ada yang ambil. Bisa kita kesana dulu pak Riko?" tanya Dewi.


"Oke."


"Oh ya pak, emm masalah Jono itu apa benar mau di laporkan?" tanya Dewi.


"Iya. Apa kamu mau membatalkannya?"


"Tidak, kalau begitu sekalian saja aku mau cari bukti lain. Dia itu kan suka sekali memaksa karyawan yang masih gadis untuk melayani nafsu bejatnya. Pura-pura di ajak pergi belanja, sama seperti waktu itu. Akhirnya di paksa pergi ke motel, kalau tidak mau ya di ancam. Ada teman satu pelayan seperti itu pak, nanti aku cari orangnya." kata Dewi.


"Bagus, itu akan memberatkannya nanti. Semakin banyak saksi dan korban. Semakin berat nanti hukumannya." kata Riko.


"Lagian ya, dia punya istri dua. Cantik-cantik lagi, gue heran sama istrinya itu. Jono itu gendut, hitam dan mata keranjang. Kok istri-istrinya mau sih sama dia itu?" kata Dewi.


"Ya, duit yang bermain. Kalau tidak dengan duit, ngga mungkinkan dia mau. Pasti dia di beri banyak duit, atau ada sesuatu yang membuat mereka mau." kata Riko.


"Seperti apa misalnya?"


"Seperti susuk, mungkin."


"Tapi kok gue ngga kena ya pak?"


"Mungkin kamu gadis yang tidak mudah di bujuk. Atau kamu yang lebih dulu menggodanya, jadi dia sendiri yang tergoda dan terobsesi." kata Riko, mereka sudah berada di mobil.


"Hemm, mungkin juga ya. Gue menyesal dulu pernah menggoda dan genit sama laki-laki gendut itu. Gue pikir dia itu laki-laki bukan seperti itu, tapi setelah tahu kok jadi ngeri sendiri gue." ucap Dewi.


Riko tersenyum, dia melajukan mobilnya sesuai arahan Dewi untuk mengambil motor Dewi di tikungan sepi. Beruntung belum ada yang mengambilnya, jadi Dewi bisa menyelamatkan motornya dan dia bawa ke bengkel dekat daerah tersebut.


_


_

__ADS_1



__ADS_2