Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
59. Menyewa Tempat Toko


__ADS_3

Riko sudah kembali bekerja, dia memyiapkan berkas hari ini untuk di tanda tangani dan di serahkan kembali ke bagian divisi masing-masing. Leon masuk dengan tergesa, dia langsung duduk tanpa menyapa Riko yang sedang merapikan berkas-berkas.


"Riko, siang ini kamu carikan ruko untuk membuka toko. Yang sewa atau di beli langsung tidak apa-apa. Istriku memaksa minta segera di carikan tempat untuk buka toko." kata Leon.


"Buka toko? Nona Luna minta buka toko?" tanya Riko.


"Iya, temannya itu sekarang nganggur. Dia kasihan dan dia minta segera di bukakan toko, karena aku pernah janji dan belum aku carikan tempatnya. Mumpung dia belum lahiran katanya." kata Leon.


"Memang mau buka toko apa?" tanya Riko.


"Baju kalau dia ngomong sih, karena temannya itu katanya pernah kerja di toko baju. Jadi dia juga ingin buka toko baju." kata Leon lagi.


"Kok aneh, kenapa minta di bukakan toko tapi atas saran temannya. Apa tidak ada keinginan membuka toko emas atau toko gadget misalnya?" tanya Riko.


"Aku ngga tahu, mungkin dia memang punya cita-cita buka toko baju. Biarkan sajalah, kamu carikan tempatnya yang strategis, nanti yang mengurus semua barang dan yang mengatur temannya juga jadi dia hanya duduk diam katanya di toko. Hanya lihat-lihat saja bagaimana nanti tokonya itu." kata Leon.


"Temannya itu siapa?" tanya Riko ragu.


"Tetangganya, itu siapa namanya ya?" ucap Leon mengingat-ingat nama teman Luna yang sedikit ganjen itu.


"Dewi?" kata Riko.


"Iya. Nah kamu tahu dan ingat nama teman istriku." kata Leon curiga.


"Oh, waktu itu di jalan saya ketemu dia sedang bersama bosnya. Dan di paksa mau di bawa ke hotel katanya, dia tidak mau dan berteriak. Jadi saya tolong dia keluar dari mobil itu. Karena jalanan padat, jadi saya gampang menolong dia keluar. Jadi dia benar keluar dari toko bos gendutnya itu?"


"Ya, katanya. Dan Luna meminta segera mencarikan tempat untuk buat buka toko. Nanti yang mengurus dia dan satu temannya lagi itu, tetangganya juga." kata Leon.


"Oke, saya akan bantu carikan." kata Riko bersemangat.


Membuat Leon curiga dan menatap tajam pada asistennya itu. Riko bersedekap, dia tahu Riko dulu pernah dekat dengan istrinya.


"Kok kamu bersemangat mau bantu carikan tempat? Kamu mau menikungku?" tanya Leon datar.


"Menikung apa? Saya hanya mau membantu saja tuan, dan saya tahu di mana tempat strategis itu. Kalau tidak mau du carikan, ya tidak masalah." kata Riko kembali datar.


"Kamu punya maksud kan?" tanya Leon semakin curiga.


"Tidak."


"Jangan bohong!" kata Leon kesal.

__ADS_1


" Untuk apa bohong? Ya sudah, sekarang tuan Leon saja yang cari tempatnya, saya yang akan di kantor." kata Riko dengan santai.


Leon diam, tatapannya masih tajam seperti tadi. Dia lalu mendengus kesal, kenapa Riko bersemangat untuk membantu istrinya mencari tempat untuk buka toko.


"Baiklah, tunjukkan saja di mana tempatnya. Nanti aku yang akan kesana." kata Leon.


"Kapan tuan punya waktu?"


"Siang ini. Lebih cepat leb8h baik."


"Oke, nanti waktu makan siang kita ke tempat itu. Memang sedang di sewakan ruko tersebut, dan yang punya tempat aku pun tahu orangnya."


"Baiklah."


