
Leon dalam rapat jajaran pejabat tinggi perusahaan dengan kakeknya, mengenalkan pada mereka jika bulan depan perusahaan akan di pimpin oleh cucunya yaitu Leon.
Semua nampak senang, karena Leon pekerja keras. Tidak pernah mangkir dari pekerjaannya, sekalipun dia punya masalah. Tapi tetap di kerjakan lebih dulu, baru menyelesaikan masalahnya.
"Jadi nanti Leon yang akan memimpin perusahaan ini, karena dia sekarang sudah menikah. Saya akan menunggu cucuku itu ounya anak dan bermain dengan cicitku saja, hahah." kata kakek Wira pada para pejabat tinggi dan pemegang saham.
"Ya, saya dengan pak Wira sudah mempunyai cucu menantu. Jadi, dia dari kalangan mana? Soalnya saya tidak menerima undangan pesta pernikahan pak Leon." kata salah satu pemegang saham.
"Hemm, maafkan saya tidak mengundang kalian semua. Tapi percayalah, dari mana asal mula istri Leon itu tidak jadi masalah. Yang penting dia baik dan mengurus keluarga dan tidak mementingkan kekayaan serta memanfaatkan kekayaan yang di miliki Leon." kata kakek Wira.
"Ya, saya mengerti tuan Wira. Semua memang butuh alasan. Memang banyak sekali perempuan-perempuan jaman sekarang hanya memginginkan harta dari seorang laki-laki, dan pada akhirnya di tinggalkan ketika sudah tidak punya apa-apa lagi. Jadi memilih pasangan itu harus yang baik kan? Hahah!" kata pemegang saham itu.
Semua membenarkan, kejadiannya sudah banyak. Ketika suami bangkrut usahanya, banyak istri yang dengan tega meninggalkan suaminya demi mengejar laki-laki yang kaya. Para pejabat perusahaan dan juga pemegang saham perusahaan kakek Wira membenarkan itu.
Makanya kakek Wira tidak sembarangan menunjuk orang untuk menduduki sebuah jabatan penting di perushaannnya, atau menerima pemegang saham itu ikut menanam sahamnya di perusahaan besar miliknya. Rata-rata mereka bekerja dengan sungguh-sumgguh dan pekerja keras.
Kakek Wira juga tidak sembarang menunjuk cucunya, sudah terbukti Leon itu pekerja keras. Mendahului pekerjaan dari pada masalah lain, meski sekarang mungkin dia akan selalu menyuruh istrinya nanti datang ke kantornya. Baginya tidak masalah, karena Leon sudah terbukti baik.
_
Tuuut.
Telepon Leon berbunyi, nama Sherly di saja. Luna mengambil ponsel suaminya itu. Mereka sedang tidur di ranjang setelah bermain kuda-kudaan. Sekarang Luna sudah bisa menjadi istri yang baik bagi Leon, menuruti kemauan Leon ketika dia mau bermain kuda-kudaan.
Karena dia sendiri sudah menempatkan Leon dalam hatinya, meski masih ada rasa gengsi. Luna menatap ponsel Leon dengan kesal, kenapa malam-malam begini gadis itu menelepon suaminya. Ingin dia menjawabnya, tapi ragu nanti justru Sherly menutupnya lagi. Akhirnya dia membangunkan suaminya.
"Leon, bangun. Ada telepon nih." kata Luna.
"Jawab aja sayang, aku ngantuk." kata Leon.
"Tapi ini dari mantan kamu." kata Luna ketus.
Sontak saja Leon bangun, membuat Luna kaget dan kesal.
"Mana ponselnya?" tanya Leon.
"Cih! Kata mantan kok kamu langsung bangun sih? Kamu masih suka sama dia?" tanya Luna yang kini kalimat dan ucapannya sudah mulai berubah.
"Ngga sayang, aku cintanya sama kamu kok. Cuma mau bilang, aku udah bahagia sama kamu. Beberapa hari ini dia terus saja menelepon aku, aku abaikan. Tapi karena sekarang ada kamu ya aku akan jawab agar dia jangan lagi ganggu aku." kata Leon.
Tatapan tajam Luna kini melemah, Leon mengecup bibir istrinya itu agar menyerahkan ponselnya.
"Jangan cemburu dong sayang, aku akan putuskan semuanya." kata Leon.
