Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
27. Insiden Nikahan


__ADS_3

Hari Minggu yang biasa saja bagi Luna, meski dia mau menikah hari ini, tapi dia masih santai saja di dalam kamarnya. Bahkan dia memaksa ingin pergi ke pasar seperti biasanya.


"Lunaaa!" teriak bapaknya.


Dengan malas Luna bangkit dari ranjangnya, dia keluar dari kamarnya menemui bapaknya yang sudah rapi. Dia mengerutkan dahinya, heran melihat penampilan bapaknya yang rapi.


"Bapak mau kemana? Rapi bener." kata Luna seolah lupa dia yang mau menikah.


"Haish! Ini anak, kamu cepat dandan sana. Kemana si Dewi?" tanya bapaknya.


"Mau apa cari si Dewi?"


"Yq buat dandani kamulah, cepat sana ganti baju. Kemarin kan sudah di kirim baju kebaya buat nikahan kamu." katq Jack.


"Luna belum mandi pak." kata Luna.


"Anak perawan sudah siang begini masih belum mandi. Cepat mandi dan pakai baju yang di kirim pak Wira, nanti bapak panggil di Dewi untuk dandani kamu lagi." kata Jack.


"Ogah di dandanu Dewi, nanti kayak nyai ronggeng lagi dia dandani Luna." kata Luna bersungut.


"Bukan gue yang dandai lo Lun, nih tukang make up datang. Lo cepat sana mandi, terus ganti baju." kata Dewi mengantar tukang make up artis untuk dandani Luna.


"Lo tahu gue belum mandi." kata Luna.


"Tahulah, lo kan jarang mandi kalau ada di rumah. Mandinya seminggu sekali, dan pantas lo bau, udah cepat sana mandi." kata Dewi mendorong Luna menuju kamar mandi di belakang.


"Lo tahu bener gue, lo suka intip gue mandi ya?"


"Ih, gue tahu nomor ****** ***** lo juga. Bahkan Riki juga tahu nomor bela lo berapa." kata Dewi asal ceplos.


"Haish! Teman kurang ajar banget kalian ya. Pasti lo suka nyolong barang pribadi gue kan?" kata Luna menuduh.


"Udah sana mandi, eman gue ngga tahu lo kalau jemur di tempat jemuran gue. Ya tahulah berapa nomor ****** ***** lo sama beha lo." kata Dewi lagi.


Luna menatap tajam pada Dewi. Dia pun mendengus kasar lalu masuk ke dalam kamar mandi. Lama Luna mandi di kamar mandi, sampai tukang make up pun gelisah karena calon pengantin mandi tidak selesai-selesai.


"Mbak, kemana sih calon pengantinnya? Udah siang nih. Kan eike mau dandani orang lagi di tempat lain." kata tukang make up laki-laki gemulai itu.


"Sebentar om."


"Eh, jangan om dong. Sis, gitu panggilnya. Masa cantik begini panggilnya om sih." kata laki-laki gemulai itu.


"Yee, tuh jakunnya belum di pangkas. Oangkas dulu jakunnya, baru gue panggil sista." ucap Dewi.

__ADS_1


"Iiih, ini kan susah di buangnyam udah sana panggil dulu calon pengantinnya. Eike kepanasan nih." kata tukang make up itu mengibaskan tangannya.


"Iya, sabar. Lagian ya, kenapa sih si Luna lama bener mandinya. Jangan-jangan dia mainan ikan di kolam lagi." ucap Dewi.


Dia pergi ke kamar mandi, tidak ada suara di dalam kamar mandi. Dewi menggedor pintu kamar mandi dengan keras.


"Luna! Lo lagi ngapain sih, lama bener mandinya! Cepat itu si eike udah nungguin lo dari tadi!" teriak Dewi dan menggedor pintu kamar mandi.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Luna mengusap wajahnya dengan handuk. Dewi memperhatikan Luna yang ternyata bukannya mandi bener, tapi malah mandi koboi.


"Lo ngga mandi ya?" tanya Dewi.


"Berisik lo! Udah jangan ngomong aja, ada apaan?" tanya Luna melangkah pergi meninggalkan Dewi.


"Ish! Lo jorok banget sih, cewek juga ngga ada anggun-anggunnya sih. Ya udah cepat sana tuh, lo mau di dandani sama tukang make up. Dua jam lagi lo mau ijab kabul, lo bakal jadi istri orang. Dan lo nanti malam pertama sama suami lo nantinya. Hihihi!" ucap Dewi.


