Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
81. Urusan Ranjang


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Leon pun mengajak semua babysitter, karyawan Luna dan juga pengantin baru Dewi dan Riko untuk berlibur ke Singapura. Jauh sebelumnya, Riko memesan hotel di Singapura agar nanti ketika sampai di sana langsung beristirahat.


"Kita berangkatnya kapan mas?" tanya Luna.


"Besok sore sayang. Siang aku masih urus kantor, nanti sekretaris yang mengendalikan semuanya. Karena Riko juga ikut jadi semua di serahkan ke sekretaris." kata Leon.


"Kasihan sekretaris kamu mas, di kasih pekerjaan banyak dan tidak ada bantuan dari pak Riko." kata Luna.


"Dia sudah aku beri cuti banyak juga, satu minggu bahkan aku kasih libur. Katanya dia juga mau liburan dengan suami dan anaknya, jadi ya udah. Dia lebih dulu yang ambil cuti untuk liburan." ujar Leon.


Luna sudah biasa mengikat dasi pada suaminya, memang sangat menyenangkan ketika memasangkan dasi itu. Pagi hari dengan posisi dekat bisa menikmati wajah tampan suaminya. Begitu juga dengan Leon, dia lebih leluasa mencium bibir istrinya.


"Sudah tuh dasinya udah rapi." kata Luna.


Leon mengunci pinggang istrinya, setiap memasangkan dasi. Leon selalu enggan untuk melepas istrinya itu, karena memang posisi itu sangat nyaman dan enak untuk menatap wajah Luna.


Meski pun dalam bermian kuda-kudaan dia juga bebas menatap wajah Luna. Tapi tidak fokus menatapnya karena menikmati permainan kuda-kudaan. Mereka pun berciuman lagi, lama. Dan akhirnya terlepas ketika nafas sudah berkurang.


Luna menggigit bibirnya lalu tersenyum, dia sekarang lebih lihai dan merasa senang jika suaminya menciumnya. Leon pun ikut tersenyum, rasanya dia selalu ingin dekat dengan istrinya itu.


"Terima kasih ya sayang." kata Leon mengusap wajah istrinya.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Luna.


"Terima kasih kamu telah merubah semuanya, sikap kamu dan ucapan kamu sekarang lebih lembut lagi. Aku suka kamu berkata lembut dan manja padaku." kata Leon kembali mencium Luna.


"Emm, aku ngga bisa manja. Masa emak-emak anak empat manja sih." kata Luna.


"Ya ngga apa-apa kalau sama aku, kalau lagi berdua seperti ini. Apa lagi aku suka suara rintihanmu di ranjang, oooh. Merdunyaa, heheh."


"Ish! Kok larinya kesitu mulu deh. Malu tahu!" kata Luna memerah pipinya.


"Hahah! Kamu juga suka kan? Emm, nanti di Singapura kita puas-puasin." kata Leon.


"Apa sih? Kalau liburan ya enaknya jalan-jalan, apa lagi bawa kwartet dan mbaknya. Mending di rumah." kata Luna.


"Oh ya? Kalau begitu sekarang aku mau."


Leon melepas pelukannya pada Luna, dan mengambil ponselnya. Dia menghubungi Riko, Luna mengerutkan dahinya. Mau apa suaminya itu?


"Halo, Riko."


"Ya tuan Leon?"


"Aku berangkat ke kantor jam sembilan. Sekarang aku ada urusan." kata Leon.


"Urusan apa? Urusan ranjang?"


"Kamu tahu aja. Hahah!" kata Leon.


"Haish! Aku balik lagi, aku juga mau pulang dan mau menyelesaikan urusanku juga." kata Riko.


"Urusan apa?"


"Urusan ranjang!".


Klik!

__ADS_1


"Sialan! Dia juga ikut-ikutan juga." kata Leon menatap ponselnya.


"Kenapa mas?" tanya Luna.


"Riko, dia juga mau menyelesaikan urusan ranjang." jawab Leon.


"Urusan ranjang?"


"Iya, aku juga mau menyelesaikan urusan ranjang sama kamu." kata Leon melepas dasi dan juga bajunya dengan cepat.


Dia lalu mengangkat Luna dan membawanya ke atas ranjangnya. Sejak tadi dia ingin bermain kuda-kudaan dengan istrinya itu.


