
Dewi mencari temannya yang dulu satu kerja di toko bos Jono. Yang sudah di paksa untuk melayani nafsu bejatnya, dia mengajak temannya itu untuk melaporkan Jono ke polisi.
"Gue malu, Wi." kata temannya itu.
"Jangan malu, nanti keenakan dia. Berapa kali lo di ajak dan di paksa sama dia?" tanya Dewi.
"Yang udah pernah sih satu kali, tapi dia ngajak dua kali. Tapi gue ngga mau, akhirnya gue keluar dari tokonya itu." katanya lagi.
"Tenang aja Ri, gue akan bantu juga. Dan lo juga bantu gue buat tambahan bukti juga. Dan lo taju siapa lagi yang pernah di paksa sama dia?" tanya Dewi.
"Setahu gue sih si Jeni juga. Tapi ngga tahu tuh, dia masih kerja di toko bos Jono. Mungkin dia sih sering di ajak begituan, karena sering gue lihat di Jeni beli barang-barang bagus." kata Riri teman Dewi.
"Hemm, jadi si Jeni emang mau dia sih. Yang penting dia sih dapat uang juga." kata Riri.
"Susah kalau dia sih. Ya udah, lo aja yang gue ajak jadi saksi. Mau ya?" tanya Dewi.
"Ya udah, tapi nanti gue malu Wi. Nanti ngga ada yang mau sama gue lagi, kan aku bekas laki-laki gendut itu." kata Riri ragu.
"Lo mau nikah sama siapa pun, tetap aja lo itu bekas bos gendut itu. Yang penting lo jujur nanti sama calon suami lo itu, mau ngga lo itu udah ga perawan lagi. Kalau cowok lo nanti tulus cinta sama lo, dia mau-mau aja kok. Jangan khawatir, yang penting lo itu memberantas laki-laki bejat macam jono gendut itu." kata Dewi.
Riri diam, ada benarnya juga. Jangan sampai pegawai baru jadi korban bos gendut itu. Lama Riri berpikir, membuat Dewi cemas kalau Riri tidak bersedia jadi saksi juga.
"Riri?"
"Iya, Wi. Gue mau." kata Riri, Dewi pun tersenyum.
"Makasih Ri, lo juga pasti ngga mau kan nanti ada korban lagi. Gue bener-bener gedek banget sama si gendut Jono itu. Padahal dua istrinya itu cantik lho, tapi dasar buaya daratan ya masih aja mau daun muda." kata Dewi.
"Ya, kasihan sama pelayan yang baru masuk itu. Dia di bohongi dulu, di ajak belanja. Tahunya pergi ke hotel, ish! Benar-benar bejat banget kan dia." kata Riri yang ikutan emosi dengan ucapan Dewi itu.
"Nah, itu dia. Dia harus di beri hukuman penjara. Gue udah ada bukti kekerasan. Dan pak Riko yang akan membantu gue untuk melapor ke polisi." kata Dewi.
Setelah pembicaraan itu, Dewi dan Riri berpisah. Waktu makan siang sudah habis, Dewi harus kerja lagi di toko Luna.
_
Setelah mengumpulkan bukti, Dewi di antar Riko pergi ke kantor polisi. Dia membawa berkas pelaporan dan cctv yang Riko cari di jalan tikungan ketika Dewi pertama di paksa Jono masuk ke dalam mobil avanzanya.
"Ini sudah lengkap semua?" tanya polisi memeriksa berkas yang di bawa oleh Dewi.
"Oh, iya pak. Semua sudah ada buktinyam" kata Dewi.
Polisi melihat foto-foto Dewi lalu beralih ke wajah Dewi yang masih terlihat bengkak sedikit dan ada jahitan di sudut bibir Dewi.
"Hemm, kenapa ngga langsung lapor waktu itu?" tanya polisi.
__ADS_1
"Cari bukti dulu pak, biar tidak bolak-balik nantinya." Riko yang menjawab.
"Kalau waktu itu laporkan bisa langsung di selidiki juga. Dan laki-laki yang di laporkan itu mantan bosnya mbaknya ya?" tanya polisi.
