
Leon menarik tangan Luna dengan kesal, sedangkan Sherly terdiam. Dia geram sekali kenapa di tinggalkan begitu saja oleh Leon. Leon dan Luna melewati Riko dan Luna berhenti di depan Riko, mencoba lepas pegangan tangan Leon.
"Pak Riko, saya pulang sama suamiku." kata Luna.
"Ya nona. Tapi, bukankah nona pergi denganku?" kata Riko.
"Diam Riko! Semua kacau gara-gara kamu!" kata Leon.
"Waah, suamiku marah. Kalau begitu, saya pulang degan pak Riko aja." kata Luna.
"Aku suamimu! Jadi kamu pulang denganku." kata Leon dengan kesal.
Kembali dia menarik tangan Luna untuk segera pulang ke rumah. Sedangkan Riko hanya tersenyum saja, dia juga melihat Sherly begitu marah di tinggal oleh Leon.
Riko mendekati Sherly yang sedang makan dengan kesalnya, dia harus membayar makanan yang sudah di pesan. Riko duduk di depan Sherly, menatap gadis itu dengan tenang.
"Apa anda butuh teman? Atau butuh di bayar makanannya nona Sherly?" tanya Riko.
"Diam kamu! Aku muak dengan semuanya. Bahkan kenapa bisa gadis preman itu menikah dengan Leon?!" tanya Sherly menatap tajam pada Riko.
"Itu takdir dan keberuntungan bagi gadis yang baik." kata Riko.
"Hah! Baiklah, kamu bisa saja melaporkan semua ini pada majikan tuamu. Aku akan tetap mendekati Leon, kamu tahu Leon sangat mencintaiku. Meskipun dia sudah menikah, tapi dia tetap mencintaiku." kata Sherly.
"Oh ya? Nona Sherly masih ingat kejadian di toko baju di mall?" tanya Riko.
"Kenapa?"
"Nona Luna punya rekaman anda dan selingkuhan anda di toko itu. Dia bisa saja memberikan rekaman itu pada tuan Leon, dan tamat sudah perasaan cinta tuan Leon padamu nona. Bukan itu saja, kamu melawan tuan Wira berarti mencari masalah. Kamu pikir tuan Leon akan selamanya mencintaimu?" kata Riko.
"Tentu saja, dia akan meninggalkan gadis preman itu. Bahkan mencampakkannya. Itu yang akan Leon lakukan." kata Sherly.
"Hemm, nona Luna itu cantik. Tuan Leon belum menyadari kalau istrinya itu cantik. Ketahuilah nona Sherly, kebusukanmu itu tidak akan selamanya bertahan. Laki-laki itu tidak susah untuk jatuh cinta. Jadi, jangan percaya diri dengan terus mempengaruhi tuan Leon agar tetap mencintaimu." kata Riko.
Dia berdiri dan mengambil uang dari dompetnya. Meletakkan uang beberapa lembar di meja.
"Bayarkan pesanan yang di pesan tuan Leon. Anda bisa bayar sendiri makanan yang di pesan. Sudah banyak anda menghabiskan uang tuan Leon. Saatnya tuan Leon sadar dengan kebodohannya masih saja menuruti kemauanmu." kata Riko.
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu, Riko pun pergi meninggalkan Sherly yang masih diam dan kesal sekali. Dia menatap uang yang di berikan Riko, hanya tiga lembar uang nominal seratus ribu saja.
"Aaaargh! Brengsek! Awas saja kalian, akan aku buat Leon bertanggung jawab dengan perlakuan kalian padaku!" ucap Sherly dengan marah.
_
Sementara itu, Leon dan Luna pulang ke rumah kakek Wira. Dalam perjalanan keduanya diam tanpa ada yang bersuara satu sama lain. Hanya lirikan Leon pada Luna yang penampilannya sudah mulai berubah jadi lebih feminim.
Cara bermake up Luna juga sudah terlihat, meski hanya tipis-tipis saja. Leon menghela nafas panjang, dia menoleh ke arah Luna yang menatap ke depan.
"Sedang apa kamu di kafe itu dengan Riko?" tanya Leon.
"Hanya ingin minum kopi saja, tapi melihat kamu sedang berduaan dengan kekasihmu itu." jawab Luna.
"Heh! Kamu sekarang sudah lebih baik ya bicaranya. Lebih sopan dan tidak terburu-buru, apa itu semua ajaran dari guru yang kakek berikan sama kamu?" tanya Leon mencibir Luna.