Membuat Luna mencibir dengan ucapan sahabat kecilnya itu. Menggeleng kepala saja, lalu dia masuk ke dalam kamarnya. Tukang make up sudah siap mendandani Luna.


_


"Saya terima nikah dan kawinnya Laluna binti Jack Permana dengan mas kawin uang tunai sepuluh juta rupiah di bayar tunai!"


"Bagaimana saksi?"


"Saah!"


Kakek Wira hanya membawa asisten Riko dan keluarganya. Serta saudara yang ada di Malaysia saja, itu pun satu orang yang bisa di percaya kakek Wira. Juga para pembantu di rumah kakek Wira.


Leon menanda tangani surat nikah yang dj sediakan oleh pihak KUA. Luna juga bergantian menanda tanganinya, Leon melirik ke arah Luna yang berbeda. Memakai kebaya dan juga berdandan cantik. Dia terpaku melihat Luna yang berbeda itu.


Namun akhirnya dia mengalihkan pandangannya ketika Luna menoleh ke arahnya.


"Lo kenapa lihat gue seperti itu?" tanya Luna pada Leon dengan berbisik.


"Kamu kan istri aku sekarang." kata Leon tidak sadar.


"Istri status aja, lo pasti masih punya hubungan dengan pacar model lo itu?" kata Luna.


"Memang, dan harusnya aku antar dia ke Singapura untuk ikut seleksi kontes model internasional. Gara-gara aku nikah sama kamu sekarang, jadi gagal mengantar pacarku ke Singapura." kata Leon dengan suara pelan.


"Ya udah, susul sana. Gue juga ogah jadi istri lo sebenarnya. Cowok bego yang mau aja di bodohi sama cewek matre dan tukang selingkuh." ucap Luna.


"Apa kamu bilang?!" nada suara Leon meninggi, membuat yang ada di dalam masjid itu menatap Leon aneh.

__ADS_1


"Leon? Ada apa?" tanya kakek Wira dengan tatapan dingin, dan menenangkan cucunya itu.


Kakek Wira tahu cucunya itu sedang berdebat dengan Luna. Tapi entah masalah apa, dia tidak tahu. Dan Leon pun diam di tatap dingin oleh kakeknya.


Leon mendengus kesal, dia masih memgingat ucapan Luna tadi. Menatap kesal pada istrinya yang baru beberapa menit itu. Dia menyesal tadi terpesona oleh Luna, karena sekarang Luna justru kembali garuk-garuk punggung terus. Entah apa yang membuatnya gatal di punggung, apa karena dia tidak mandi atau baju kebayanya yang membuat gatal di tubuhnya.


Setelah acara ijab kabul selesai dan menanda tangani surat nikah, mereka pun pergi menuju rumah Luna. Dengan di arak rebana dan puji-pujian sepanjang jalan dari masjid ke rumah Luna.


Luna berjalan seperti pinguin berjalan, terlalu sempit jalannya. Akhirnya dia mengangkat kain kebaya sebagai roknya lalu berjalan dengan cepat, meninggalkan Leon yang sejak tadi jalan pelan mengimbanginya.


"Luna! Turunin kainnya!" teriak Riki yang tadi melihat Luna mengangkatnya tinggi.


"Ribet gue jalan pakai ginian. Susah jalannya." kata Luna.


Dewi menarik rok kain Luna yang tadi di angkat. Leon menggeleng kepala saja dengan tingkah Luna itu.


"Gue susah jalan, Dewi. Ngga bakalan sampai rumah kalau jalan begini." kata Luna.


"Pegangan sama suami lo, buat apa coba jalan berdampingan sama suami kalau jalan pengennya ngibrit aja. Gue aja yang gandeng suami lo, nanti lo gandengan sama Riki." kata Dewi.


Dia menghampiri Leon, dan Riki menggandeng Luna. Siapa yang menikah, kenapa jadi beda gandengan. Jack melihat itu dan menarik Riki dan Dewi untuk menyingkir.


"Kalian ya, minggir sana!" ucap Jack.


"Ish, om Jack usil aja nih." kata Dewi cemberut.


"Luna! Gandeng tuh suamimu." kata Jack pada anaknya itu.


"Emang aku truk gandengan." kata Luna.


"Luna!"


"Iya pak, marah-marah aja sih."


Luna pun berbalik, dia hendak mendekat pada Leon untuk jalan beriringan, rapi kain bagian belajang terinjak oleh kakinya, segingga dia pun terjatuh miring mengenai Leon.


"Aaaah!!"


Bug!


"Lunaa!"


_

__ADS_1


_



__ADS_2