Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
46. Masalah Kuda-Kudaan


__ADS_3

Mobil Leon memasuki gang rumah Luna, dia memarkirkan mobilnya di depan rumah Luna. Luna keluar setelah mobil Leon berhenti. Dia membawa martabak yang tadi di beli di pinggir jalan.


Bapaknya Luna sudah datang lebih dulu, Jack sedang mencuci wajahnya yang terlihat dekil karena asap kendaraan yang parkir di depan apotik. Setelah selesai, dia kembali ke ruang tamu menemui menantunya. Luna mengambil piring dan minuman air putih saja.


"Tumben sih kamu datang ke rumah bapak? Biasanya cuma Luna aja yang pulang." kata Jack pada Leon.


"Heheh, iya pak. Maaf saya baru datang mengunjungi bapak." kata Leon merasa tidak enak dengan pertanyaan mertuanya.


"Ini martabak pak, bapak suka martabak jadi Luna belikan buat bapak." kata Luna membuka martabak manisnya dan di pindahkan ke piring.


"Waah, kebetulan bapak lapar. Ada martabak, rejeki buat orang lapar. Heheh." kata Jack mengambil satu potong martabak lalu memakannya.


Leon tersenyum, dia juga mengambil martabak di meja dan memakannya. Luna sengaja membeli tiga porsi martabak, karena dia dan ayahnya suka sekali martabak manis. Dan tentu saja menyediakan untuk Leon juga.


"Lo suka apa rakus?" tanya Luna.


"Aku juga suka martabak manis. Kenapa belinya sedikit?" tanya Leon masih mengunyah martabaknya.


"Gue beli tiga porsi, masa lo makan banyak banget sih." kata Luna kesal.


"Udah Luna, biarkan aja. Mungkin suamimu sedang lapar." kata Jack menyudahi makan martabaknya.


"Ish! Geli banget gue lihat dia makan martabak banyak dan cepat lagi makannya." kata Luna menatap sinis pada Leon.


Leon tidak peduli, yang penting dia makan dengan senang martabak manis itu. Ternyata martabaknya memang enak, jadi Leon makan begitu banyak. Bahkan bagian Luna di makan olehnya.


Lun menatapnya kesal, ingin dia juga makan banyak martabaknya malah di makan suaminya.


"Rakus banget jadi orang. Di makan semua." kata Luna.


"Nanti pulangnya beli lagi." kata Leon.


Luna mendengus kesal, dia lalu meminum air saja untuk menutup makannya. Antara menantu dan mertua mengobrol dengan akrab, Luna menonton tv. Dia tidak peduli dengan obrolan antar laki-laki itu.


"Bajunya nanti di pakai ya pak, lumayan aja buat gonta ganti." kata Leon.


"Ya, terima kasih. Nanti bapak pakai bajunya. Oh ya kalian sudah itu belun?" tanya Jack sambil berbisik.


"Itu apa pak?" tanya Leon bingung.


"Emm, itu sudah kuda-kudaan belum?" tanya Jack lagi mempertegas kalimatnya, Leon tersenyum saja.


"Belum pak, Luna susah di taklukkan. Apa bapak punya rahasia buar menaklukkan Luna?" tanya Leon.


"Jadi kalian belum melakukan gituan?!" teriak Jack membuat Luna dan Leon terkejut.


"Apa sih pak, kok teriak-teriak." kata Luna.


"Luna sini!"

__ADS_1


"Ish! Mau apa sih?"


"Sini aja kamu."


"Iya."


Leon diam, dia tidak tahu apa yang akan di katakan mertuanya itu. Luna duduk di samping bapaknya, bapaknya menatap anaknya lalu menantunya secara bergantian.


"Kalian sudah menikah berapa bulan?" tanya Jack.


"Hampir tiga bulan, pak. Kenapa?" jawab Leon.


"Ck, hampir tiga bulan kalian belum main kuda-kudaan. Gimana sih?" kata bapaknya Luna lagi.


"Kuda-kudaan apa sih pak, Luna ngga ngerti!" ucap Luna bingung.


"Jangan khawatir pak, pulang dari sini saya dan Luna pasti main kuda-kudaan kok. Tenang aja, bapak pengen cucu kan?" kata Leon.


"Ya, maksudnya gitu. Jangan enak-enakan kalian kerja, Luna juga kamu sudah ngga di pasar lagi kan?" tanya Jack.


"Ngga pak, rencananya emang mau kesana lagi." jawab Luna.


"Ngga boleh!"


Suara kompak suami dan bapaknya membuat Luna terkejut. Dia menatap heran suami dan bapaknya yang menatapnya tajam.


