Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
76. Godaan


__ADS_3

"Ngomong apa sih?" tanya Riki menatap Dewi sinis.


Dia melihat Dewi senyum-senyum sendiri di ruangannya ketika waktu istirahat. Dewi tidak menghiraukan pertanyaan Riki.


"Dewi! Woy!!" teriak Riki membuat Dewi terkejut dan menatap tajam padanya.


Dia mengambil benda apa saja di meja lalu di lempar pada laki-laki yang berteriak tadi.


Bug!


"Aauw! Kampret lo! Sakit bego!" umpat Riki.


"Makanya jangan teriak-teriak! Kayak orang kesetanan aja." kata Dewi masih kesal dengan tingkah sahabat kecilnya itu.


"Ya lo, kenapa senyum-senyum sendiri? Lagian tadi di tanya kok diam aja, malah melamun." kata Riki.


"Ada apa sih?!"


"Lo kenapa tadi senyum-senyum sendiri? Lo lagi bahagia? Cerita kenapa sama gue." kata Riki.


"Emm, iya nih. Gue lagi bahagia sekaligus bingung." jawab Dewi.


"Bingung kenapa? Ada gitu bahagia tapi bingung." ujar Riki lagi.


"Ya ada, buktinya gue."


"Lo bingung kenapa? Tadi gue lihat lo berangkat di antar pak Riko. Dan kata emak lo itu tadi malam lo ngga pulang. Lo kemana aja?" tanya Riki lagi.


"Gue menginap di rumah ibunya bang Riko." jawab Dewi dengan senyumnya.


"Bang Riko? Pak Riko maksudnya?" tanya Riki.


"Iya."


"Jadi panggilan lo ganti sekarang, bang Riko?" tanya Riki.


"Iya, kan dia sekarang jadi pacar gue." jawab Dewi.


"Ish! Yang benar lo?!"


"Ngga percaya ya udah." jawab Dewi cuek.


Dia meneruskan pekerjaannya, Riki menatap wajah Dewi yang ceria lagi. Dia berdecak kesal.


"Lo yakin pak Riko cinta sama lo?" tanya Riki lagi.


"Jelaslah, tadi dia bilang cinta sama gue. Kenapa? Lo cemburu? Pacaran sana sama si Nina, dia suka lho sama lo Rik." kata Dewi.


"Gue sukanya sama lo, Wi." kata Riki lesu.


"Apa?!"


"Kagak. Bercanda gue." kata Riki tersenyum kaku.


"Riki, kita ini sahabatan ya. Kagak ada cinta-cintaan, gue juga suka sama bang Riko kok. Bukan lo." kata Dewi.


"Iya, gue tahu. Tadi aja lo senyum-senyum sendiri ngga jelas, kayak orang gila."


Bug!


"Aduh! Lo kenapa sih seneng banget nimpuk gue pake barang?!"


"Biarin!"


Keduanya saling tatap tajam, seperti sedang bermusuhan. Tiba-tiba suara seorang gadis membuyarkan keduanya.


"Mbak Dewi, tokonya buka sekarang atau kapan nih?" tanya gadis bernama Nina itu.

__ADS_1


"Ya, sekarang aja Nin. Tuh, Riki mau bantuin juga." kata Dewi.


"Dih, tugas dialah."


"Lo cowok, kenapa jadi culun gitu sikapnya?" sindir Dewi.


"Iyee! Bawel!"


Riki pergi dengan kesal. Entah apa yang mereka ributkan, apakah Riki cemburu kalau Dewi sekarang jadian sama Riko? Entahlah.


_


Dewi di jemput oleh Riko, mereka janjian akan cari makan di pinggir jalan hanya berdua. Riki sendiri pulang lebih dulu, sebelum Riko datang menjemput Dewi.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Melaju mobil Riko mencari tempat makan di pinggir jalan yang enak untuk mengobrol santai. Riko memarkirkan mobilnya di dekat alun-alun kota. Mereka akan makan di saja, karena banyak sekali para pedagang dan juga pengunjung mencari makan dan juga hiburan.


"Kamu suka makan di sini?" tanya Riko.


"Aku suka makan apa aja, tapi kalau makan di pinggir jalan suka makan mie goreng aja dengan topingnya." jawab Dewi.


"Baiklah, kita cari mie goreng enak." kata Riko.


