
Usia anak-anak Luna kini sudah menginjak enam bulan. Mereka sangat aktif sekali, membuat ibunya kewalahan dengan keaktifan keempat anaknya. Terkadang Luna merasa sangat lelah, tapi dia selalu di beri semangat oleh suaminya.
Leon kini menjadi suami yang siaga. Meski ada dua babysitter yang membantu istrinya, tapi dia tetap membantu Luna menjaga anak-anaknya. Dan kali ini dia ingin merencanakan liburan bersama keluarganya.
"Sayang, kamu lelah ya?" tanya Leon dikala Luna sedang berbaring di ranjangnya.
Dia mendekat dan menatap istrinya dari depan. Luna yang terpejam kini membuka matanya, kemudian tersenyum tipis.
"Kalau udah tahu kenapa tanya." kata Luna.
Leon melepas dasinya, dia lempar ke sembarang tempat dan berbaring di samping Luna menghadapnya. Memeluk dan mencium pipi Luna. Tangannya menopang kepalanya, Luna mengubah posisinya jadi menghadap Leon.
"Kita liburan yuk? Kan belum pernah liburan keluar kota, sayang." kata Leon.
"Liburan kemana?" tanya Luna.
"Kemana aja, kamu mau kemana?" tanya Leon.
"Aku ngga tahu tempat liburan yang bagus." jawab Luna.
"Ke Jogja mau?"
"Mau apa kesana?"
"Ya liburan."
"Kwartet gimana? Kan harus di bawa juga, mbak-mbaknya juga ikut." kata Luna.
Tangannya menyugar rambut Leon keatas, membuat rambut suaminya itu berantakan.
"Ya ngga apa-apa. Bawa kwartet juga, tapi aku pengennya kita berdua aja lho yang liburan. Hitung-hitung liburan bulan madu." kata Leon.
"Ngga ah, aku ngga bisa pisah sama kwartet." kata Luna kembali menyugar rambut Leon.
"Ya makanya, mbaknya juga harus di bawa semua. Buat jaga kwartet, dan kita bisa bersenang-senang juga." kata Leon.
Kini tangannya mulai bergentanyangan di bagian depan dada Luna. Membelainya dan memijitnya, dia melihat slime milik istrinya tetap sama. Meski sudah beberapa kali di pumping.
"Euuh!"
__ADS_1
"Ini kok masih tetap aja gede ya, sanyang." kata Leon masih terus memijatnya.
"Kan masih asi akunya, jadi tetap segitu." kata Luna sudah mulai terbuai.
Leon suka dengan Luna yang seperti itu, dia lalu mencium bibir istrinya. Olah raga menyenangkan baginya, karena membuatnya bahagia. Luna sekarang lebih menurut masalah kuda-kudaan, karena dia masih muda.
Jadi gejolaknya masih kuat untuk menikmati hubungan suami istri meski sudah punya anak kembar empat. Dan terjadilah mereka bermain kuda-kudaan di sore hari itu.
Ketika anak-anak mereka sudah rapi dan wangi di sore hari. Siap makan sore dengan jalan-jalan di luar rumah. Sedangkan kedua orang tuanya sedang menikmati bermain kuda-kudaan entah sampai kapan selesai.
_
Luna akan berkunjung ke tokonya, sudah dua bulan sejak melahirkan dia tidak datang ke tokonya karena repot harus membawa anak-anaknya. Meski babysitternya juga ikut di bawa juga, dan sekarang dia sudah mempunyai mobil sendiri untuk keperluannya bepergian.
"Bu, apakah sampai sore kita di toko?" tanya babysitter kwartet.
"Ngga tahu, tapi bawa aja cemilan buat kwartet mbak. Biar ngga kelaparan nanti di sana." kata Luna.
Dia harus membiasakan diri di bantu oleh pembantu dan babysitter, karena memang sangat repot. Kini mereka sudah siap pergi ke toko, Luna juga sudah memberitahu kalau siang ini dia akan berkunjung ke tokonya. Dan tentu saja Dewi sangat senang Luna berkunjung.
Namun Luna belum memberitahu suaminya kalau siang ini akan ke toko miliknya. Karena mendadak, jadi dia harus menghubungi Leon.
Tuuut
"Aku mau ke toko, sudah lama juga sejak kwartet lahir aku ngga berkunjung ke toko." kata Luna.
