
Siang hari waktunya jalan-jalan, semuanya jalan-jalan ke tempat wisata. Mereka berpencar, ada yang pergi ke mall ada juga pergi ke tempat kuliner. Luna pergi ke tempat kuliner dengan keempat anak dan suaminya serta baby sitternya.
Mereka makan-makan lalu di lanjutkan pergi ke taman hiburan. Sedangkan Dewi dan Riko malah justru memilih pergi ke Marlion Park, Universal Studios dan juga Singapore River Cruise. Cocok bagi pasangan untuk jalan-jalan dan mengelilingi sungai di Singapura dengan pemandangan yang cantik. Menaiki kapal listrik yang canggih.
Sedangkan Luna setelah acara kuliner mereka pergi ke taman hiburan dan juga kebun binatang Singapore Zoo dan Jurong Bird Park. Karena Leon membawa anak-anak, jadi liburannya pergi ke kebun binatang.
Setelah puas semuanya, mereka kembali lagi ke hotel tempat mereka menginap. Sangat melelahkan sekali, hingga Luna pun tiba di kamar hotel tertidur.
Leon merasa kasihan, memang sejak di tempat wisata kebun binatang itu Cantika rewel sekali, sehingga harus di gendong terus oleh Luna dan Leon bergantian.
"Kasihan sekali kamu sayang, capek ya. Cup." kata Leon.
"Hemm."
Hanya gumaman tanggapan Luna, karena dia memang sangat lelah sekali. Padahal ada trolly, tapi bayi perempuannya tidak mau di gendong mbaknya. Dan akhirnya Luna yang mengalah, dia yang menggendong Cantika bergantian dengan Leon.
"Aku ke lobi ya, ada temanku di sana nunggu. Kamu telepon aja kalau ingin sesuatu." kata Leon, dia melihat istrinya belum tidur benar makanya memberi pesan dan pamit keluar dari kamarnya.
Namun rupanya Luna tidak menjawab, akhirnya Leon pun keluar dan akan menemui temannya di lobi hotel. Sudah lama dia tidak bertemu teman satu kampus ketika kuliah di Malaysia, dan kebetulan ada di hotel yang sama.
_
Bangun tidur Luna langsung ke kamar kwartet, dia ingin melihat anak-anaknya apakah tidur dengan nyenyak atau mereka sedang bermain dengan baby sitternya. Tapi ternyata di kamar tidak ada, dia pun bingung. Kemana kwartet di bawa, apakah di bawa sama Leon menemui temannya?
"Kwartet kemana ya? Kok si mbak ngga bilang sih sama aku?" ucap Luna.
Tanpa pikir panjang, Luna pun segera keluar dari kamarnya untuk mencari anak-anaknya dan suaminya. Tanpa merapikan lebih dulu wajah dan juga rambutnya, dia masuk lift. Turun ke lantai bawah, dia ingat tadi sore suaminya mengatakan akan ke lobi menemui temannya.
Sampai di lantai dasar, langsung keluar dan mencari di mana keberadaan suaminya itu. Luna merogoh kantong celananya, namun sialnya dalam kantong celananya tidak ada ponselnya. Dia pun berdecak kesal.
"Ck, kenapa ponselnya ketinggalan sih." ucapnya.
Mau naik lagi ambil ponsel rasanya malas, sudah di bawah. Dan lantai kamarnya dia di lantai sepuluh, jadi malas untuk balik lagi. Akhirnya dia berjalan menelusuri lobi dengan penampilan yang mengundang pandangan orang-orang yang berpapasan.
Dia bingung mau mencari kemana Leon dan anak-anaknya. Lalu dia pun menuju resepsionis, tapi ragu untuk bertanya karena pegawainya menggunakan bahasa Inggris bicaranya.
"Duh, gimana ya tanya sama petugas itu? Gue ngga bisa bahasa Inggris lagi." ucap Luna kebingungan.
Sambil berpikir dia pun menunggu, apakah ada Dewi atau Riki yang turun ke lobi dan nanti bisa membantu mencari suami dan anaknya. Tapi di tunggu beberapa menit tidak ada yang nongol juga.
Huft, gue harus nunggu di sini atau kembali ke kamar ya. Pada kemana sih mereka itu?" ucap Luna lagi mulai kesal karena tidak bisa apa-apa di hotel tersebut.
Matanya beredar ke seluruh penjuru tempat, dia melihat ada ibu-ibu yang menggendong seorang bayi usia lima bulan. Luna memperhatikan baju sang bayi, seperti dia kenal. Ketika ibu itu menoleh dan terlihat wajah bayi tersebut, sontak saja Luna kaget.
Dia berjalan cepat menghampiri ibu-ibu yang membawa bayi di duga itu adalah salah satu anaknya. Dia marah sekali ibu itu membawa Devano, lalu tanpa di duga dia merebut bayi Devano dari tangan ibu tersebut.
"Hei! Ini anak gue!" teriak Luna menarik cepat anaknya dari tangan ibu tersebut.
__ADS_1
"Hei! Siapa kau?! Merebut anak ini dariku!" teriak ibu itu marah.
"Ini anak gue! Lo mau bawa anak gue kemana hah?!" tanya Luna dengan wajah garang dan mata melotot.
"Eh, dia merebut bayinya. Petugas, tolong ada perempuan yang merebut bayi dari tanganku!" teriak ibu itu pada petugas.
