
"Jadi, kapan baiknya menikah?" tanya bapaknya Dewi pada Riko.
"Terserah pak, tapi saya ingin secepatnya menikahi Dewi." jawab Riko.
"Ya sudah, satu bulan lagi aja. Bapak tidak masalah kok." kata bapaknya Dewi lagi.
"Waah, itu jauh pak. Bagaimana minggu depan aja?" kata ibu Riko dengan tidak sabar.
"Kenapa harus minggu depan?"
"Ya, biar mereka cepat menikah dan saya cepat punya cucu. Heheh." kata ibu Juminah lagi dengan senangnya.
Membuat Riko tersenyum, Dewi tersenyum malu dan menunduk.
"Ya, ya. Bisa juga, seperti dulu Luna kan satu minggu setelah lamaran. Tapi kalau untuk acara mendadak seperti itu tidak mungkin ada gedung pernikahan di sewa mendadak. Kan itu mendadak namanya." kata bapak Dewi lagi.
"Tanyakan dulu sama nak Rikonya, bagaimana baiknya. Kan dia yang akan menjalaninya, saya takutnya nanti teman-teman nak Riko yang dari perusahaan akan kecewa kalau acaranya cuma di sini saja dan sederhana sekali. Mungkin nak Riko ingin di gedung mewah barangkali." kata bapak Dewi.
"Bagaimana Riko?" tanya ibu Juminah.
"Saya terserah saja, di sini juga tidak masalah. Karena menikah bukan tentang kemewahan, tapi lebih dari acara syukuran karena telah menyatukan kedua orang berbeda jenis dan beda pikiran." kata Riko dengan bijaknya.
"Hemm, benar sekali. Kita bersyukur karena anak kita bisa dapat jodoh. Baiklah kalau itu menurut nak Riko seperti itu, bapak akan menyiapkan semuanya dengan baik dalam satu minggu ini. Yang penting kalian cepat menyatu dalam ikatan cinta kan. Kamu bagaimana Dewi dengan acara sederhana seperti itu?" tanya bapak Dewi pada anaknya.
"Ya, terserah bang Riko aja pak. Dewi menurut aja." jawab Dewi.
"Baguslah, jadi semuanya lancar dan sepakat. Minggu depann akan di adakan akad nikah dan juga resepsi di rumah bapak." kata bapak Dewi.
Mereka pun akhirnya sepakat minggu depan. Meski mepet waktunya, tapi tidak mengapa. Riko sendiri senang kalau pernikahannya di percepat jadi minggu depan. Karena dia mengatakan pada Leon minggu depan dia ambil cuti lagi.
Semua serba cepat, menghubungi tukang dekor dan juga berbelanja kebutuhan resepsi. Mulai dari memberitahu ustad di gang kampung itu, meminta pada semua tetangga untuk membantu pesta pernikahan sederhana. Juga menghubungi tukang rias dan tukang dekor.
Baru setelah itu membelanjakan uang yang di berikan oleh Riko untuk kebutuhan resepsi. Dewi juga sudah tidak ke toko Luna lagi, dan kali ini Luna yang datang ke toko. Dia mencoba mengatur dan menjaga tokonya di bantu oleh Riki.
Dia akan menghubungi Dewi jika ada yang tidak mengerti tentang pembelian barang atau cara menentukan harga barang untuk di jual lagi.
Dewi juga sering sekali memantau semua kesiapan tukang dekor dan juga make upnya nanti. Dan sekarang sudah waktunya hari pernikahannya.
Pagi-pagi Dewi sudah mulai di dandani, karena acara akad nikah pukul sepuluh pagi di masjid di mana dulu Luna menikah. Luna menutup tokonya selama dua hari, untuk dia lebih bebas menginap di rumah bapaknya dengan keempat anaknya.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Leon pada istrinya yang sedang berdandan.
__ADS_1
"Sebentar lagi." jawab Luna.
Leon mendekat, memperhatikan apa yang di lakukan oleh istrinya. Lalu memeluknya dari belakang dan mencium pipinya, merasa gemas karena sekarang Luna sudah pandai berdandan.
"Ish! Jangan cium-cium nanti rusak dandananku." kata Luna menjauh wajahnya agar Leon tidak merusak dandanannya.
Tapi Leon malah terus mendusel wajahnya untuk terus mencium pipi lalu lari ke bibirnya. Dan akhirnya pun Luna pasrah, dia meladeni cumbuan suaminya. Baru setelah puas, Leon pun berhenti dan tersenyum.
