
Setiap hari Leon siaga menjaga Luna, dia sangat antusias dengan kehamilan istrinya itu. Tidak menyangka akan dapat anak kembar empat, dan bisa di tebak di usia kandungan lima bulan saja di kira sudah menginjak tujuh bulan. Betapa repotnya Leon menghadapi kehamilan istrinya yang banyak maunya.
Alasannya ngidam, meski Leon suka rewel tapi dia selalu menuruti kemauan Luna. Luna senang, meski baru menginjak kehamilan lima bulan, dua bulan lagi tujuh bulan. Dan kata kakek Wira nanti akan mengadakan tujuh bulanan di rumahnya. Mengundang semua kalangan, dari rekan bisnis Leon dan juga keluarga Luna serta tetangganya.
"Mas, aku ke rumah bapak ya." kata Luna kali inj dia sudah biasa memanggil Leon panggilan lebih baik.
"Ya, boleh. Nanti aku antar sampai rumah bapak." kata Leon.
Mereka sedang bersiap, Leon mengambil tasnya dan menunggu istrinya merapikan rambutnya. Luna lebih sering berdanda ala gadis-gadis biasanya. Leon memandangi istrinya yang terlihat besar perutnya dan memakai baju hamil. Meski memakai celana, tapi tidak membuat perutnya sempit.
Leon mendekat dan mencium pipi Luna, lalu turun ke perutnya. Dia mengelusnya pelan, dan tangannya mendapatkan tendangan beberapa kali.
"Hahah! Aku suka dia menendang tanganku. Dia aktif banget ya." kata Leon.
"Ya, setiap malam selalu gerak-gerak. Jadi aku kurang tidur sebenarnya." jawab Luna.
"Terus, kenapa mau ke rumah bapak?" tanya Leon.
"Kangen bapak, udah lama ngga kesana." jawab Luna.
"Kan minggu lalu kamu kesana." kata Loen lagi.
"Ya terus kenapa? Ngga boleh ketemu bapak sendiri?" tanya Luna ketus.
"Ya ngga dong. Ya udah, ayo kita ke bawah. Ini udah siang, aku harus nganter kamu ke rumah bapak dulu." kata Leon.
"Iya." ucap Luna.
Dia meletakkan sisirnya, rambutnya seperti biasa di kuncir kuda. Dengan celana hamil dan juga kaos di padu dengan kardigan untuk menutupi perutnya sedikit. Leon menggandeng pinggang Luna membawanya turun ke bawah dengan pelan, membawakan tas selempang Luna.
Kakek Wira menunggu di meja makan, tapi Luna dan Leon tidak ikut sarapan. Mereka langsung ke mobilnya di depan rumah.
"Non Luna tidak sarapan dulu?" tanya bi Dori.
"Ngga bi, ngga pengen makan. Nanti aja di jalan." kata Luna.
"Lho, memang mau kemana?" tanya bi Dori.
"Oe rumah bapak bi, sore pulang lagi di jemput mas Leon." kata Luna.
"Hemm, ya udah. Hati-hati non Luna." kata bi Dori.
"Ya bi, terima kasih." ucap Luna.
Leon menjalankan mobilnya ketika istrinya sudah masuk dalam mobil. Dia akan mengantarkan Luna lebih dulu, baru pergi ke kantor. Jalanan sudah ramai di padati pengguna jalan yang biasa berangkat pagi menuju kantor atau pun ke tempat pendidikan.
Luna ingat masa sekolah SMA dulu, dia naik motor dengan Dewi dan juga Riki. Dua sahabatnkecilnya sekarang sudah bekerja di toko. Dewi kerja di toko kosmetik, sedangkan Riki di swalayan sebagai pelayan.
"Emm, mas. Kalau aku buka toko gimana?" tanya Luna.
"Toko apa?" tanya Leon.
__ADS_1
"Ya, toko apa kek. Toko baju juga ngga apa-apa, nanti yang kelola Dewi sama Riki." jawab Luna.
"Riki? Siapa lagi dia?" tanya Leon.
Pasalnya Luna baru menyebut nama Riki sepanjang mereka bersama. Padahal Riki itu yang membantu Luna dalam pernikahannya dulu.
"Riki teman kecil aku, sama kayak Dewi. Tetangga juga depan rumah." kata Luna.
"Ooh, yang waktu nikah bantu-bantu kamu?" tanya Leon.
"Iya, sekarang mereka kerja di toko sih. Tapi kalau aku punya toko sendiri, kan bisa mempekerjakan mereka, jadi mereka kerja sama aku." kata Luna.
"Boleh aja, nanti aku carikan tempat yang ramai. Uang kamu masih ada kan?" tanya Leon.
"Masih, belum aku gunakan. Kan aku ngga pernah beli apa-apa, malah kamu tambah terus." jawab Luna.
