Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
68. Menjenguk Kwartet


__ADS_3

Dewi dan Riki sangat sibuk sekali di toko. Dia belum sempat menjenguk anak Luna, kwartet yang biasa di sebut oleh Luna. Dia senang sudah mempunyai keponakan dari anaknya Luna.


"Wi, lo kapan mau nengokin Kwartet?" tanya Riki.


"Iya nih, bingung. Mana toko lagi rame banget, kapan dong kesana? Gue juga pengen ketemu kwartet." kata Dewi.


"Ya udah, sore ini. Kita tutup cepat, si Boby di ajak juga barangkali dia mau ikut." kata Riki.


"Oke deh. Sebentar lagi ya." kata Dewi.


"Iya, nanti gue ingatin sama pengunjung untuk segera menyelesaikan semuanya agar mereka cepat mengambil pilihan bajunya." ucap Riki.


Dewi masih berada di mesin kasir, di bantu oleh satu teman lainnha yang merapikan baju-baju dan memasukkannya ke dalam kantong. Riki membuat pengumuman untuk para pengunjung agar setelah selesai segera keluar karena toko mau tutup.


Tak lama, mereka pun segera menutup toko. Boby juga sudah bersiap untuk ikut menjenguk anak Luna. Betapa menggemaskannya keempat anak Luna itu pikirnya.


"Pasti lucu ya anak-anak Luna." kata Boby.


"Ya, gue belum pernah jenguk." kata Dewi.


"Ya udah, ayo kita berangkat. Udah sore, nanti pulang bisa malam." kata Riki.


Riki menaiki motornya, di belakang Dewi berboncengan. Sedangkan Boby naik motor bututnya, mereka melajukan motornya menuju rumah Leon yang memang agak jauh dari tempat toko mereka bekerja.


_


Sampai di rumah besar itu, terlihat sepi. Namun setelah memasuki rumah, terdengar suara tangisan bayi saling bersahutan. Mungkin mereka sedang di mandikan di bawah, karena kamar Luna dan Leon itu ada di atas.


Bi Dori lewat, dia melihat teman-teman Luna pun mengajak mereka masuk ke dalam.


"Eh, kalian mau menengok kwartet?" tanya bi Dori.


"Iya bi. Sedang apa ya kwartet?" tanya Dewi.


"Sedang mandi, tapi ada yang sudah rapi kok. Ada di samping rumah. Mereka di mandikan oleh baby sitternya." kata bi Dori.


"Ya udah, ayo kita ke samping rumah aja." kata Dewi.


Mereka menuju samping rumah menemui kwartet yang sedang di mandikan oleh baby sitternya. Dengan tidak sabar, Dewi langsung berlari mendekat pada Luna yang sedang memakaikan baju pada salah satu bayinya.


"Luna!" teriak Dewi.


"Apa sih lo?!" kata Luna kaget dengan teriakan sahabatnya itu.


"Ish! Lo lagi dandani kwartet ya?" tanya Dewi.


"Kagak, nih lagi pakaikan baju Cantika." jawab Luna.


"Iih, lucu banget ya. Yang ini cewek kan ya?" tanya Dewi menjawil pipi bayi yang mulai tembem.

__ADS_1


Plak!


Tangan Dewi di pukul oleh Luna, dia tertawa kecil karena gemas melihat bayi lucu itu.


"Ini, Azka udah selesai nona." kata baby sitter yang sudah mendadani anak pertama Luna.


"Sini aku yang gendong." kata Dewi.


Baby sitter itu pun menggendong bayi Azka. Dia menimangnya dengan lincah dan tanpa takut. Dewi sudah terbiasa menggendong bayi karena dua adiknya yang dulu bayi juga di urus olehnya. Jadi dia tidak canggung lagi menggendong bayi yang baru berusia dua minggu itu.


Dia berjalan- jalan menimang lalu menciumi pipi Azka pelan. Bau harum ciri khas bayi menghirup di hidung Dewi.


"Hemm, harum banget kalau bau bayi itu ya. Kamu sangat tampan banget sih, Azka. Cup." ucap Dewi.


Dia tidak tahu hal itu di perhatikan oleh Riko yang baru tiba. Dia berdiri di dalam rumah kakek Wira, menenteng tas besar. Rencananya dia akan meminta tanda tangan Leon, tapi dia melihat pemandangan yang menurutnya menyenangkan.


"Dia sudah lihai juga menggendong bayi. Padahal belum menikah, apa lagi punya anak." gumam Riko tanpa sadar.


Riko berjalan keluar samping rumah, dia meletakkan tas besar di meja makan yang kebetulan dekat dengan pintu samping rumah. Dia mendekat pada Dewi, sedang menenangkan Azka karena nangis di cium pipinya dengan keras.