"Semua orang dapat berubah, gue juga bisa berubah. Kenapa harus repot memperhatikan perubahan sama gue?" tanya Luna yang kembali mode biasa pada Leon.
"Apa kamu menginginkan uang dari kakek, agar bisa menikah denganku? Sejujurnya aku ingin bertanya seperti ini sejak sebelum menikah denganmu." kata Leon.
"Kakek hanya tidak mau aku menikah dengan Sherly. Dia gadis yang baik menurutku, dan juga aku suka sifat manjanya. Tidak seperti kamu yang kasar dan tidak terawat." kata Leon membela diri.
"Dan dari sikap manjanya itu sudah membodohi lo yang bego. Dia hanya ingin uang lo aja, kenapa kamu masih saja tutup mata dengan semua ucapan kakek lo dan pak Riko? Apa perlu gue tunjukin kejelekan dan rencana busuk Sherly itu sama lo? Gue bahkan punya rekaman dia berselingkuh dengan cowok lain." kata Luna sudah kesal sekali dengan Leon.
Leon mendengus kesal, dia menatap tajam pada Luna yang tidak melihatnya sama sekali sejak mereka bicara di mobil.
"Bicara itu lihat orangnya, jangan mengabaikan orang yang di ajak bicara. Tidak sopan!" kata Leon.
"Lo sendiri bahkan menghina gue, apa itu lebih tidak sopan?" tanya Luna.
Kali ini dia menatap tajam pada Leon, merasa kesal sekali pada laki-aki keras kepala itu.
"Tapi aku suamimu, bicara harus menghadap ke arahku." kata Leon lagi.
"Oh ya, lo mau di turuti kemauan lo itu? Baik, sekarang gue minta lo jangan lagi menemui model munafik itu, gue sudah dua kali melihat dia selingkuh dengan cowok lain. Mungkin saja kakek lebih banyak mempunyai bukti dan rekaman tentang kemunafikan pacar lo itu." kata Luna.
Leon kembali diam, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar kesal sekali dengan Luna, atau memang dia kesal juga akhirnya pada Sherly yang selingkuh di belakangnya.
__ADS_1
Luna kaget bukan main, dia berpegangan kedua tangannya ke atas. Melihat Leon yang begitu marah, tapi entah marah karena apa.
"Hentikan mobilnya, lo mau bunuh diri? Jangan bawa-bawa gue!" teriak Luna.
Tapi Leon tetap saja melajukan mobilnya dengan kencang. Rumah kakeknya ternyata sudah terlewat, Luna terus berteriak meminta Leon menghentikan mobilnya. Hingga dia berada di sebuah taman kota yang sepi karena waktu sudah mulai senja.
Luna sampai terjungkal ke depan ketika Leon menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Sialan! Lo mau buat gue celaka hah?!" teriak Luna.
Leon diam saja, dia keluar dari mobil dan duduk di bangku kayu menghadap taman di sana. Luna bersungut-sungut, dia pun ikut keluar dari dalam mobil. Rambut yang tadi di kuncir itu jadi berantakan karena terguncang di dalam mobil.
Dia menghampiri Leon yang duduk di bangku taman. Menatap tajam pada suaminya itu, dan menghela nafas panjang.
"Lo mau bunuh diri di sini?" tanya Luna.
"Apa sih? Kamu ngomongnya bunuh diri terus." kata Leon kesal.
"Heh! Lalu lo mau apa duduk di sini? Ini sudah petang. Setan genderuwo sudah mulai bergentayangan, nanti lo kesambet lagi. Gue yang susah, ngga bisa nyembur lo." kata Luna.
"Berisik! Bisa diam ngga?!"
"Huh! Ternyata patah hati itu membuat emosi ya." kata Luna masih saja bicara.
Membuat Leon kesal dan memejamkan matanya, lalu menarik tangan Luna kuat hingga Luna terjatuh di pangkuan Leon. Keduanya saling tatap, ada getar halus di hati Luna. Cepat-cepat dia bangkit dari duduknya itu.
Leon tersenyum sinis, dia menatap Luna yang terlihat memerah pipinya. Ada rasa senang juga melihat pipi Luna yang tiba-tiba memerah itu.
"Kamu ternyata punya rasa malu juga ya." kata Leon dengan tersenyum senang bisa membuat Luna salah tingkah.
Luna mendengus kesal, dia pergi meninggalkan Leon yang masih duduk. Tapi tidak masuk ke dalam mobil, melainkan berjalan cepat entah kemana. Leon tidak sadar kalau Luna pergi berjalan kaki entah mau kemana.
_
_
__ADS_1