"Mas, mau apa?"


"Main kuda-kudaan sayang, aku ngga tahan." kata Leon langsung meraup bibir istrinya dengan rakus.


_


Leon dengan wajah tampan paripurnanya di tambah full senyum karena pagi ini dia mendapat jatah lagi dari istrinya. Berbeda dengan Riko, wajah murung terlihat jelas. Bahkan kesal dan datar saja.


"Kamu kenapa?" tanya Leon.


"Tidak apa-apa." jawab Riko datar.


"Ck, muka kamu itu tidak menunjukkan kalau kamu itu baik-baik saja. Coba ceritakan padaku, ada apa denganmu?" tanya Leon lagi.


"Sudah jangan di bahas, aku malas membahasnya." kata Riko dengan ketus.


"Ish! Aneh kamu."


"Ini kenapa kok belum di periksa sudah di bereskan aja sih?" tanya Leon.


"Yang mana?"


"Ini."


Riko mengambil berkas yang di sodorkan Leon. Dia memeriksanya dan memisahkan dari tumpukan berkas yang sudah di periksa. Dan lagi-lagi Riko salah, dia menyimpan berkas dekat dengan gelas berisi air. Lalu air dalam gelas pun tumpah dan mengenai berkas yang tadi dia bereskan.


Membuat Leon pun berdecak kesal. Sejak tadi laki-laki itu sudah sabar dengan beberapa kesalahan Riko dalam membantunya. Dia menatap asistennya itu dan mendengus kasar.


"Kamu kenapa Riko?" tanya Leon bersedekap.


Riko mengibas berkas yang terkena tumpahan air itu dan melihat semuanya basah. Dia menoleh pada bosnya lalu tersenyum kaku.


"Maaf, aku teledor." kata Riko mendapat tatapan tajam dari Leon.


"Ck, aku sudah tanya tadi sejak masuk kantor. Tapi kamu tidak mau jawab juga. Memang ada apa denganmu? Sampai bekerja pun jadi tidak fokus." tanya Leon.


"Urusan ranjang belum selesai." jawab Riko.


"Apa?! Hahah! Jadi kamu belum dapat urusan ranjang dari Dewi?" tanya Leon tertawa keras.


"Ish! Tadinya aku pulang lagi setelah di jalan. Eh, Dewi tidak ada di apartemen. Ck, ngga dapat jatah pagi." ucap Riko.


"Hahah! Jadi karena masalah itu?"


"Iya."

__ADS_1


"Coba telepon istrimu." kata Leon.


"Untuk apa?"


"Urusan ranjang."


Riko diam, dia mencerna ucapan Leon. Lalu dia pun tersenyum dan mengambil ponselnya untuk menghubungi istrinya.


"Halo bang, ada apa?" tanya Dewi di seberang sana.


"Kamu ada di mana?" tanya Riko.


"Di apartemen. Kenapa?"


"Jangan pergi lagi, tunggu aku pulang!" kata Riko dengan bersemangat.


"Lho, mau pulang sekarang?"


"Iya."


"Kan kerja? Memang ada apa?"


"Urusan ranjang!"


Klik!


Riko menutup sambungan teleponnya dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. Wajahnya sumringah lalu berdiri, menatap Leon dan pamit padanya.


"Aku pulang, menyelesaikan urusan ranjang bos." kata Riko.


Dengan cepat dia segera keluar dari ruang kantor Leon. Leon tersenyum, lalu dia pun mengejar sampai pintu kantor.


"Kembali cepat jika selesai urusan ranjangnya!" teriak Leon.


"Siap bos!" jawab Riko berteriak juga.


"Hahah! Dasar, laki-laki. Apa saka saja ya otak mesumnya?" ucapnya sendiri.


Leon masuk lagi ke dalam ruangannya dan mengambil berkas yang tadi basah terkena air. Dia menyerahkan pada sekretarisnya untuk menyalinnya.


"Kamu salin semuanya ya."


"Ini kenapa basah pak?" tanya sekretaris Leon.


"Asisten otaknya lagi eror." jawab Leon.


"Eror? Eror kenapa?" tanya sekretaris lagi.


"Urusan ranjang!"


"...?"


_


_


__ADS_1


__ADS_2