"Iya pak, dia mantan bos saya dulu. Dan pertama dia memaksa saya itu, saya langsung keluar kerja di tokonya. Tapi kemarin itu dia masih penasaran dengan saya, jadinya dia terus memaksa saya." kata Dewi.
"Hemm, baiklah. Nanti kami periksa dan akan membuat surat penangkapannya jika bukti-bukti sudah lengkap." kata polisi.
"Baik pak, terima kasih." kata Dewi.
Mereka lalu pergi dari kantor polisi, Riko mengantarkan Dewi ke toko. Sedangkan dia akan pergi ke kantor Leon.
Oh ya pak Riko, kata Riki beberapa hari ada orang yang selalu mengawasi toko kami pak." kata Dewi.
"Lho, kenapa ngga bilang tadi di kantor polisi?" tanya Riko.
"Heheh, aku lupa pak Riko." jawab Dewi tertawa kecil.
"Hemm, kamu itu ada-ada saja." kata Riko tanpa memegang kepala Dewi.
Membuat Dewi diam dan heran. Riko menatap Dewi yang sedang menatapnya heran.
"Kenapa?" tanya Riko.
Serasa anak kecil gue." gumam Dewi, terdengar oleh Riko.
"Apa kamu anak kecil?"
"Ngga kok. Aku udah besar begini, udah bisa menghasilkan anak kecil juga. Heheh." kata Dewi dengan candaannya.
"Ya udah, bikin anak kecil aja sama aku."
"Eh? Apa?"
"Hahah! Bercanda, jangan di tanggapi serius." ucap Riko.
Dia aneh sendiri, kenapa bisa mengatakan itu pada Dewi. Dia tersenyum, lalu menatap Dewi yang sepertinya belum mengerti dengan ucapannya. Tapi kenapa pipinya memerah?
"Kita makan siang dulu." ajak Riko.
"Kemana?"
"Ke warung makan pinggir jalan aja. Atau kamu mau ke restoran?" tanya Riko.
"Ngga, terserah pak Riko aja." kata Dewi.
__ADS_1
Mereka lalu meminggirkan mobilnya di pinggir jalan. Ponsel Riko berbunyi, dia mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon.
"Halo bu?"
"Riko, bisa kamu pulang?"
"Ada apa lagi?"
"Ibu ada saudara jauh. Dia datang dengan anak gadisnya. Ibu mau mengenalkan anak gadisnya sama kamu. Kalau kamu belum punya pacar, ibu bisa kenalkan kamu sama dia."
"Aku mau makan siang sama pacar Riko bu." kata Riko melirik Dewi.
"Pacar? Coba kenalkan sama ibu."
"Ngga bisa, kami lagi kerja."
"Ayo Riko, ibu pengen kenal sama pacar kamu. Besok kamu bawa pulang ya." kata ibunya Riko lagi.
"Ck, ibu itu gimana sih."
"Pokoknya ibu pengen kamu pulang dan bawa pacar kamu. Titik!"
Klik!
Telepon terputus, Riko menatap teleponnya kesal. Dewi memperhatikan apa yang di lakukan oleh Riko. Dia tadi mendengar Riko menyebut sedang makan siang dengan pacarnya. Apakah dia sedang berbohong?
"Pak Riko, apa tadi bapak sedang bohong sama ibunya?" tanya Dewi.
"Eh, itu. Ibuku minta aku pulang bawa pacar. Kupikir untuk menghindarinya, ya aku katakan aku sama pacarku." kata Riko.
Dewi diam, dia tersenyum kecil. Lucu juga, seorang laki-laki takut sama ibunya. Tentu ibunya mendesaknya untuk menikah, Dewi melirik ke arah Riko lagi.
"Apa bapak mau meneruskan bohongnya?"
"Lho, kok?"
"Ya, sebagai balas budi. Aku bisa bantu pak Riko untuk bertemu ibu pak Riko sebagai pacar." kata Dewi.
Riko diam, dia memikirkan apa yang di katakan gadis itu. Menatap Dewi lalu tersenyum, kemudian mengangguk. Mereka pun turun dari mobil lalu menuju warung makan pinggir jalan.
_
_
__ADS_1