
Pagi ini Riko datang lebih cepat, dia akan meminta izin pada Leon untuk melamar Dewi besoknya. Karena sepulang kantor dia akan pulang ke rumah ibunya. Ibunya sudah memintanya untuk segera pulang ke rumah, membeli perlengkapan untuk melamar Dewi.
Dia sudah merapikan berkas-berkas di meja yang akan di periksa oleh Leon. Tak lama, Leon pun datang. Dia heran kenapa Riko datang begitu pagi, dia ingin berangkat pagi tapi justru Riko datang lebih pagi darinya.
"Kamu sudah ada di sini?" tanya Leon, dia duduk di kursi kerjanya.
"Iya tuan, rencananya saya minta izin pulang cepat nanti setelah makan siang." jawab Riko.
"Mau apa?" tanya Leon.
"Besok saya dan ibu saya mau melamar Dewi. Kemudian minggu depannya menikah." jawab Riko dengan wajah senangnya.
"Oh ya? Baiklah, aku turut bahagia untukmu. Jadi kamu akan minta cuti berapa hari?" tanya Leon.
"Emm, besok saja. Dan menjelang pernikahan, saya tetap datang ke kantor. Lalu setelah menikah cuti tiga hari." jawa Riko.
"Baiklah, kamu setelah cuti mau bulan madu?" tanya Leon.
Karena rencana liburannya dengan istrinya belum terlaksana. Dia berinisiatif untuk mengajak Riko dan Dewi liburan bersama.
"Saya tidak tahu tuan, mungkin hanya di hotel saja." jawab Riko.
"Aku punya rencana, setelah pernikahan kamu. Aku ingin liburan, aku bingung mau libura kemana. Kupikir liburan denganmu juga oke, ya hitung-hitung kamu bulan madu. Aku juga belum bulan madu sejak menikah." kata Leon mengutarakan rencanya.
"Ya, itu ide bagus. Bagaimana kalau ke Singapura? Kebetulan ada tawaran kerja sama dengan pengusaha Singapura tuan. Dan anda belum menyetujuinya, bagaimana kalau kita kesana berlibur sambil kerja?" kata Riko mengusulkan.
"Waaah, bagus itu. Coba cek siapa pengusaha yang mau kerja sama dengan perusahaan kita. Kamu setujui dan atur pertemuannya sesuai jadwal liburan kita. Nanti kita kerja sehari dan bisa libur tiga hari di sana, jadi empat hari di Singapura. Bagaimana?" kata Leon dengan sumringah.
"Oke, saya akan hubungi sekretaris di sana dan memesan hotel juga tiket. Tapi, apakah anda akan membawa kwartet?" tanya Riko.
"Tentu saja, istriku tidak mau mereka di tinggal. Jadi nanti pesan beberapa tiket juga untuk babysitter anakku. Dan oh ya, pegawai toko Luna ada berapa?" tanya Leon.
"Anda akan mengajak mereka juga?" tanya Riko.
"Ya, sesekali tidak apa." jawab Leon.
"Yang dekat dengan nona Luna atau semunya tuan?" tanya Riko.
"Memang di toko itu ada pegawai yang tidak dekat dengan istriku?"
"Ada, tukang parkir di depan."
"Baiklah, selain tukang parkir ajak semuanya saja. Aku ingin istriku senang, sesekali mengajak mereka semua jalan-jalan. Dan sebagai hadiah juga buat mereka." kata Leon.
__ADS_1
"Waaah, anda baik sekali. Baiklah, nanti saya hitung ada berapa orang. Kurasa bapaknya nona Luna juga boleh ikutkan?"
"Tentu, pokoknya aku ingin memberi mereka liburan istimewa."
"Tapi nanti anda jadi terganggu dengan liburan dengan nona Luna. Maksud anda ingin bulan madu kan?"
"Ya, kamu pesankan saja kamar yang berbeda denganku. Dan babysitter harus dekat dengan kamarku, agar aku dan istriku bisa dengan mudah mengawasi mereka. Kalau yang lain bisalah agak jauh, biar mereka juga bebas kan." kata Leon.
"Baiklah, terima kasih sebelumnya tuan Leon."
"Istriku belum tahu rencana ini, pasti dia senang sekali mengajak liburan semua temannya oe Singapura. Hahah!" kata Leon tertawa senang.
Riko tersenyum, dia tidak menyangka Leon punya sisi yang lain juga. Ternyata, memang berjodoh dengan Luna itu membawa dampak yang positif. Begitu kira-kira yang di pikirkan Riko tentang Leon.
_
Dewi sudah dandan rapi, dia sangat gugup sekali pagi ini. Karena Riko dan ibunya serta beberapa saudaranya akan datang melamarnya. Di belakang, ibunya sangat sibuk menyiapkan semua hidangan untuk tamu kehormatan anaknya.