"Kalian kenapa? Aku kan cuma mau mampir sama Boby aja pak, ngga ikutan juga." kata Luna.


"Lha, bapak sendiri. Kenapa masih jadi tukang parkir?" kali ini Luna malah membalikkan pertanyaan.


"Ish! Ini anak ya di bilangin. Pokoknya ngga boleh! Kalau kamu memaksa, bapak yang akan seret kamu pulang!" kata bapaknya galak.


"Iya, kagak pak. Ya ampun, kok bapak galak sih sekarang." kata Luna.


"Itu juga buat kebaikan kamu. Nanti kalau kamu hamil, dan kamu masih di pasar, masa anak kamu jadi preman pasar juga. Bapak mau meningkatkan keturunan." kata Jack lagi.


"Dih, siapa yang mau hamil?"


"Ya kamu! Suamimu bilang nanti malam mau kuda-kudaan. Sekarang kalian mau kuda-kudaan di rumah bapak atau mau pulang?"


"Ish, bapak! Apa sih ngomongnya." terial Luna keluar sikap manjanya sebagai seorang gadis.


"Di rumah aja pak, kami mau kuda-kudaan di rumah. Sekarang kami pamit deh pak ya." kata Leon dengan cepat.


Dia menarik tangan Luna, tapi istrinya itu justru melebarkan matanya. Namun, bapaknya malah mendorong anaknya segera pulang dengan suaminya.


"Sana pulang, bapak mau istirahat. Terima kasih martabak dan juha hadiah bajunya." kata Jack pada Luna dan Leon.


"Ish pak, kok bapak ngusir sih?"

__ADS_1


"Ngga ngusir, atau kalian menginap di rumah bapak dan bapak pantengin kalian main kuda-kudaan."


Glek!


Leon dan Luna menelan ludah, merekat terkejut apa yang di katakan bapaknya itu. Jack menatap datar pada anaknya, dia tahu yang lebih susah itu anak gadisnya dari pada suaminya itu.


"Mau pulang atau menginap hah?!"


"Iya pulang, bapak kenapa sih. Aneh banget." gerutu Luna.


"Kalau begitu, saya pamit dulu pak. Bapak jangan khawatir nanti Luna pasti hamil anakku. Doakan ya pak." kata Leon dengan santai.


"Siapa yang mau hamil?!"


"Luna!"


Leon membawa Luna pergi dari rumah bapaknya, setelah berpamitan mereka masuk ke dalam mobil. Awalnya Luna tidak mau masuk, tapi Leon mengancam akan menciumnya di depan bapaknya. Membuat Luna semakin kesal saja.


"Apa sih yang bapak katakan sama lo?"


"Ngga ada."


"Ngga ada? Ngga mungkin! Masa bapak sampai maksa lo sama gue di suruh kuda-kudaan. Maksudnya apa coba?" tanya Luna.


"Mungkin bapak pengen punya cucu, udah sih jangan marah terus lagian wajah suami istri kuda-kudaan setiap malam. Dan aku juga mau membuktikan keperjakaanku sama kamu. Aku masih penasaran dengan slime milikmu itu." kata Leon sudah lari kemana-mana pembicaraannya.


Membuat Luna bosan mendengar ucapan mesum. Dia malas mendengarkan Leon terus bicara masalah itu. Tapi sebenarnya dia menyukai Leon tidak sih?


Entahlah, akhir-akhir ini terkadang ucapannya dan sikapnya lebih banyak menuruti perkataan Leon. Dia juga sering memakai rok dan baju dari pada celana jeans dan kaos serta topi.


"Kamu lapar?" tanya Leon.


"Ngga."


"Berarti kita langsung pulang ya. Melanjutkan rencana semula, main kuda-kudaan. Heheh."


"Ngga!"


"Harus Luna."


"Kagak mau!"


"Baiklah, mungkin malam ini tidak mau. Tapi malam selanjutnya kamu pasti mau." kata Leon.


Kini dia mengubah cara menaklukkan Luna, dia belum dapat jawaban dari mertuanya masalah menaklukkan Luna. Keburu bapaknya bertanya masalah kuda-kudaan, jadi apa boleh buat menanggapi hal itu.


Mobil memasuki pelataran rumah besar, Luna langsung turun di susul Leon. Luna melangkah cepat agar bisa masuk kamar dan menguncinya dari dalam, supaya Leon tidak bisa memaksanya untuk bermain kuda-kudaan malam ini. Tega sekali pikiran Luna.


_

__ADS_1


_



__ADS_2