Seperti sedang kencan berdua, keduanya kini mencari tenda warung makanan untuk makan malam berdua. Ada rasa senang di hati Dewi, malam ini rasanya dia memang seperti orang yang mempunyai kekasih. Meski sepertinya dia masih bertanya-tanya dengan pernyataan cinta Riko yang secara mendadak itu.


Mereka pun duduk di tenda warung makan mie goreng. Dengan berbagai macam toping ayam dan sejenisnya. Riko melihat Dewi nampak senang itu jadi ikut senang, dia tersenyum.


"Minumnya teh hangat ya. Malam ini sangat dingin banget." kata Dewi.


"Ya."


Mereka menunggu pesanan, Riko membuka ponselnya. Tidak ada notif apa pun, biasanya ada pesan singkat dari bosnya Leon.


"Emm, bang Riko." kata Dewi ragu.


"Kenapa?"


"Tadi pagi itu apa sih?" tanya Dewi.


"Ish! Tadi pagi yang bilang ..." ucapan Dewi tak berlanjut.


"Ooh, itu. Lalu, kamu ragu dengan ucapanku itu?" tanya Riko.


"Ya ngga, cuma kok mendadak sih." kata Dewi.


"Lalu kamu pengennya harus seperti apa? Yang romantis?" tanya Riko.


"Ya ngga sih. Udahlah, ngga usah di bahas." kata Dewi lagi.


"Oke, nanti aku akan katakan dengan cara romantis." kata Riko.


"Apa sih, ngga usah."


"Tapi, kamu juga cinta kan sama aku?" tanya Riko.


Kini dia juga ingin tahu apakah Dewi juga menyukainya. Dia menatap Dewi yang kini salah tingkah karena di tatap olehnya.


"Jangan tatap begitu sih bang." kata Dewi.


"Aku cari kepastian dari kamu dengan pertanyaanku tadi." kata Riko lagi.


"Iya."


"Iya apa?"


"Iyaa, iya."


"Iya apa?"

__ADS_1


"Iya itu."


"Itu apa?"


"Ish, usah deh. Malu mengatakannnya." kata Dewi merah pipinya.


Riko tersenyum, tangannya menopang dagunya. Senang menggoda Dewi seperti itu.


"Aku tidak mengerti dengan ucapan iya iyamu itu. Coba katakan yang benar." kata Riko lagi.


"Udah sih, yang penting mengerti." kata Dewi lagi.


"Tapi aku tidak mengerti."


"Haish!"


pelayan menghampiri kedua sejoli itu yang sedang berdebat tidak penting. Dia meletakkan piring-piring berisi makanan pesanan mereka, Dewi merasa lega dengan datangnya makanan itu. Artinya tidak ada lagi pertanyaan Riko.


"Silakan mas, mbak." kata pelayannya.


"Iya mas, terima kasih." kata Dewi.


"Pertanyaanku masih berlanjut lho, setelah makan." kata Riko berbisik.


"Udah dong, makan dulu." kata Dewi.


Mereka pun makan mie goreng dengan santai. Dewi sengaja makan dengan pelan agar Riko tidak bertanya lagi. Tapi dia salah, Riko justru makan lebih cepat selesai dan memandanginya makan dengan bertopang dagu lagi.


"Kenapa sih begitu?" tanya Dewi.


"Kan aku sudah bilang, tadi ngomong apa?"


Dewi menghentikan makannya, menatap balik pada laki-laki itu. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, sepertinya dia akan melakukan sesuati. Tapi ragu, lalu melanjutkan makannya lagi.


"Dewi?"


"Apa?"


"Apa aku harus cium kamu di sini?"


"Ih, kok gitu?"


"Katakan!"


"Iya iya, aku juga suka kok."


"Suka apa?"


"Suka bang Riko, cinta juga. Udah kan?"


"Oke, cukup."


"Kayak lagi melamar pekerjaan aja sih."


"Ayo pulang. Sudah malam, nanti aku di marahi lagi sama ibumu." kata Riko.


"Iya."


Dewi mengambil minumannya dan meneguknya, lalu Riko membayar makanan yang mereka makan itu. Kini mereka jalan-jalan di sekitar alun-alun itu, Riko menarik tangan Dewi dan menggenggamnya.


"Katanya pulang."


"Nanti dulu."


Keduanya diam, menikmati malam ini berdua meski hanya jalan-jalan sesaat dari alun-alun menuju mobilnya.


_

__ADS_1


_



__ADS_2