
Luna di hubungi kakek Wira, dia bingung harus bagaimana. Katanya utusan dari kakek Wira akan datang ke pasar di mana dia bekerja, tentunya siang hari karena orang tua itu tidak ingin mengganggu pekerjaan Luna. Dia membutuhkan bantuan Luna, jadi harus menyesuaikan pekerjaan Luna di pasar.
Dengan gelisah, tapi dia cuek saja dengan keinginan kakek Wira itu. Ingin dia membatalkan niat membantu kakek Wira, tapi dia tidak tega. Meski dia gadis preman, tapi jiwa kasihan Luna kedepankan.
"Woi! Lo ngelamun aja Lun, kecoa di rumah lo beranak pinak ya?" tanya Boby duduk di samping Luna.
Luna berdecak kesal, dia lagi bingung kenapa juga Boby mengganggunya.
"Mulut lo tuh, bau ketek! Berisik banget sih!" ucap Luna kesal.
"Ck, apa hubungannya mulut bau ketek sama kecoa beranak pinak?"
"Ada, tuh kecoa keluar dari mulut lo yang bau ketek. Lo ngga pernah gosok gigi ya? Haish, bau bangey sih!" ucap Luna menutup hidungnya.
"Jangan lebey deh Lun, gue gosok gigi tiga kali sehari. Cuma ngga pakai odol, heheh!"
"Sama aja begoo! Sikat gigi ngga pakai odol, miskin banget sih lo. Odol aja ngga bisa beli." ucap Luna.
"Heheh!"
"Lo kalau begitu terus, mana ada yang naksir sama lo. Mulut aja bau!" ucap Luna.
Boby menyerahkan uang hasil penagihan iuran keamanan dari pedagang di pasar. Mereka menagih uang iuran pada pedagang yang punya lapak tetap, bukan pada lapak di pinggiran dan hanya ikut berdagang di pasar itu.
"Nih, uangnya. Semuanya cuma seratus tujuh puluh delapan ribu." kata Boby menyerahkan uang pada Luna.
"Kok dikit ya, apa mereka udah bosan pada tagihan kita?" tanya Luna.
"Kata salah satu dari pedagang tadi, Sapri juga meminta iurab sama mereka. Gue juga ngga tahu, kenapa Sapri ikutan nagih iuran juga." kata Boby.
"Ikut nagih iuran juga? Kapan?"
"Katanya tadi pagi, gue tadi lihat Sapri keluar dari dalam pasar dengan buru-buru." ucap Boby.
"Masa sih, dia lagi di parkiran depan. Apa gue tanya dia aja, kenapa mendahului minta iuran." kata Luna.
"Jangan Lun, kita lihat aja dulu. Berapa hari dia mau nikung kita, gue yakin masalahnya bukan uang aja. Tapi mungkin Sapri kecewa sama kita." kata Boby.
"Kecewa kenapa? Dia memang sering ngga ikutan nagih di pasar kan? Bahkan berapa kali dia aku kasih jatah, meskipun ngga ikutan narik sesuai jadwal dia." ucap Luna.
__ADS_1
Boby diam, Luna ikut kesal juga kenapa Sapri jadi seperti itu. Dulu mereka bertiga kompak sekali, hampir empat tahun. Bahkan sejak Luna masih sekolah SMA, mereka kompak dan menagih iuran pasar. Tapi entah kenapa Sapri jadi berubah.
Ponsel Luna berbunyi lagi, dia melihat siapa yang meneleponnya. Kakek Wira, Luna mendengus kasar lalu menjawab telepon.
"Halo Kek."
"Apa orang suruhan kakek sudah ke tempatmu?" tanya kakek Wira.
"Tidak tahu kek, tapi tidak ada mobil yang datang kemari kok." kata Luna.
"Masa sih? Padahal sudah satu jam lalu dia berangkat. Ya udah, kakek mau memastikan dia ada di mana dulu. Nanti kakek hubungi kamu lagi Luna."
"Iya!"
Klik!
