Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
54. Keakraban Leon Dan Riko


__ADS_3

Obrolan Luna dan Dewi terhenti karena Riki datang dan masuk ke dalam rumah bapaknya Luna. Dia langsung duduk dan mencomot singkong yang ada di piring Luna. Luna diam saja, sedangkan Dewi mengerutkan dahinya heran.


"Lo tadi gue ambil singkongnya marah-marah, sekarang di ambil Riki lo diam aja." kata Dewi.


"Gue spesial, Wi di hati Luna." kata Riki, membuat Dewi mencibir.


"Gue udah kenyang." kata Luna santai.


"Kalian ngobrol apa sih? Kok asyik bener." tanya Riki.


"Eh, kalian ngga pada kerja?" tanya Luna pada Dewi dan Riki.


"Gue libur, tahu tuh si Dewi." jawab Riki.


"Gue males kerja hari ini, bos gue naksir gue. Ih, mana gendut dan genit lagi." kata Dewi.


"Yeez kan lo yang goda dia duluan, ucil!" kara Riki.


"Ya gue sih tadinya cuma bercanda. Tapi dia beneran goda gue balik, mana udah punya istri lagi." kata Dewi.


"Hahah! Lagian lo sih kenapa juga mancing-mancing dia. Cowok kayak bos lo itu ngga bisa di goda-goda, dia mata keranjang." kata Riki.


"Udah, nanti gue buka toko. Dan lo semua yang jaga toko gue. Suami gue juga nanti cariin tempat yang strategis." kata Luna.


"Kapan?" tanya Dewi antusias.


"Nanti, gue kabari kalian. Suami gue lagi sibuk kerja soalnya." kata Luna lagi.


"Lama dong."


"Kagak!"


"Luna, bapak bawa mangga nih buat kamu." kata Jack masuk ke dalam runah.


Dia memberikan satu plastik kresek kecil berisi tiga buah mangga pada Luna.


"Bapak ngga ke parkiran?" tanya Luna.


"Ini dari parkiran, dan ada buah mangga. Bapak ingat kamu lagi hamil, siapa tahu cucu bapak mau minta mangga." kata bapaknya Luna lagi.


Riki dan Dewi hanya diam saja, mereka kembali makan singkong sisa tadi. Jack melihat singkongnya di makan Riki dan Dewi pun terkejut.


"Eh, itu singkong kalian makan semua?" tanya Jack dengan mata melebar.


"Habis om, tuh anak om yang makan." kata Dewi.


"Heh! Lo kan yang habisin singkong bapak sama Riki." kata Luna menatap tajam pada Dewi.


"Ya, gue cuma minta dikit doang. Tuh si Riki banyak banget makannya." ucap Dewi lagi.


"Aaah, sudah. Itu persediaan buat nanti sore, bapak suka makan singkong. Malah kalian makan semua!" ucap Jack dengan menggerutu.


"Heheh, nanti beli lagi om." kata Dewi.

__ADS_1


Jack pergi keluar dari rumah, dia pun segera naik motor lagi kembali ke parkiran apotik. Ketiga sahabat itu masih mengobrol dengan asyik di rumah Luna.


_


Riko kini di tempatkan sebagai asisten Leon yang dulu menjadi asisten kakek Wira. Awalnya Leon tidak mau menggunakan asisten, tapi memang di pikir-pikir harus memakai asisten. Apa lagi Riko sudah mengetahui seluk beluk apa yang di kerjakan oleh kakeknya, jadi Leon butuh Riko.


Tapi sebatas pekerjaan saja, bukan di rumah juga seperti dulu kakeknya lakukan. Makanya setiap Leon pulang, Riko juga pulang ke apartemennya.


"Tuan Leon, lusa boleh saya cuti?" tanya Riko.


"Kenapa? Kamu mau pulang ke rumah ibumu?" tanya Leon.


"Ya tuan, ibu saya sakit. Dan meminta saya untuk pulang ke rumah ibu." kata Riko.


"Hemm, aku tahu apa yang ibumu mau. Hahah!" kata Leon meledek Riko.


Riko tersenyum, dia diam saja. Memang benar, ibunya meminta Riko untuk segera menikah. Tapi dia belum ada calon untuk di jadikan pacar, apa lagi istri.


"Namanya orang tua, tuan Leon. Dulu juga anda di suruh cepat menikah kan." kata Riko.


"Ya, meski pilihan kakek adalah benar. Tapi untuk di paksa menikah itu sangat merepotkan." kata Leon.


"Tapi kelihatannya anda bahagia, apa lagi nona Luna sedang hamil anak kembar." kata Riko.


"Kamu benar, aku sangat bahagia. Meskipun Luna dulu sangat kasar, tapi secara perlahan dia sudah bisa menjadi istri yang baik. Bisa melayaniku kapan saja, apa lagi main kuda-kudaan. Hahah!" ucap Leon.


Riko hanya mencibir saja, dulu saja Leon menolak mentah-mentah. Bahkan sesudah menikah pun dia yang menjemput Luna dan mengantarkan gadis itu pulang pergi ke rumah bapaknya. Entah siapa yang lebih dulu jatuh cinta, tapi Riko menebak Leonlah yang lebih dulu jatuh cinta pada gadis preman itu.