Luna pun berlari ke arah lobi sambil membawa Devano. Dia mencari lift kosong, namun semua lift sudah penuh. Luna pun berlari kembali menghindar dari kejaran petugas keamanan sambil mendekat.
Devano yang berada di dekapan ibunya di ajak berlari kesana kemari hanya diam saja, bahkan bayi laki-laki itu justru tertawa.
"Hei, kamu kembalikan bayi itu! Jangan menculik bayi, saya laporkan kamu ke kantor polisi!" teriak petugas keamanan mengejar Luna.
Luna tidak peduli, dia berlari menghindar. Bahkan dia keluar dari lobi hotel sampai di depan parkiran. Petugas keamanan meminta bantuan untuk mencari Luna yang membawa Devano.
Luna bersembunyi di belakang mobil, wajah takut dan cemasnya itu sangat kentara. Dia melihat anaknya diam saja.
"Kenapa kamu ada sama wanita itu sayang, kemana papi kamu?" tanya Luna pada anak bontotnya itu.
"Pipipipi."
"Ish! Kamu kok gimana sih, papi kamu kemana?"
"Pipipi!"
Luna mendengar derap langkah beberapa petugas mencarinya, dia bersembunyi semakin menunduk di belakang mobil. Semua orang mencari Luna dan bayinya, terutama Leon juga mencari. Dia panik kemana anak bontotnya di bawa pergi.
"Kenapa Luna tidak menjawab sih, apa dia masih tidur? Duh, kalau dia tahu anaknya di culik sudah pasti dia marah." ucap Leon lagi.
"Leon, maafkan mak cik. Tadi mak cik bawa jalan-jalan terus ada perempuan menarik anak kamu, mak cik kaget dia langsung bawa kabur anak kamu aja." kata perempuan yang tadi membawa anak Leon itu.
"Terus mak cik tahu kemana penculik anak itu pergi? Istriku pasti marah besar kalau anaknya hilang." kata Leon.
"Tadi sih mak cik lihat keluar. Tapi entah kemana larinya." kata perempuan yang di panggil mak cik.
"Kena kau! Kembalikan anaknya! Kamu mau menculik bayi kan? Lalu di jual?!"
Suara teriakan petugas yang memergoki Luna sedang bersembunyi. Dia menyeret Luna untuk keluar dari persembunyiannya.
"Lepaskan, ini anak gue. Perempuan itu yang mau menculik anak gue, gue ini emaknya kwartet. Jangan coba-coba kamu menuduh sembarangan ya! Gue emaknya kwartet!" teriak Luna mendekap erat Devano.
Bayi itu menangis ketika ibunya di tarik oleh petugas, Leon mendekat. Dia mendengar anaknya menangis dan suara teriakan perempuan yang dia kenal.
"Sayang!" teriak Leon pada Luna
Luna menoleh, dia melepas paksa tangan dari petugas dan berlari mendekat pada suaminya.
"Mas, ada perempuan bawa Devano. Untung aku tahu lalu aku rebut. Dia mau menculik anak kita." kata Luna bercerita dengan nafas terengah.
__ADS_1
"Jadi kamu yang rebut Devano? Aku pikir siapa, sayang." kata Leon mendekap istrinya dan anaknya.
Perempuan yang tadi membawa Devano pun mendekat. Dia heran kenapa Leon mendekap Luna.
"Leon, dia yang bawa anakmu. Nah, kan itu anakmu." kata perempuan itu.
"Dia istriku Mak Cik. Devano anak kami, dan tiga yang tadi dengan kakek." kata Leon.
"Ooh, jadi dia istrimu? Tapi kok Mak Cik ngga tahu, penampilan istrimu kok berantakan." kata Mak Cik.
"Dia baru bangun tidur, mungkin dia kaget karena aku ngga ada dan anaknya juga tidak ada di kamar. Dia Luna Mak Cik.' kata Leon memperkenalkan istrinya.
"Ooh, maafkan Mak Cik kalau begitu. Mak Cik tidak tahu, sampai lapor sama petugas." kata Mak Cik.
"Ya, semua salah paham. Ya sudah, ayo kita ke restoran lagi." kata Leon.
Luna masih diam saja, dia masih tidak mengerti dengan perempuan yang di panggil Mak Cik itu.
"Dia siapa mas?" tanya Luna.
"Dia saudara kakel dari Malaysia, kakek menghubungi mereka kalau kita ada di Singapura. Jadi mereka datang kemari untuk melihat kwartet." jawab Leon.
"Tadi kupikir dia penculik, jadi aku ambil Devano daj bawa lari."
"Kenapa kamu seperti ini? Berantakan banget, rambut ngga di sisir dulu." kata Leon.
"Aku panik mas, kamu ngga ada dan kwartet di kamarnya juga ngga ada. Jadi aku turun ke bawah cari kamu."
"Kenapa ngga telepon aku dulu?"
"Ponselnya ketinggalan di kamar."
"Ya udah, kita ke restoran aja. Semua kumpul di sana, kamu aja yang belum datang sayang." kata Leon.
Mereka pun pergi menuju restoran untuk makan malam. Luna merapikan rambutnya dan juga bajunya yang sempat berantakan karena berlari menghindar dari kejaran petugas keamanan.
\_
\=\=\> Tamatin dulu ya, nanti tunggu bonchapnya.. 🙏🙏😊😊
\_
__ADS_1