"Ooh, sampai jam berapa?" tanya Leon.
"Ngga tahu, mungkin sampai sore kalau kwartet ngga ada yang rewel. Tapi kalau rewel ya siang pulang." kata Luna.
"Baiklah, nanti kalau pulang sore kabari aku ya. Nanti aku menyusul kesana."
"Oke."
Klik!
Luna memasukkan ponselnya lalu dia masuk ke dalam mobilnya. Pergi menuju tokonya untuk melihat-lihat seperti apa sekarang. Laporan dari Dewi saja tokonya selalu ramai pengunjung.
Mobil melaju pelan, agar menjaga kenyamanan anak-anak Luna. Dengan perjalanan satu jam ke toko, akhirnya mobil yang membawa Luna dan anaknya pun sampai di toko juga.
__ADS_1
Dewi sudah menunggu di depan pintu toko. Setelah pintu mobil terbuka, dia mendekat dan membantu kwartet keluar dari dalam mobil. Menggendong salah satu si kembar dan membawanya masuk ke dalam toko.
Kebetulan tidak terkalu ramai, jadi dia bisa bebas bermain dengan anak-anak Luna. Riki juga mendekat dan menggoda cantika yang paling cantik di antara saudaranya.
"Wuiiih, ini calon istri gue cantik banget." kata Riki menciumi pipi gembul Cantika.
"Dih, siapa yang mau punya mantu kayak lo! Dekil, jelek." ucap Luna santai.
"Iya, gue tahu lo sekarang jadi orang kaya. Jadi suka banget ngeledek gue." kata Riki.
"Sensi lo, lagian siapa juga yang mau menikah dengan om-om yang udah tua. Bayangin, anak gue udah besar. Lo nanti udah jadi bapak-bapak. Ogah gue punya menantu bapak-bapak, apa lagi seumuran gue. Lebih tua gue lagi." kata Luna lagi.
"Ck, lagian siapa yang mau nikahin anak lo? Pasti nih ya, si Cantika sama barbarnya kayak bubunnya. Meski paling cantik, dia pasti jadi barbar." kata Riki lagi.
"Lo cari pacar sana, tuh si Dewi juga udah mau nikah sama pak Riko. Lo kapan nikah?" tanya Luna.
"Gue lagi patah hati. Nanti aja nikahnya, belum ada yang mau sama gue." kata Riki.
"Ck, lo patah hati sama siapa?"
"Dewi."
"Eh, gue udah bilang ya. Kita sahabatan, kagak ada cinta-cintaan. Maksa lo!" ucap Dewi ketus.
"Gue patah hati sama Luna, dia cewek yang gue taksir. Kenapa lo yang kepedean sih." kata Riki lagi mencibir Dewi.
"Eh, sama aja kampret! Lagian Luna udah punya suami punya anak, lo masih jomblo. Gue sebentar lagi mau nikah, kalau udah nikah kita ngga bisa dekat lagi." kata Dewi.
"Jadi, lo mau memutus persahabatan? Segitunya punya suami, sampai mau putusin sahabatan." kata Riki.
"Ya kagak, kan gue udah ngga di rumah ibu lagi. Lo makanya cepat cari pacar, gue udah bilang tuh si Nina suka sama lo. Tapi lo kagak mau, sombong banget sih." kata Dewi lagi.
"Udah Rik, lo jangan banyak pilih-pilih deh kalau pacaran. Kalau ada yang suka, lo tembak langsung. Kan kita bisa temenan sama pacar lo dan bisa juga sahabatan sama istri lo nantinya." kata Luna.
"Kalau cewek nikah muda itu ngga apa-apa, gue cowok. Harus mapan dan tampan juga, biar banyak yang lirik. Selama ini gue belum mapan, kerja aja masih nebeng sama lo. Dan lagi, gue lagi patah hati sama kalian berdua. Kagak ngerti-ngerti ya kalian." kata Riki.
Luna dan Dewi diam, benar sekali apa yang di katakan Riki. Laki-laki harus mapan untuk bisa menikahi seorang gadis, agar bisa membahagiakan istrinya nanti. Terkadang laki-laki mapan saja ada yang istrinya tidak terima atau tidak bersyukur dengan apa yang di berikannya.
_
__ADS_1
_