
Leon sudah mendapatkan nama belakang untuk anak-anaknya. Setelah seharian dia dan Riko memikirkan nama apa saja untuk keempat anaknya. Wajahnya sumringah ketika sampai di rumahnya.
Besok dia tidak masuk ke kantor, dan semuanya sudah di serahkan pada Riko selama satu minggu itu. Dia bergegas masuk ke dalam kamar, mencari Luna untuk memberitahu nama belakang anaknya. Dia memutuskan tiga nama di belakangnya.
"Sayang, kamu di mana?" tanya Leon dengan berteriak.
"Aku di kamar mandi." jawab Luna.
Sudah satu minggu Luna pulang dari rumah sakit, dia di bantu bi Dori dan juga baby sitter yang di pekerjakan Leon dari sebuah yayasan. Dua orang sekaligus untuk merawat anak-anaknya selama Luna belum bisa menanganinya.
Leon melepas bajunya dan mengganti dengan kaos santai. Dia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Tak lama Luna keluar dengan memakai bathrop dan handuk di kepalanya. Dia mengelap rambutnya dan melangkah mendekat pada suaminya yang sedang duduk di ranjang sambil bermain ponsel.
"Ada apa? Kok pulang cepat?" tanya Luna.
Pinggang Luna di tarik oleh suaminya dan duduk di pangkuannya. Entah kenapa dia jadi ingin mencumbu istrinya itu sehabis mandi. Luna kaget, dia terduduk di pangkuan suaminya dan Leon langsung mencium bibir Luna.
Mau tidak mau, Luna pun meladeninya. Hanya sebatas mencium dan merremas bagian slimenya saja, karena dia tidak bisa melayani yang lainnya.
"Masih lama ya?" ucap Leon mengendus leher Luna.
"Sabar kenapa sih, baru juga satu minggu yang lalu aku brojol anak kamu." kata Luna, mengedikkan bahunya karena merasa geli suaminya mengendus lehernya.
"Berapa hari biasanya kamu ngga bisa aku pakai?" tanya Leon.
"Ish! Memangnya baju di pakai?" kata Luna.
"Kuda-kudaan maksudnya sayang. Cup."
"Ya nanti, tunggu dua bulanan." jawab Luna beranjak dari duduk di pangkuan suaminya.
__ADS_1
"Lama banget, bisa ngga minggu depan aja sayang?" tanya Leon.
"Ya ngga bisa, kata dokter juga biasanya paling lama itu empat bulan setelah lahiran. Ini juga baru satu minggu. Sabar kenapa sih, atau aku gigit aja ya biar ngga ribut terus." kata Luna kesal.
"Kalau jadi lolipop sih ngga apa-apa sayang, ngga kuda-kudaan juga. Heheh." kata Leon.
Luna menatap tajam pada suaminya, dia malas meladeni sifat mesumnya. Lalu dia beranjak pergi, tapi kemudian dia berbalik karena ingat sesuatu.
"Kamu kenapa pulang cepat?" tanya Luna.
"Oh ya, aku baru mendapatkan nama belakang anak-anak kita sayang. Tadi di kantor diskusi dengan Riko, katanya tiga nama untuk anak-anak kita. Nama belakangnya semua nama belakang namaku. Dan nanti di tambahin dua nama jadinya." kata Leon.
"Apa sih aku ngga ngerti. Yang jelas kalau ngomong mas." kata Luna.
"Kamu, cepat pakai baju dulu. Nanti kita ke kamar anak-anak, biar jelas." kata Leon.
Luna menurut, dia segera ke walk in kloset untuk mengganti bethropnya dengan kaos serta rok selutut. Lalu menyisir rambutnya, kemudian dia pergi ke kamar anaknya yang terhubung di kamarnya juga.
Leon dan Luna memperhatikan bayi-bayi yang tidur dengan nyenyak. Sesuai boks bayinya dan ada namanya pula. Dia menghampiri boks bayi pertama, artinya di tempati anak pertama. Yaitu Azka.
"Nah, Azka itu nanti namanya tiga. Semua juga tiga namanya, biar seragam dan mereka menandakan anakku semuanya." kata Leon.
"Siapa nama belakangnya?" tanya Luna.
"Azka Arion Nugraha, kalau Berry nama panjangnya Berry Andika Nugraha, yang ketiga tuh yang paling cantik namanya Cantika putri Nugraha, terus yang bontot namanya Devano Khalilo Nugraha. Bagaimana sayang, bagus ngga?" tanya Leon dengan semangat.
"Ya, terserah kamu aja. Aku tetap panggil nama depan mereka aja, bingung kalau harus panggil nama lengkapnya itu." kata Luna menanggapi datar saja.
"Ya biar nanti gurunya aja yang memanggil nama lengkap mereka. Manggil nama lengkapnya juga sewaktu di absen aja, ngga mungkin setiap ketemu sama anak kita panggilnya nama lengkap semua. Capek nyebut satu persatu nama lengkap mereka." kata Leon.
__ADS_1
"Ya, terus. Mau di buatkan akta lahir dengan nama itu semua?"
"Ya, biar paten namanya, jangan di ubah lagi. Aku susah lho mikir nama belakang mereka." kata Leon.
"Paling juga pak Riko yang ngasih nama belakang kan?" kata Luna.
"Eh, ya ngga dong. Aku juga ikutan mikir." kata Leon.
"Coba berapa nama yang kamu pikirkan dari semua nama itu?" tanya Luna.
"Emm, nama putri aja sih sama nama belakangku. Heheh." kata Leon.
"Ish! Jadi cuma nama untuk si cantika aja? Yang lain semuanya pak Riko? Benar-benar kamu ya." kata Luna menatap sinis pada suaminya itu.
"Ya ngga dong sayang, kan Riko memberi yang lain. Aku juga mikir nama belakang juga, tapi katanya ngga bagus. Akhirnya banyak yang di ambil nama atas saran dia." kata Leon.
"Terserah kamulah, memang tidak terlalu penting juga." kata Luna.
"Nama itu penting sayang, makanya di kasih saka bayi baru lahir. Biar orang tahu siapa namanya." kata Leon.
"Iya. Udah bawa deh bayi-bayi kita ke kamar, aku ingin beri asi secara langusung sama mereka. Aku selalu kangen sama kwartet, tapi aku repot kalau urus sendirian. Kamu udah masuk kantor lagi." kata Luna.
"Aku izin sama kakek, dalam satu bulan temani kamu urus kwartet. Nanti kakek yang gantiin aku di kantor sama Riko." kata Leon.
Mereka membawa bayi- bayinya masuk ke dalam kamarnya. Baby sitter sedang di bawah untuk mencuci semua baju-baju kwartet.
_
_
__ADS_1