"Cepatlah kamu menikah Riko, menikah itu enak. Semua kebutuhan kita terpenuhi, apa lagi masalah harsat kelelakian. Beeuuh, rasanya luar biasa jika sudah mendapatkannya." kata Leon membayangkan sedang main kuda-kudaan dengan Luna.


"Ck, ya nggaklah. Lebih tepatnya kita bisa menyayangi dan mencintai pasangan kita dengan tulus, tanpa meminta apa pun. Luna tidak pernah meminta apa pun, dia membeli barang apa yang dia inginkan saja." kata Leon lagi, kini dia membayangkan Sherly yang selalu banyak maunya ketika dulu masih berpacaran dengannya.


"Jadi, enak mana? Nona Luna atau Sherly?" tanya Riko.


"Tentu saja Luna, slime dia besar. Bisa aku mainkan setiap hari." ucap Leon.


Membuat Riko bingung dengan kata slime, dahinya mengerut.


"Slime?"


"Ya, slime. Slime milik istriku." kata Leon tanpa sadar, dan Riko masoh bingung apa itu slime.


"Anda bermain mainan anak dengan nona Luna? Bukankah slime itu mainan anak-anak?" tanya Riko.


Leon terpaku, dia menatap Riko yang masih bingung dengannya apa yang di maksud dengan slime. Leon tersenyum, dia baru sadar kalau ucapannya mengenai slime itu membuat Riko bingung.


"Sudahlah, jangan pikirkan tentang sliem. Nanti aku beritahu kamu apa itu slime jika sudah menemukan jodohmu sendiri." kata Leon dengan senyum penuh arti.


Riko hanya mengedikkan bahunya, dia kembali merapikan berkas-berkas di meja.


"Oh ya, bagaimana dengan cutiku tuan Leon?" tanya Riko.


"Ya boleh, berapa hari?" tanya Leon.

__ADS_1


"Mungkin tiga hari, hanya menenangkan ibuku saja." kata Riko.


"Jangan hanya menenangkannya saja, berikan janji yang pasti. Kapan kamu akan menikah dan dapat calon istri." kata Leon.


"Jangan khawatir, ibuku di kasih hadiah dariku juga pasti diam. Setidaknya untuk mengulur waktu, sementara aku mencari gadis impianku." kata Riko.


"Ck, memang gadis impianmu seperti apa?" tanya Leon penasaran.


"Seperti nona Luna." jawab Riko santai.


"Apa?!" teriak Leon kesal.


"Kenapa? Tidak boleh?"


"Tidak boleh! Dia istriku yang paling aku cintai, kamu jangan berharap ya menyukai istriku!" kata Leon ketus dan menatap tajam pada Riko.


Riko hanya mencebikkan bibirnya, lalu tersenyum sinis.


"Terus kenapa waktu malam pertama kabur? Membiarkan istrimu jadi tukang parkir di hotel?" tanya Riko membuat Leon diam, namun dia kesal juga.


"Cih! Itu juga kamu kan cari kesempatan untuk dekat dengan istriku? Sayangnya istriku sudah mencintaiku sekarang." kata Leon kesal.


"Ya, karena sudah ketahuan selingkuh pacar tuan Leon. Jadi berpaling pada nona Luna.


"Yang penting sekarang aku sama dia saling mencintai. Tidak peduli dulu kamu membantunya, aku ucapkan terima kasih telah membantu istriku pergi dari hotel dan jadi tukang parkir." kata Leon lagi.


"Baiklah, aku akan cari yang lain saja. Kalau tidak ada yang menarik hatiku, aku akan menunggu nona Luna." kata Riko dengan santai, dan sudah pasti membuat Leon marah.


Dia mengambil bantal di sudut sofa dan melemparnya pada Riko.


"Aduh! Bos tidak ada akhlak."


"Kamu asisten tidak tahu diri, menyukai istri bos. Bahkan menunggu istriku, kamu berharap aku mati?" tanya Leon sengit.


"Aku tidak mengatakan itu." kata Riko.


"Sudahlah, mulai sekarang saja kamu cuti. Lama-lama kamu membuatku kesal." kata Leon.


"Ooh, terima kasih. Sekarang aku mau pulang, selamat siang bos pemarah." kata Riko berdiri dan berlalu dari hadapan Leon.


"Hei! Selesaikan dulu pekerjaannya!"


"Daah pak bos!"


Leon melempar lagi bantal di sofa ke arah pintu, dia benar-benar kesal pada asistennya itu. Sejak Riko jadi asistennya, sikap Riko tidak seformal dulu seperti pada kakeknya. Karena Riko dan Leon usianya tidak jauh beda, tapi mereka sering bercanda ketika sebelum Leon berpacaran dengan Sherly.


Tapi, sejak berpacaran dengan Sherly, dan Riko memihak kakeknya. Jadi hubungan mereka pun ikut renggang juga, dan Riko bersikap formal pada kakeknya. Maka, dengannya juga ikut bersikap yang sama juga.


Namun, sekarang kembali lagi keakraban mereka berdua. Meski awalnya Leon menolak Riko jadi asistennya, tapi kini dia juga merasa senang juga Riko membantu pekerjaannya di kantor.


_


_

__ADS_1



__ADS_2