Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
69. Mengantar Dewi Pulang


__ADS_3

Makan malam sudah di siapkan oleh bi Dori. Leon mengajak makan malam Riko, Dewi, Riki dan Boby. Dia senang bisa menjamu teman istrinya itu, meski dari kalangan biasa. Tapi mereka tahu sopan santun ketika ada di rumah orang lain.


Dewi diam saja, dia melihat menu begitu banyak di meja makan. Luna belum turun dari kamarnya, mungkin sedang memberi asi kwartet sebelum dia tidur istirahat di malam hari.


Leon turun lebih dulu, belum ada yang berani makan karena tuan rumah belum turun ikut bergabung dengan mereka. Leon pun mendekat, dia duduk di kursi biasanya kakeknya duduk. Menatap satu persatu tamunya itu.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Leon.


"Menunggu tuan rumah lebih dulu, masa tamu yang makan duluan." kata Riko.


"Hemm, maaf ya. Kalian pasti sudah lapar, tadi kwartet nangis. Mereka saling berebut bubunnya, jadi bubunnya gendong kwartet dulu. Sebentar lagi dia turun kok." kata Leon.


Dia mengambil piringnya dan membukanya, semuanya juga ikut mengambil piring di depannya dan menunggu Leon selesai mengambil nasi. Setelah selesai, kini bergantian Dewi yang mengambil lebih dulu.


Riko segera menyodorkan piringnya agar Dewi memberikannya nasi di piringnya. Dewi pun mengisi nasi di piring Riko, lalu Riki dan Boby.


Luna pun turun ikut makan bersama dengan teman-temannya. Dia senang bisa makan bareng di meja makan, karena biasanya mereka makan bersama hanya lesehan. Tapi sekarang makan di meja makan.


"Kwartet udah tidur sayang?" tanya Leon.


"Udah, tadi mbaknya agak kewalahan karena Azka sama Devan rewel. Jadi aku beri asi aja dulu, baru bisa tidur tenang." jawab Luna. Dia menyendokkan makanan untuk dirinya.


Luna melihat Riki dan Boby makan lahap, begitu juga Dewi. Dia pun tersenyum, memang jarang mereka makan rumahan seenak masakan bi Dori.


"Makan yang banyak, Boby. Kalau kurang nambah lagi." kata Luna.


"Tenang Lun, kalau boleh sih gue habisin ini lauknya. Heheh." kata Boby.


"Habisin aja, atau kalau mau bawa juga boleh." kata Luna lagi.


"Ish, jangan. Boby mah maruk, apa aja dia makan dan kurang terus." kata Riki.


"Kayak lo kagak aja sih. Lo juga kalau makan banyak banget, noh lauk ikannya sampe dua ekor." kata Dewi menimpali.


"Huh! Lo juga makan banyak Wi, tuh lihat sayur capcay sampe tumpah-tumpah." kata Riki.


"Tapi kan sayur, nasi dikit. Gue lagi diet." kata Dewi.


"Cuih! Diet. Tadi siang lo makan nasi padang, habis. Diet dari mananya? Lo malu aja kali makan depan pak Leon sama pak Riko." kata Riki meledek.


"Kalau udah tahu jangan ngomong! Berisik aja lo!" kata Dewi.


"Kalian ngga pernah apa akur gitu. Ini di meja makan, jangan berisik kalau makan!" kata Luna.


"Tahu tuh si Riki." kata Dewi.


Riki diam, dia makan terus. Leon dan Riko hanya tersenyum tipis, baru kali ini dia melihat percakapan di depan meja makan. Seru juga, biasanya makan kalau bukan cepat selesai ya obrolan serius, bukan pertengkaran kecil seperti itu.


_


"Wi, lo turun deh. Ini motornya bocor tahu rodanya, gue lupa tadi sore mau bilang kalau motornya bocor rodanya." kata Riki.


Ketika mereka mau pulang, Dewi bingung mau pulang dengan siapa. Boby sudah lebih dulu pergi, apa lagi dia motornya butut. Pasti berisik sekali, mending punya Riki. Motornya juga sedang di bengkel.


"Terus gue pulang naik apa?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Ya naik angkotlah. Masa naik bajay." kata Riki.


"Ya kalau ada, bajay lebih mending. Gue takut kalau malam naik angkot." kata Dewi.


"Terus gimana?"


"Ish! Lo ada-ada aja sih pake bocor segala kagak ingat." kata Dewi kesal.


Mobil Riko keluar dari pintu gerbang rumah Leon. Dia memperhatikan Dewi dan Riki masih diam di pinggir jalan, mobil Riko pun menghampiri keduanya lalu berhenti dan membuka kaca mobilnya.


"Dewi, kenapa motornya?" tanya Riko.


"Ini pak, motor Riki mogok, rodanya bocor." jawab Dewi.


"Ya udah, kamu pulang aja sama aku. Nanti Riki jalan aja paling seratus meter ada bengkel yang masih buka." kata Riko.


"Di mana pak?" tanya Riki.


"Jalan aja seratus meter, ada bengkel masih buka di sana. Dewi pulang sama aku aja, aku antar sampai rumah." kata Riko lagi.


"Udah Wi, lo naik mobil pak Riko aja. Lama nunggu gue selesai beresin motornya." kata Riki.


"Ogah ah, gue sama lo aja." kata Dewi.


"Kenapa? Kamu takut aku makan kamu?" tanya Riko tersenyum.