_


Riko dan Leon ke tempat di mana akan di jadikan toko untuk Luna. Leon memberitahu istrinya kalau tempatnya sudah dia dapatkan, dan Luna sangat senang sekali ketika di telepon oleh suaminya itu.


Leon senang bisa membuat istrinya senang, apa lagi sebentar lagi akan mengadakan tujuh bulanan bulan depan. Jadi, sekalian nanti akan meresmikan tokonya nanti.


"Di sini tempatnya?" tanya Leon.


"Ya, tempatnya strategis. Itu kan yang anda cari?" tanya Riko.


Kini Leon sedang tawar menawar harga sewa tempat untuk toko istrinya nanti. Riko membantu menawarkan agar harga sewa tidak terlalu mahal. Dan jadilah kesepakatan tempat itu di sewa selama dua tahun lebih dulu.


"Anda tidak akan kecewa tuan, tempat ini selalu laris jika di jadikan usaha apa pun." kata pemilik ruko.


"Ya, semoga saja." kata Leon.


"Nanti surat perjanjiannya saya buat dulu, kalau anda mau menambah nasa sewa tokonya juga bisa." kata pemilik ruko.


"Saya lebih suka membelinya, bagaimana kalau saya beli saja?" tanya Leon.


"Maaf, belum bisa saya tawarkan untuk di jual. Masih bisa saya sewakan saja sementara ini." kata pemilik ruko.


"Baiklah, nanti terserah istri saya saja. Jika dia mau memperpanjang sewa tempatnya, bisa di bicarakan lagi." kata Leon.


"Oke. Deal."


Deal."

__ADS_1


Surat penjanjian pun di buat. Leon membayar uang sewa selama dua tahun tempat itu secara lamgsung, tinggal nanti Dewi dan Riki yang mengatur semuanya. Luna hanya melihat saja semua perlengkapan tokonya nanti.


Setelah membayar melalui transfer, kini Leon dan Riko kembali ke kantornya.


"Antarkan aku pulang saja, kamu yang kembali ke kantor." kata Leon.


"Apa anda akan membicarakan tempat itu?" tanya Riko.


"Ya, selain itu aku kangen sama istriku." kata Leon dengan senyum-senyum sendiri.


"Hemm, ada yang bucin ternyata." kata Riko.


"Berisik! Sejak istriku hamil, dia semakin cantik di mataku." kata Leon.


"Ya, ya. Terserah anda tuan. Saya ikut senang, anda sudah lupa pada model abal-abal itu. Saya dengar, dia sedang hamil juga?" kata Riko.


"Ya, selingkuhannya yang punya benih. Dia bahkan minta pertanggung jawaban sama aku, cuiih. Memencet slimenya saja aku tidak pernah, apa lagi tidur dan tanam benih sama dia." kata Leon memgingat waktu Sherly meminta bertemu dengannya.


"Jadi sekarang anda tahu, kalau dia sering sekali selingkuh? Bahkan hamil anak selingkuhannya." kata Riko.


"Ya, dan aku juga berterima kasih sama kakek telah mengirimkan Luna dalam hidupku." kata Leon.


"Dan sekarang anda bahagia?" tanya Riko.


"Tentu saja, apa lagi Luna sedang mengandung anakku kembar empat. Perutnya juga sangat besar sekali, hahah. Sangat lucu sekali." kata Leon membayangkan istrinya yang kesusahan jika berjalan dan bangun dari tempat tidur.


"Saya jadi iri pada anda tuan." kata Riko.


"Cepatlah kamu menikah, cari pacar sana. Aku yakin cuti kemarin kamu di jodohkan kan sama ibumu?" tanyq Leon.


"Ya, dan gagal." jawab Riko.


"Gagal? Kenapa?" tanya Loen penasaran.


Riko hanya diam saja, dia tersenyum. Membuat Leon penasaran dan mencibir dengan sikap diam asistennya itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumah kakek Wira. Leon merasa kangen dengan istrinya di rumah.


_


_

__ADS_1



__ADS_2