
Leon membeli ponsel baru, dia sudah menyimpan nomor Sherly. Dan segera menghubunginya, Leon tidak sabar ingin bertemu dengan Sherly yang baru beberapa hari pulang dari Singapura. Dan siang ini, dia janjian bertemu dengan Sherly di restoran mewah seperti biasanya.
Leon menunggu Sherly datang, melirik jam di tangannya dengan beberapa kali. Memang baru beberapa menit dia tiba di reatoran langganan mereka bertemi, tapi Sherly memberitahu kalau datang telat. Tak lama, Sherly pun datang dengan penampilan yang membuat orang tercengang.
Memakai tangtop dengan belahan dada yang terbuka, juga rok pendek melebar jika berjalan ala di catwalk. Maka akan seperti pemandangan model yang sedang berjalan. Entah kenapa melihat Sherly berpakaian seperti itu tidak tertarik, justru dia membayangkan Luna memakai handuk saja.
"Haish! Kenapa aku kepikiran gadis preman itu?" gumam Leon, kepalanya menggeleng pelan.
"Halo sayang, kamu lama menunggu." kata Sherly menyapa Leon dengan cipika cipiki lalu duduk dengan anggun.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu?" tanya Leon seperti tidak suka Sherly memakai baju seperti itu.
"Aku gerah sayang, pengen pakai baju terbuka aja." kata Sherly mengibaskan rambutnya.
Orang-orang di restoran semua melihat dengan penampilan Sherly itu, ada yang berpikiran mesum. Ada juga yang mencibir, tapi mereka melihat Leon dengan kagum karena ketampanannya.
"Tapi semua menatap kamu, sayang. Aku tidak terlalu suka kamu memakai seperti itu." kata Leon.
"Kalau ngga suka, ya jangan di lihat. Gampang kan." kata Sherly dengan santai.
Leon mendengus kesal, menatap tajam pada Sherly. Di balas dengan senyuman genit Sherly dan tangannya mencubit tipis dagu Leon.
"Tenang sayang, aku habis dapat materi modeling memakai baju energik dan sportif. Belum sempat ganti baju, lagi pula kamu kan tahu aku itu model. Udah, ah. Jangan marah terus, kamu mana janjinya." kata Sherly menagih janji pada Leon.
"Janji apa?"
"Waktu ke Singapura kamu ngga kasih aku uang jajan lho. Ngga bisa antar aku juga, kamu harus menggantinya Leon." kata Sherly.
Leon menghela nafas panjang, dia belum dapat uang dari perusahaan. Jadi uangnya tinggal tiga puluh juta, belum tadi dia membeli ponsel mahal yang harganya puluhan juta juga. Dia berpikir lebih baik memanjakan diri dengan uangnya sendiri, dari pada harus keluar tapi dia tidak menggunakannya.
"Leon? Kamu masih ingat kan?" tanya Sherly.
"Uangku habis, Sherly." kata Leon, lebih baik jujur saja.
"Lho, kok habis sih? Kan kamu banyak uang sayang, masa habis sih."
"Uangku belum kudapatkan dari perusahaan, pinjaman di bagian keuangan belum turun. Memangnya kamu mau beli apa?" tanya Leon.
"Tentu saja aku mau beli sepatu sayang, beli baju juga buat peragaan model. Gimana sih kamu." kata Sherly sedikit kesal Leon mengelak dari janjinya.
__ADS_1
"Kan barang-barang itu sudah kamu beli. Lagi pula kamu pasti beli barang juga kan di Singapura." kata Leon.
"Ya, tapi itu pakai uang aku Leon."
"Sama saja, yang pakai juga kamu kan?"
"Jadi kamu menolak keinginanku?" tanya Sherly kesal.
"Bukan begitu, biasanya juga aku kasih kalau kamu minta. Sekarang keuanganku lagi menipis, tolong ngerti aku dong sayang." kata Leon.
"Masa CEO perusahaan besar ngga punya uang sih. Ya udah, pakai kartu kredit aja belanjanya." kata Sherly tidak mau dia gagal belanja dari uang Leon.
"Kartu kreditku udah sampai limit, belum juga di bayar. Sekarang begini deh, minggu depan kita jalan-jalan dan belanja ya. Sekarang aku ngga ada uang." kata Leon lagi.
"Ya udah, memang di ATM kamu ada berapa uangnya?" tanya Sherly.
"Sedikit."
"Ya, berapa?"