Wajah Luna sudah berantakan, dia pun keluar dari kamarnya. Mengelap wajah dan bibirnya karena lipstik menempel. Luna menatap kesal pada suaminya, kemudian dia mengulang lagi memakai bedak dan lipstik.
_
Riko sudah siap duduk di tempat meja untuk mengucapkan ijab kabul. Hatinya sudah gelisah bukan main, di belakangnya ada Leon, ibunya juga kakek Wira. Sesudah melamar Dewi, Riko langsung menghubungi kakek Wira. Memberitahu pada laki-laki tua yang dulu adalah bosnya. Kakek Wira berjanji akan datang dan jadi saksi ketika dia menikah.
Wajah tegangnya sangat terlihat, selalu menoleh ke belakang. Karena penghulu belum datang, lagi-lagi melihat jam di pergelangan tangannya. Masih jam sembilan tiga puluh, kanapa penghulu belum juga datang.
"Riko, kamu tegang ya?" bisik Leon di belakangnya.
"Tentu saja, apa tuan dulu tidak tegang ketika mau mengucapkan ijab kabul?" tanya Riko.
"Gugup dan tegang, tapi ngga tampak jelas sepertimu." jawab Leon.
Tak berapa lama, penghulu datang. Riko tampak senang tapi masih terlihat tegang. Di susul Dewi ikut masuk, namun tidak berada di depan penghulu bersama Riko. Di sebalah tirai yang tertutup tapi tidak jauh dari tempat untuk ijab kabul.
"Tidak apa-apa pak penghulu." kata Riko tersenyum.
"Gugup ya?"
"Heheh, iya."
"Ya sudah, kita mulai saja. Pak ustad juga sepertinya sudah siap." kata penghulu.
Kini ustad pun berceramah tentang pernikahan sebentar. Semua nampak mendengarkan dengan khusyuk, apa lagi Riko. Sepuluh menit kemudian penghulu mengambil alih pengucapan ijab kabul pada Riko.
"Saudara Riko Santoso, anda siap untuk jadi suami yang baik?"
"Siap pak penghulu."
Siap menjaga dan melindungi istrinya nanti?"
"Siap pak penghulu."
__ADS_1
"Mari kita mulai."
Suasana hening sesaat, pengucapan ijab kabul akan segera di mulai. Tangan Riko di jabat oleh penghulu dengan erat. Wajah dan mata Riko sudah siap sejak tadi serta bersiap untuk mendengarkan ucapan penghulu, dan dia harus menjawabnya dengan cepat.
Di samping penghulu sejak tadi bapaknya Dewi untuk menjabat tangan Riko, mengucapkan ijab kabul.
"Riko Santoso, saya nikahkan dan saya kawinkan anak saya bernama Dewi Lestari dan engkau dengan mas kawin seperangkat alat sholat serta emas dua puluh lima gram tersebut di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Lestari binti bapak Dawud dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
Ucapan lantang pengucapab ijab kabul telah selesai dan lancar. Lalu mengucapkan puji syukur karena semua berjalan lancar. Pak ustad pun kembali mengucapkan nasehat pernikahan beberapa menit. Baru setelah itu, Dewi pun keluar dari persembunyiannya.
Dia di dampingi ibunya mendekat pada Riko, lalu menyalaminya dengan takzim. Kini Riko dan Dewi sudah resmi menjadi suami istri. Mereka duduk berdua di depan untuk menanda tangani surat nikah dari pejabat KUA.
Setelah selesai, mereka pun sungkeman dengan kedua orang tua masing-masing. Lalu keduanya pun di bawa ke tempat resepsi di rumah Dewi. Para tamu undangan sudah menunggu di depan masjid untuk mengantar sang pengantin yang akan di arak menuju rumah mempelai istri.
"Terima kasih bang Riko." bisik Dewi ketika mereka berjalan menuju rumahnya.
"Iya, aku juga terima kasih sama kamu. Kita sudah jadi suami istri. Kata tuan Leon rasanya slime itu sangat kenyal dan enak untuk di mainkan." kata Riko dengan tersenyum.
"Slime? Mainan anak-anak?" tanya Dewi heran.
"Bukan, nanti akan jadi mainanku." jawab Riko lagi.
Dia baru mengetahui apa itu slime yang di maksud Leon. Ternyata buah dada perempuan, sangat lucu. Itu istilah dari Luna, jadi dia akan gunakan itu nanti.
"Kamu kenapa senyum-senyum?"
"Hemm, karena sebentar lagi aku akan menikmati mainan slime yang kenyal." jawab Riko lagi.
"Apa sih, ngga jelas. Slime terus yang di bahas."
"Hahah!"
_
_
__ADS_1