Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
55. Menolong Dewi


__ADS_3

Riko sudah bersiap untuk pulang ke rumah orang tuanya, di Bekasi. Memang tidak membutuhkan perjalanan jauh, tapi dia tinggal di apartemen yang dia beli ketika pak Wira menyuruhnya membeli apartemen. Tidak mewah sih, tapi cukuo untuk dirinya yang hidup sendirian.


Setelah mengepak beberapa baju dalam tas kecilnya. Hanya satu celana pandek dan dua kaos oblong saja, juga pakaian dalam. Karena di rumah ibunya, sudah ada pakaian juga. Dan lagi tidak menginap lama di sana, hanya beberapa hari.


Tapi memang tempat ibunya itu agak ke pinggir kota, jadi suasana masih seperti pedesaan. Meski sudah ramai oleh kendaaran lewat jalan rayanya.


Riko mengeluarkan mobilnya dari halaman apartemen khusus parkiran mobil bagi penghuni apartemennya. Dia melajukan mobilnya menuju Bekasi, sore hari biasanya padat dengan para pengendara pulang kantor. Tak jarang jalanan macet hingga satu kilo meter jaraknya. Kalau sudah begitu, Riko mengambil jalan tol agar cepat sampai di kampung ibunya itu.


Dia memasuki jalanan yang ada lampu merahnya, perlahan mobilnya merayap melewati lampu merah yang sebentar lagi menyala jadi hijau. Agak jenuh Riko di perjalanan yang padat, meski itu adalah makanan sehari-hari pagi dan sore hari.


"Eh, pak Jono. Gue ngga mau ya di ajak ngapa-ngapain. Emang gue cewek apaan." kata seseorang yang suaranya seorang perempuan.


"Eh, Dewi. Kamu jangan sombong, kan kamu yang goda-goda saya duluan. Jangan pura-pura kamu!" kata laki-laki bernama Jono.


"Yee, siapa yang goda-goda pak Jono?"


"Kamu!"


"Dih, saya turun di sini aja. Saya kira beneran mau belanja buat toko, kok di ajak ke hotel. Ogah banget!" ucap perempuan yang ada di mobil model avanza itu.


Dia mencoba untuk turun, tapi tangannya di tarik oleh laki-laki itu dengan kuat. Dewi mencoba menepis tangan kekar laki-laki gendut berkumis. Dia mencoba melawan, tapi tangan laki-laki itu ternyata kuat juga.


"Toloong!" teriak Dewi ketika dia di tarik kuat oleh laki-laki gendut itu dan membungkam mulutnya.


Riko yang sejak tadi mendengar percakapan itu pun akhirnya keluar dari dalam mobilnya. Dia menuju mobil avanza di samping mobilnya yang kebetulan sama-sama sedang menunggu lampu hijau menyala.


Dia menggebrak pintu mobil avanza itu, dan laki-laki yang membekap mulut perempuan bernama Dewi itu menoleh dan menatap tajam pada Riko.


"Lepaskan dia!" teriak Riko.


"Heh! Siapa kamu hah?!" teriak laki-laki gendut tersebut.


"Eh, pak Riko. Tolong gue!" teriak Dewi membuka bekapan tangan Jono.


Riko terus menggebrak pintu mobil itu, membuat pengendara lain menatap heran padanya.


"Lepaskan dia atau saya berteriak kamu penculik orang hah?!" teriak Riko pada Jono.


Karena suasana jalanan memang padat, mobil Jono juga tidak bisa kabur dari tempat itu. Maka mau tak mau dia pun melepaskan Dewi yang sejak tadi ingin lepas.

__ADS_1


Dewi turun dari mobil avanza milik Jono, laki-laki gendut berkumis tebal itu. Jono menatap tajam pada Riko dan beralih pada Dewi.


"Kamu saya pecat Dewi!" kata Jono sang bos Dewi itu.


"Oke, gue justru senang lo pecat gue. Enak aja gue mau di perkosa sama lo, dih gendut jelek, beristri lagi." kata Dewi mencibir penampilan Jona sang bos toko baju itu.


"Kamu tidak akan di terima bekerja di mana pun, aku akan pastikan itu!" kata Jono mengancam.


"Gue udah punya tempat sendiri, teman gue yang akan ajak kerja di tokonya nanti." kata Dewi tak mau kalah.