Dewi sudah menceritakan perihal calon suaminya itu adalah asisten suaminya Luna. Ibunya sangat senang sekali, karena dia pernah melihat laki-laki asisten suaminya Luna sangat tampan dan juga pendiam.
Pernah juga datang dan mengantar Dewi pulang. Jadi dia sangat bahagia jika Dewi akhirnya akan menikah juga dengan orang yang baik, meski tidak sekata suami Luna. Tapi sangat mencintai anaknya.
"Dewi, lo gugup ya?" tanya Riki ketika laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya.
Maklum saja, kedua sahabat itu sudah sangat akrab. Jadi masuk ke dalam kamar juga tidak canggung, dan Riki juga tahu keadaan di kamar. Tidak hanya asal masuk ketika Dewi sedang mandi atau memakai baju.
"Si Luna sih kagak ada gugup-gugupnya dulu. Lha, dia di lamar calon suaminya aja acuh dulu itu. Lo kan tahu itu, Luna bahkan mau melepas baju kebayanya. Hahah!" kata Riki.
"Benar juga, mungkin Luna dulu kan belum cinta sama pak Leon. Sekarang, duh bucin banget tuh orang." kata Dewi tersenyum mengingat lamaran Luna dulu.
Memang berbeda lamaran dirinya dengan Luna, bahkan banyak kelucuannya ketika lamaran Luna itu, dia juga sangat galak ketika pada Luna ketika itu. Dewi menatap Riki, dia tersenyum. Menatap sahabat kecil laki-laki satu-satunya itu.
"Rik, lo ikhlas kan gue nikah?" tanya Dewi tiba-tiba.
"Eh, lo bicara apa?" tanya Riki.
"Lo ikhlas gue nikah dengan bang Riko." tanya Dewi lagi.
"Iya, gue ikhlas. Mana ada sih sahabat ngga ikhlas sahabatnya nikah?" kata Riki.
"Tapi lo waktu di toko kok ngomongnya patah hati sama gue." kata Dewi.
"Kan gue bercanda, Wi. Gue juga patah hati sama Luna, gue di tinggalin sama kalian berdua." kata Riki.
__ADS_1
"Ya, makanya lo juga bisa kok cepat menikah. Lo kan udah kerja, mungkin juga nanti toko Luna akan gue serahin sama lo. Gue ngga akan selamanya di toko itu terus kan, jadi mungkin beberapa bulan lagi gue serahkan tanggung jawab toko itu sama lo." kata Dewi.
"Tetap aja gue jadi pegawai, bukan pemilik toko Wi. Gue belum berani cari cewek kalau gue belum mapan bener." kata Riki.
"Gue yakin lo nanti punya toki sendiri, semangat aja. Dan bisa kok nanti Luna bantu lo, kalau bisa lo bikin apa kek untuk di jual ke toko Luna. Nanti kan lama kelamaan lo punya usaha sendiri dan berkembang." kata Dewi.
"Hemm, nantu gue pikirkan." kata Riki.
"Oh ya, Luna kok belum datang juga sih. Kan gue udah kasih tahu dia jangan telat datang." kata Dewi gelisah.
"Yaelah, lo kan tahu sekarang Luna ngga sendiri. Kemana-mana dia harus bawa kwartet, jadi rempong dia." kata Riki.
"Benar juga sih. Ya udahlah, gue maklumin aja." kata Dewi.
Baru diam bicara, pintu terbuka lebar. Tampak Luna dengan anggun datang dan masuk ke dalam kamar Dewi.
"Dewiii! Lo akhirnya mau nikah juga." kata Luna memeluk Dewi.
"Ooh, tentu aja gue mau nikah. Siapa juga yang mau hiduo jombol." kata Dewi.
"Riki. Tuh, dia masih jomblo aja. Hahah!"
"Dia mau mapan dulu katanya." jawab Dewi.
"Kan dia udah kerja."
"Tapi katanya belum punya usaha sendiri, jadi belum berani nembak cewek."
"Lo tahu benar ucapan Riki ya. Jangan-jangan lo selingkuh lagi."
"Ish! Baru dia bilang tadi, sebelum lo datang." bantah Dewi.
"Jadi lo patah hati sama gue apa sama Dewi, sih Rik?" tanya Luna menatap Riki.
"Kalian berdua, kalian udah nikah. Siapa nanti teman gue?" tanya Riki.
"Duuh, kenapa juga lo jadi sedih? Cemen lo!"
"Haish! Terserah kalian." ucap Riki.
Dewi dan Luna tertawa lepas, hingga ibu Dewi pun memanggil anaknya itu untuk segera keluar. Karena Riko dan rombongan sudah datang dan ada di depan. Buru-buru Dewi merapikan dandanannya, lalu keluar di susul oleh Luna dan Riki.
_
__ADS_1
_