"Ya udah, nanti aku carikan tempat yang strategis. Biar tokonya ramai, tapi janji jangan ikuta ngatur-ngatur nantinya." kata Leon.
"Ya harus ikutan, kan punya aku. Aku yang ngatur, nanti mereka berdua yang kerja." kata Luna.
"Ya, tapi kamu kan lagi hamil. Nanti capek lho." kata Leon lagi.
"Kan aku diam aja, mereka nanti yang beresin nantinya. Udah sih, tokonya aja belum ada. Ini kan rencana, nanti aku kasih tahu mereka." ucap Luna lagi.
Leon diam saja, dia menghentikan mobilnya di depan rumah Jack. Kebetulan bapaknya Luna itu belum berangkat ke tempat parkiran di mana dia bekerja. Luna turun dari mobil, di susul Leon, dia membawakan tas Luna menuju rumah mertuanya itu.
"Lho, kok pagi-pagi kalian sudah datang?" tanya Jack.
"Kangen? Minggu kemarin kamu kesini? Memang ada apa sih?" tanya Jack.
"Kan udah di bilang pak, kangen. Emang ngga boleh?" tanya Luna.
"Ya boleh, ya udah masuk sana. Bapak tadi rebus singkong, masih ada di dapur." kata Jack.
"Waah, boleh pak. Luna suka singkong rebus." kata Luna.
Dia lalu pergi ke dapur, di susul oleh suaminya. Dia ingin berpamitan pada istrinya di dapur. Luna sedang memgambil singkong rebus di panci, dan memindahkannya di piring.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya." kata Leon mendekat pada Luna.
"Ya, hati-hati ya." kata Luna.
Leon mencium bibir istrinya, keningnya lalu perutnya juga. Kembali dia mencium bibir istrinya, karena di rumah tadi dia belum menciumnya. Luna diam saja, lalu membalasnya.
"Luna!"
Teriak seseorang di ruang tamu. Luna mendorong suaminya untuk melepas ciumannya.
"Udah ah, ngga habis-habis sih."
"Heheh. Aku pergi ya, jaga kandungannya. Jangan macam-macam." kata Leon memberi pesan.
__ADS_1
"Iya."
Mereka pun keluar dari dapur pergi menuju ruang tamu. Leon berpamitan juga pada mertuanya. Di depan ada Dewi yang menunggu Luna.
"Selamat pagi tuan Leon." sapa Dewi dengan senyumannya.
"Jangan ganjen deh!" kata Luna menoyor kepala Dewi.
"Apa sih lo! Gue nyapa suami lo doang." kata Dewi.
"Udah, mas sana berangkat. Jangan ladeni dia." kata Luna merengut.
Leon tersenyum, dia lalu melangkah keluar dan menuju mobilnya. Di antar Luna sampai masuk mobil, dan mobil pun melaju pelan. Luna melambaikan tangannya sampai mobil suaminya tak terlihat.
Luna pun masuk lagi ke dalam rumah, dia melihat Dewi sedang menyantap singkong rebus. Dengan langkah cepat Luna mengambil singkong di piring dan menggeplak tangan Dewi hingga singkong yang siap masuk ke dalam mulutnya terjatuh.
"Ish! Lo kenapa sih?!"
"Ya lo kenapa ambil singkong gue?!" tanya Luna ketus.
"Ye, kan gue minta Lun. Lo pelit banget sih."
"Ini singkong buatan bapak gue, sana rebus sendiri!"
"Ogah, enak tinggal makan aja. Minta satu aja." kata Dewi.
"Ogah! Lo ambil sana di dapur."
"Pelit lo!"
"Biarin!"
Keduanya diam, Luna memakan singkong rebusnya. Dewi menatap Luna yang asyik makan singkong rebus dengan tenang. Dewi berdecih kesal, lalu bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. Tak lama dia membawa piring berisi singkong rebus juga.
"Wi, lo mau ngga gue ajak kerja sama?" tanya Luna tiba-tiba.
"Kerja sama apa?"
"Nanti gue mau buka toko, terus lo sama Riki yang jaga tokonya. Gimana?" tanya Dewi.
"Waaah, lo mau buka toko apa?" tanya Dewi antusias.
"Belum kepikiran, suami gue mau cari tempat dulu di tempat strategis. Baru nanti gue pikirin mau buka toko apa, " kata Luna.
Mereka mengobrol dengan santai, sampai siang hari. Obrolan mereka pun kini beralih mengenang masa SMA dulu, pergi ke sekolah bersama dengan Riki juga.
_
\=\=\=\=>> ceritanya di perpanjang ya, nanti othor mau ceritakan tentang Riko juga. Pastinya lebih seru dan kocak lho ya...😊😍😍
_
__ADS_1