__ADS_1
"Awas ya, kalau lo masih suka sama dia." kata Luna kembali ke awal.
"Duh, tadi udah enak dengarnya. Kini kenapa lo gue lagi sih. Jadi mode cemburu istriku bisa di tebak ya, hahah!"
"Berisik lho!"
"Sini ponselnya, nanti aku besarin volumenya. Biar kamu tahu percakapannya seperti apa." kata Leon.
Luna diam, lalu menyerahkan ponsel suaminya yang sejak tadi tidak mau diam. Leon merubah posisi duduknya, menarik tubuh Luna yang polos dan memainkan slimenya. Sambil menelepon Sherly.
"Halo?"
"Leon, kenapa sih ngga mau jawab teleponku?!"
"Mau apa kamu menelepon aku malam-malam? Istriku cemburu tahu." kata Leon.
Plak!
Tangan Leon di pukul Luna karena memencet bagian ujungnya dengan keras. Membuat Luna kaget dan geli, namun dia memukul tangan suaminya. Leon hanya tertawa kecil.
"Ooh, jadi kamu sudah lupa sama aku? Cintamu mudah banget ta beralih pada gadis preman itu? Tega banget sih kamu, Leon? Hik hik hik."
"Jangan lebay deh, kamu mau apa meneleponku malam-malam?"
Plak!
"Apa sih?"
"Tangannya diam!" ucap Luna.
"Aku suka sayang. Udah kamu diam aja kenapa sih." ucap Leon.
Percakapan mereka di dengar oleh Sherly, membuat dia semakin marah pada Leon.
"Leon! Kamu tega ya."
"Tega apa?!"
"Besok aku mau ketemu sama kamu!"
"Mau apa?"
"Ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu."
__ADS_1
"Mau menunjukkan apa?"
"Pokoknya kamu harus datang! Kalau tidak, aku akan datang sama kakekmu meminta pertanggung jawaban sama kakek tua itu!"
Klik!
"Ih, pertanggung jawaban apa sih? Aneh banget." kata Leon.
"Ngomong apa dia?" tanya Luna.
"Memang tadi ngga dengar?" tanya Leon.
"Ngga fokus, tangan lo itu kemana-mana." kata Luna ketus.
"Uuh, jadi kepengen lagi ya? Heheh, yuk main kuda-kudaan lagi."
"Ogah! Jawab dulu dia mau apa?!" tanya Luna berteriak.
"Dia mau ketemu aku besok, katanya mau menunjukkan sesuatu sama aku. Ngga tahu apa, dia mengancam kalau ngga mau ketemu dia mau menemui kakek. Mau minta pertanggung jawaban katanya, pertanggung jawaban apa?"
"Emang lo habis melakukan apa sama dia?" tanya Luna mode cemburu.
"Aku ngga melakukan apa-apa. Kan aku udah bilang kalau aku masih perjaka, kamu merasakannya kan kalau aku ngga lihai dalam hal kuda-kudaan selain malam pertama itu. Tapi sekarangkan sudah ahli aku." kata Leon
Luna mendengus kesal, dia tidak mengerti bagaimana laki-laki masih perjaka atau belum. Yang dia tahu semua laki-laki itu pikirannya mesum.
"Sayang, jangan kesal dong. Begini aja, besok kamu ikut sama aku ketemu dia. Tapi tunggu dia bicara dulu, aku ingin tahu dia mau menunjukkan apa sama aku. Nanti aku panggil kamu deh kalau dia macam-macam." kata Leon.
Luna tampak berpikir, ada baiknya rencana Leon itu. Dia pun mengangguk tanda setuju, Leon tersenyum senang. Dia kini merayu istrinya agar bisa bermain kuda-kudaan lagi.
"Yuk, kita main kuda-kudaan lagi?" ajak Leon
"Ih, memangnya masih kurang?"
"Kan tadi kebangun sama kamu, kalau ngga di bangunin aku tidur sampai pagi. Kamu selamat." kata Leon kembali tangannya memegang slime Luna.
Dan terjadilah peperangan di ranjang, mereka kembali bermain kuda-kudaan hingga dua kali pelepasan. Luna sendiri juga menikmatinya, entah pengaruh apa dia sampai rela bermain kuda-kudaan beberapa kali dengan suaminya. Hormon kah?
_
_
__ADS_1
"