"Cuma sepuluh juta. Tadi aku habis beli ponsel, kan ponselku rusak di banting sama kakek karena meneleponmu. Kita makan di sini juga belun tentu kurang dari satu juta habisnya, pasti di atas dua juta." kata Leon.
Sherly mendengus kesal, hari ini niatnya mau membeli sepatu kesukaannya di mall terkenal. Tapi gagal karena Leon tidak punya uang.
"Minggu depan, janji." kata Leon.
"Ya udah, sekarang makan aja. Aku lapar." kata Sherly.
"Oke, aku juga lapar." kata Leon.
Dia lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan kesukaan Sherly dan dirinya.
_
Luna dan Riko berada di mall, sesuai dengan ucapan kemarin malam. Kakek Wira yang meminta Riko menemani Luna pergi ke mall membeli baju-baju untuknya. Dan saat ini Luna sedang memilih kaos yang dia inginkan.
Berkeliling setiap outlet baju, melihat harganya tidak ada yang cocok menurutnya. Terlalu mahal, bayangkan. Satu kaos harganya di atas dua ratus, jika membeli di pasar malam atau toko biasa seharga dua ratus ribu itu bisa dapat empat potong. Itu menurut Luna.
Sampai Riko pun heran, kenapa Luna hanya memegang kaos dan celana jeans saja lalu pergi lagi. Begitu seteruanya, hingga di outlet paling ujung tetap saja belum ada yang membuat Luna tertarik.
__ADS_1
"Nona, anda mencari baju kaos kan?" tanya Riko.
"Ya, tapi ngga ada yang cocok." jawab Luna.
"Tapi setiap outlet semua baju-baju dan kaos bagus-bagus kok. Kenapa tidak ada yang menarik?" tanya Riko.
"Heheh, semuanya mahal pak Riko. Sayang kalau beli kaos mahal, kan bisa beli yang murah dapat yang banyak." kata Luna dengan tertawa kecil.
"Tidak apa, tuan Wira sudah memberikan uang banyak. Jadi nona bisa nau mengambil yang mana saja, jangan lihat harganya nona." kata Riko dengan tersenyum.
"Emm, memang tidak apa-apa?" tanya Luna.
"Tidak apa-apa. Ayo mau beli yang mana?"
"Baiklah, aku pikir uang hasil parkiran di hotel yang di pakai. Hahah!"
Luna melangkah lagi ke outlet pertama dia masuki, karena di outlet pertama banyak kaos dan celana jeans. Dia terus berjalan dan mencari apa yang tadi dia lihat. Tak sengaja dia melihat seorang perempuan dan laki-laki sedang bicara dengan mesra dan manja.
Luna penasaran, dia mendekat ke arah sumber suara dengan pelan. Terlihat laki-laki sedang menggandeng perempuan sesekali si laki-laki mencium pipi perempuan. Dan Luna mengerutkan dahinya, dia ingat perempuan itu. Lalu tersenyum sinis, dia pun ingin mendekat dan memergoki perempuan itu. Tapi di cegah oleh Riko.
"Nona mau apa?" tanya Riko berbisik.
"Mua memergoki perempuan itu. Cuih! Leon bodoh selalu saja percaya kalau pacarnya setia." ucap Luna menatap sinis kedua pasangan yang sepertinya semakin mesra dan tangannya sudah bergerak kemana-mana di tubuh perempuan itu.
"Gunakan ponsel saja nona, rekam mereka untuk bukti dan di berikan pada tuan Leon." kata Riko lagi.
"Tapi ponselku tidak aku bawa pak Riko." ucap Luna.
"Punya saya saja, nona saja yang mengikuti. Jika saya yang ikuti, dia akan mengenali saya." kata Riko memberikan ponselnya pada Luna sudah keadaan siap merekam.
"Baik, ide yang bagus pak Riko." ucap Luna mengambil ponsel Riko.
Dia lalu mengikuti kemana kedua pasang yang sedang bermesraan. Seperti seorang detektif dan mata-mata, dengan hati-hati Luna terus mengikuti mereka dan merekamnya.
"Gue sebenarnya bisa saja maju ke depan dan melabrak dia, tapi mungkin benar juga harus di rekam seperti ini. Uuh, gue jadi ingat teman SMA gue yang kepergok nyolong nilai ujian sekolah di kantor sekolah." gumam Luna.
Luna merekam semua pembicaraan dan kegiatan apa saja yang di lakukan oleh kedua orang itu. Hingga keluar dari outlet yang memang besar dan banyak barang yang di pajang. Setelah selesai, Luna kembali ke tempat semula. Mencari Riko berada.
_
__ADS_1
_