"Cup cup sayang, maaf ya. Onty terlalu keras ya ciumnya. Uuh cayang cayang, Azka diam ya. Cup cup cup." kata Dewi.


"Kalau mau cium keras-keras sama suamimu aja." kata Riko.


Dewi menoleh, dia menatap Riko yang juga menatapnya sambil tersenyum.


"Aku ngga punya suami." kata Dewi.


"Kemana? Ke tong sampah?" tanya Dewi dengan gurauannya.


"Ish! Mana ada suami di tong sampah. Ada di perkantoran." kata Riko lagi.


"Contohnya di perkantoran itu gimana?"


"Emm, seperti aku misalnya."


"Apa? Hahah, gombal juga pak Riko ini. Boleh aja di pesan satu." kata Dewi dengan tawanya.


Riko diam, dia lalu tersenyum. Agak aneh dia menanggapi candaan Dewi yang seperti itu. Dia pun mendekat, melihat bayi mungil yang di gendong oleh Dewi.


"Kamu udah pantas nimang bayi. Kok ngga canggung?" tanya Riko.


"Aku udah biasa pegang bayi pak Riko. Dua adikku, aku yang urus dari brojol sampe besar." kata Dewi.


"Oh ya? Jadi kamu gadis penyayang ya. Tapi sayang, suka genit sama bos-bos gendut." kata Riko memancing kekesalan Dewi.


"Siapa yang genit? Kan bos gendut itu aja yang kegatelan. Mana ada genit sama bos-bos gendut, dan punya istri dua itu. Pak Riko mancing-mancing bikin aku marah nih!" kata Dewi menatap tajam pada Riko.


"Maaf, aku hanya bercanda." kata Riko.

__ADS_1


Dewi menuju tempat Luna memandikan kwartet, dia meninggalkan Riko dengan kesal. Riko merasa bersalah pada gadis itu, lalu dia pun masuk lagi ke dalam rumah. Melanjutkan rencananya meminta tanda tangaj pada Leon di ruang kerjanya.


Tok tok tok


"Masuk!"


Riko menekan daun pintu dan melebarkannya hingga dia masuk ke dalam membawa tas besar tadi berisi berkas-berkas. Dia duduk di sofa, terlihat Leon sedang mencari buku bacaan. Dia menoleh lalu ikut duduk dengan Riko, melihat laki-laki itu sedang membuka tas besar dan mengambil berkasnya.


"Tanda tangani berkasnya tuan. Banyak sekali berkas yang masuk, maklum akhir bulan. Mereka membuat laporan dengan cepat." kata Riko.


"Itu bagus. Aku bisa memeriksanya nanti, setelah di tanda tangani." kata Leon.


Dia mengambil pena untuk tanda tangan berkas di meja itu. Riko memperhatikan apa yang di lakukan oleh Leon itu. Setelah selesai, mereka pun mengobrol masalah pekerjaan di kantor.


"Kamu makan di sini aja, biar ramai. Aku dengar tadi teman-teman Luna menengok kwartet di samping rumah." kata Leon.


"Iya. Oh ya, tuan Wira kemana?" tanya Riko.


"Pergi ke Malaysia. Mengunjungi perusahaan di sana." jawab Leon.


"Jadi tuan hanya berdua dengan nona Luna?" tanya Riko.


"Lha, memang kenapa? Ada baby sitter juga yang urus kwartet." kata Leon.


"Emm, tuan berapa hari puasa?" tanya Riko.


"Puasa apa? Kuda-kudaan?"


"Ya, sejenis itu."


"Aah, Luna maunya dua bulan. Kesal sih, tapi dia bisa membuatku puas dengan cara lain. Heheh." kata Leon penuh kesenangan.


"Dengan cara lain? Bagaimana?" tanya Riko.


"Ish! Kamu nikah dulu, mana bisa aku jelasin saka kamu." kata Leon.


"Kita sudah sama-sama dewasa bos."


"Kamu mau praktek sama siapa? Nanti pengen lagi, aku aja waktu baru pertama kuda-kudaan lihat tutorial dulu di film." kata Leon.


Riko diam, dia tahu yang di maksud film oleh Leon itu film blue. Dia tidak pernah memikirkan itu, dia hanya ingin mencari gadis yang bisa menarik perhatiannya. Dan saat tadi dia melihat Dewi begitu menarik perhatiannya.


Apa dia suka Dewi?


Tapi kenapa dia tadi malah menyindir Dewi dengan kata genit menggoda bos gendut. Haish, dia harus benar-benar minta maaf pada gadis itu. Pikir Riko.


_


_

__ADS_1



__ADS_2