Sambungan terputus, Luna memasukkan ponselnya dan melihat ke jalanan. Tak ada mobil yang berhenti, apa jangan-jangan di hadang oleh Sapri? Entah kenapa pikiran jelek terlintas pada Sapri, teman satu preman di pasar yang kini berubah haluan.
"Bob, gue ke depan dulu deh. Lo sini aja, gue lapar." kata Luna.
"Iya, gue di sini aja. Pengen makan ketoprak bi Sarni, tolong pesenin sekalian ya." kata Boby.
"Ish, lo kesana aja sendiri sana. Gue ada urusan juga di depan." ucap Luna melirik tajam pada Boby.
"Ck, lo pelit banget sih Luna!" teriak Boby.
"Kalau gue pelit, udah pasti lo ngga dapat jatah makan juga dari gue!" teriak Luna.
Dia terus berjalan ke jalan pasar. Namun di depan ada mobil sedan menghampirinya. Luna pun berhenti, berpikir apakah mobil itu yang akan menjemputnya menurut kakek Wira.
"Nona Luna?" tanya supir itu.
"Ya?"
"Mari masuk ke dalam mobil, tuan Wira menunggu anda." kata sang supir.
Luna diam, dia tampak berpikir membuat sang supir itu pun heran.
"Anda di tunggu tuan Wira, nona." katanya lagi.
__ADS_1
"Tadi kakek Wira bilang sudah satu jam lalu. Kenapa baru datang?" tanya Luna.
"Maaf nona, tukang parkir di depan sana bilang di pasar ini tidak ada namanya Luna." jawab supir itu, membuat Luna bedecak kesal.
"Jadi Sapri seperti itu sekarang. Baiklah, lo ingin lepas dari gue dan membuat gue benci sama lo ya Sapri." ucap Luna menatap ke arah parkiran di mana Sapri bertugas.
"Nona bicara apa?" tanya supir.
"Oh tidak, kecoa di rumah gue beranak pinak." kata Luna asal.
Dia masuk ke dalam mobil mewah itu, ada tatapan sinis dari jauh. Ya, Sapri kini membenci Luna. Entah apa sebabnya.
_
Kakek Wira kini sedang mengantar Luna ke salon, dia rela menunggu Luna di salon. Karena gadis itu sejak di beritahu akan ke salon, dia menolak keras untuk pergi ke salon. Tapi kakek Wira pun berakting lagi dengan wajah sedih dan terbatuk, membuat Luna akhirnya luluh ikut pergi ke salon untuk perawatan.
Melakukan spa lebih dulu dan juga pembersihan kulit kusam. Lalu perawatan wajah yang terakhir.
"Memang kita mau kemaba sih kek?" tanya Luna ketika dia sedang di masker.
"Bertemu calon suamimu." jawab kakek Wira.
"Apa?!"
"Jangan berteriak, nanti masker wajahmu lepas." ucap kakek Wira.
Luna diam, dia merasa risih dengan masker di wajahnya yang lama-lama semakin kencang saja ketika kering. Dia pun ingin melepas maskernya, tapi di cegah oleh penjaga salonnya.
"Jangan di lepas nona, sebentar lagi juga selesai." kata penjaga salon.
"Risih gue dengan maskernya." ucap Luna.
"Iya tahu, tapi nanti wajah nona itu bersih dan mulus. Sabar aja ya." kata penjaga itu dengan gemulai dan mencubit lengan Luna.
Luna meringis geli, laki-laki gemulai itu tertawa kecil. Luna semakin bergidik, kakek Wira hanya tersenyum melihat Luna sepertinya geli dengan penjaga salon itu.
Setelah sepuluh menit, akhirnya masker di wajah Luna pun di lepas. Kini tindakan selanjutnya memberikan make up tipis pada Luna. Kakek Wira yang menyuruhnya agar di make up tipis saja, entah laki-laki tua itu lebih tahu bagaimana mendandani Luna dari pada Luna sendiri.
_
__ADS_1
_