"Ya ngga pak. Tapi, ngga enak aja ngerepotin." kata Dewi beralasan.


"Kalau kamu minta gendong itu ngerepotin. Udah ayo masuk aja, udah malam kan ini." kata Riko lagi.


"Ish! Lo tuh kalau ngomong ya." kata Dewi.


Riko kembali tersenyum, dia membuka pintu mobil depan. Dewi pun masuk lalu duduk di sebelah Riko. Rasanya adem duduk di dalam mobil, mata Dewi berkeliling ke segala mobil Riko. Membuat Riko heran.


"Kamu cari apa?" tanya Riko mulai melajukan mobilnya pelan.


"Kok ngga ada ACnya sih pak?" tanya Dewi.


"Ada kok, belum menyala aja. Kan tadi berhenti." jawab Riko.


Dia membuka pembuka AC di depannya, terasa sejuk di dalam mobil. Dia melihat Dewi senang, lalu tersenyum.


"Kamu akrab banget ya sama temanmu itu." kata Riko membuka pembicaraan dalam perjalanan menuju rumah Dewi.


"Ya, dia teman sejak kecil. Kan sudah aku ceritakan sama pak Riko kalau aku, Luna dan Riki itu teman sejak kecil. Jadi kami akrab, nomor beha Luna aja gue tahu. Riki juga tahu nomor celanna dalaam kami." kata Dewi tanpa malu menceritakan semuanya.


"Waah, jadi kalian suka saling tukar beha dan celanaa dalaam ya? Heheh." kata Riko tertawa kecil karena lucu dengan pertemanan mereka.


"Ish! Ya kagak pak. Tapi pernah aku pinjam punya Luna karena punyaku habis basah semua. Heheh." kata Dewi lagi.


Riko tersenyum, memang berteman sejak kecil itu sangat menyenangkan. Apa lagi akrab sampai mereka dewasa. Tidak semua teman kecil sewaktu bertetangga itu bisa akur dan jadi tahu seluk beluk pribadi masing-masing teman. Tapi kalau sama-sama enak untuk meminta tolong dan tidak menjatuhkan salah satunya itu sangat menyenangkan punya teman kecil seperti Luna, Dewi dan Riki.


Riko takjub pada ketiganya yang saling bantu ketika mereka punya kerepotan. Dia ingat dulu sewaktu lamaran dan Luna selalu gatal punggungnya karena tidak biasa menggunakan baju kebaya. Dan Dewi dengan suka rela mengelus punggungnya agar Luna tidak melepas baju kebaya itu.


Dewi itu pribadi yang menarik, dia gadis ceria dan bicara apa adanya tanpa merasa menjaga dirinya agar tetap jadi gadis yang anggun.

__ADS_1


"Maaf ya, soal tadi waktu di rumah Luna. Aku cuma bercanda." kata Riko.


"Soal apa pak?" tanya Dewi.


"Ya kamu genit menggoda bos gendut itu. Hehhe."


"Oh, itu. Ngga apa-apa, aku sudah lupa." kata Dewi.


"Emm, kamu sudah punya pacar?" tanya Riko.


"Kagak ada yang mau sama aku." jawab Dewi.


"Kenapa? Kamu kan cantik, menarik menurutku." kata Riko.


"Cantik dari mana? Luna yang lebih cantik, kulit wajahnya aja halus banget. Aku pernah jerawatan di wajah hampir seluruhnya." kata Dewi.


"Tapi aku lihat wajah kamu halus kok."


"Ya, karena aku rawat pak Riko. Kalau ngga di rawat, pasti jerawatku menumpuk." kata Dewi lagi.


"Ya, memang wajah itu harus di rawat agar tidak kusam dan banyak jerawatnya. Atau mungkin kamu ada alergi kulit jadi suka muncul jerawat." ucap Riko.


"Memang ada jerawat akibat alergi?"


"Ada. Kamu bisa konsultasi ke dokter kulit, agar jerawat kamu itu tidak timbul lagi." kata Riko mengusulkan.


"Waah, konsultasi ke dokter itu mahal. Mana bisa aku konsultasi ke dokter kulit."


"Nanti aku antar kamu ke dokter kulit yang murah dan hasilnya memuaskan. Mau ngga?" tanya Riko.


"Waah, mau kalau begitu."


"Oke, nanti kalau aku ada waktu luang mampir ke toko tempat kamu kerja." kata Riko.


"Oke deh. Aku tunggu pak Riko."


Riko tersenyum, mobil sudah sampai masuk gang rumah Dewi. Hanya beberapa meter saja jarak rumah Dewi dan Luna, sebelah rumah Dewi itu rumah Riki.


Dewi turun dari mobil Riko, dan Riko juga turun mengantar Dewi sampai depan rumahnya. Merasa tidak enak, Dewi pun memberi ucapan terima kasih agar Riko tidak masuk ke halaman rumahnya.


"Terima kasih pak Riko, aku sampai merepotkan pak Riko mengantarkan pulang." kata Dewi.


"Ngga apa-apa. Aku ngga repot kok, senang malah. Heheh."


Dewi tersenyum, dan Riko pun salah tingkah sendiri.


"Ya udah, aku pulang ya. Cepat tidur."


"Ya, pak Riko. Terima kasih."


Riko melambaikan tangannya dan Dewi membalasnya. Riko masuk ke dalam mobilnya lalu melaju pelan memutar agar bisa keluar dari gang tersebut.


_


_

__ADS_1



__ADS_2