"Awas kamu ya, Dewi!" ancam Jono pada Dewi.


"Bos sinting!" kata Dewi mengumpat.


"Sudah, jangan ladeni dia." kata Riko menenangkan Dewi.


Mobil avanza milik Jono pun merangkak meninggalkan jalan depan lampu merah itu. Klakson berbunyi di belakang mobil Riko. Riko pun meminggirkan mobilnya, dia menyuruh Dewi masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu kenapa bisa di ajak sama dia?" tanya Riko setelah mobilnya sudah minggir di pinggir trotoar.


"Iya pak Riko, bos brengsek dia. Gue kira mau di ajak belanja buat tokonya beneran, ternyata mau di ajak ke hotel." kata Dewi.


"Ya, dia emang genit kalau sama pegawainya. Kalau yang lain sih ada yang mau di ajak begituan sama laki-laki gendut itu, dih gue sih ogah. Mending sama yang ganteng." kata Dewi.


Riko tersenyum, gaya bicara ceplas ceplos Dewi membuat Riko ingin tertawa dan ingat seseorang. Luna.


"Kamu itu, tetangganya nona Luna ya?" tanya Riko.


"Ya, gue teman sejak kecilnya. Dia udah nikah duluan." kata Dewi.


"Semua orang pasti dapat jodohnya cepat atau lambat." kata Riko.


"Iya, tapi enak tuh si Luna. Dapat cowok tajir lagi, udah ganteng dan kelihatannya suaminya sayang banget deh. Gue juga pengen punya suami kayak Luna, ganteng, kaya raya juga cinta banget sama gue. Uuh, idaman banget sih. Sayang aja Luna yang lebih dulu ketemu sama tuh cowok." kata Dewi.


"Lalu, kamu juga suka sama suami teman kamu itu?" tanya Riko memancing.


"Ya kagaklah pak Riko, itu namanya bukan teman sejati. Merebut laki orang itu ngga boleh, ibuku selalu bilang jangan jadi pelakor. Ngga enak hidupnya nanti, biar enak di awal tapi nanti sengsara kedepannya." kata Dewi.


Riko tertegun, teman yang baik sekali Dewi ini. Jarang ada teman pemikirannya dewasa seperti itu. Padahal usia mereka tidak jauh beda.

__ADS_1


"Kamu teman sejak kecil, jadi akrab banget ya sama nona Luna?" tanya Riko.


"Iyalah pak Riko, ada satu lagi tuh. Riki namanya, dia juga tetangga gue sama Luna. Kita teman dan sahabat kecil selamanya." kata Dewi.


"Hemm, menarik." ucap Riko.


"Apanya yang menarik pak Riko?"


"Tidak, persahabatan kalian sangat menarik. Oh ya, kamu sekarang mau pulang atau mau kemana?" tanya Riko.


"Pulang sih, tapi arahnya berlawanan sama pak Riko." kata Dewi.


"Memang aku mau mengantarkan kamu pulang?"


"Ngga juga sih. Heheh!"


"Terus? Mau kemana kamu?"


"Pulang aja pak Riko, naik angkot." kata Dewi.


"Yakin berani? Nanti di hadang lagi sama bosmu tadi." kata Riko.


"Ngga akan, kan bisa teriak di mobil kalau dia ngejar gue lagi." kata Dewi.


"Ya sudah, hati-hati ya."


"Ya pak Riko, terima kasih atas bantuannya tadi."


"Ya ngga masalah."


Dewi tersenyum, dia pun menyeberang jalan menunggu angkor karena arah mobil Riko dan rumahnya berlawanan. Riko hanya memandangi Dewi yang baru saja menyeberang. Sesuatu yang dia dapatkan kali ini membuat dirinya merasa sedikit kagum pada gadis itu.


Mungkin Luna adalah garis preman yang polos, dan Dewi itu gadis ceplas ceplos menurutnya. Tapi menarik jika untuk berteman, biasanha banyak sekali hal tak terduga pada gadis seperti Dewi.


Riko pun masuk ke dalam mobilnya, dia menjalankan mesinnya dan kini melajunya dengan kecepatan sedang. Pergi ke rumah ibunya yang mungkin sudah menunggunya di rumah.


_


_

__ADS_1



__ADS_2