Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
75. Dewi Merajuk


__ADS_3

Selama ada di rumah ibunya Riko, Dewi seakan jadi gadis yang baik. Dia mengobrol dengan ibunya Riko dengan lancar, terkadang bercanda. Riko memperhatikan kedua perempuan yang asyik mengobrol.


Dia merasa Dewi berbeda dengan gadis-gadis yang di kenalkan oleh ibunya. Dan berbeda dari yang dia kenal, ada daya tarik buat Riko melihat Dewi. Setiap kali Dewi bicara, Riko menatapnya lama. Hingga Dewi risih dan dia menatap balik pada laki-laki itu.


"Oh ya nak Dewi, apa kamu sekolah tinggi?" tanya ibu Juminah.


"Ngga bu, saya lulus SMA aja kok." jawab Dewi.


"Waah, memang kalau perempuan ngga usah sekolah tinggi-tinggi. Tetap aja ujung-ujungnya kalau sudah jadi istri kerjanya mengurus suami, anak dan juga rumah." kata ibu Juminah.


Riko yang sejak tadi mendengar percakapan mereka pun menyela.


"Ya ngga begitu juga bu. Perempuan itu juga berhak sekolah tinggi, keadaan dia jadi istri tidak menghalangi untuk mendapatkan pendidikan tinggi kok." kata Riko.


"Ya, tetap saja Riko, yang di urus suaminya juga anaknya." jawab ibunya.


"Saya tidak berniat sekolah lagi bu, di samping keluarga saya biasa saja dan tidak punya biaya untuk kuliah saya. Mending saya kerja untuk membantu biaya sekolah dua adik saya." kata Dewi.


"Ooh, jadi kamu masih punya adik?" tanya ibu Juminah.


"Iya, dua adik saya masih dua dan masih sekolah." jawab Dewi.


"Terus, kalau kamu menikah dengan Riko. Bagaimana adikmu?" tanya ibu Juminah membuat Dewi diam.


Bukan ke arah situ pembicaraannya, siapa juga yang mau menikah dengan anaknya. Anaknya saja masih santai dengan pernikahan. Lagi pula, dia dan Riko hanya berpura-pura saja kan. Kenapa jadi seperti itu?


"Dewi tetap bekerja bu, meski nanti sudah menikah." kata Riko yang tahu kebingungan Dewi.


"Lho, nanti yang mengurus rumah kamu siapa?" tanya ibunya.


"Ya kan bisa mengambil pembantu bu." jawab Riko lagi.


Pembicaraan ambigu bagi Dewi. Dia memperhatikan sepertinya Riko memang ingin menikah, tapi tidak menyebut menikah dengannya. Apakah kebohongan itu akan terus berlanjut?


"Kalau pembantu nanti bayar lagi. Kan enak istri sendiri yang menurusnya, lebih ringan dan juga tidak perlu biaya gaji pembantu." kata ibu Juminah.


"Ibu mau cari menantu seperti apa? Cari pembantu apa menantu?" kali ini Riko kesal.


"Ya ngga begitu. Coba saja tanya Dewi, apa dia mau rumahnya di urus sama pembantu? Menurut ibu sih lebih baik di urus sendiri rumah itu, dari pada sama pembantu." kata ibu Juminah lagi.


"Dan Riko juga ngga mau istri Riko nanti akan di jadikan pembantu bu." kata Riko.


"Bukan jadi pembantu, Riko. Sudah jangan ngeyel kamu, ibu tanya saja sama Dewi langsung." kata ibunya kesal dengan pendapat anaknya itu.


Riko mendengus kesal, dia menatap Dewi yang hanya diam saja mendengar perdebatan dirinya dan ibunya itu.


"Dewi, kamu mau ambil pembantu kalau sudah menikah dengan Riko? Ibu pikir lebih baik mengurus sendiri rumah kalian kan nantinya?" tanya ibu Juminah.

__ADS_1


"Memang saya mau menikah dengan bang Riko?"


Pertanyaan Dewi membuat ibu dan anak itu diam, heran dengan pertanyaan Dewi. Dan Riko menyadari dengan pertanyaan Dewi tersebut.


"Tentu saja, aku akan menikahimu. Secepatnya." jawab Riko cepat.


Membuat Dewi terpaku, dia menatap Riko lalu menatap ibu Juminah. Apakah yang di katakan Riko itu benar? Apa hanya pura-pura saja. Kalau pura-pura sampai menikah juga, Dewi tidak mau.


"Bang Riko, kita ini kan cuma ..."


"Tidak Dewi, aku sungguh-sungguh." jawab Riko tegas.


Dia menatap Dewi, ada perasaan aneh dalam hatinya. Makanya dia mengatakan seperti itu, Dewi menunduk di tatap Riko seperti itu. Lalu tersenyum.


"Jadi, gimana. Kamu mau mengurus rumah sendiri kan nantinya?" tanya ibu Juminah lagi.


"Kalau untuk menghemat sih, ya mending mengurus sendiri bu. Buat apa cari pembantu, kalau kita juga bisa mengerjakannya sendiri." jawab Dewi.


"Tapi kan kamu kerja nantinya. Atau kamu nanti ngga usah kerja gitu?" tanya Riko.


"Mengurus rumah kan bisa dari pagi sebelum berangkat kerja, Riko. Ibu setuju kalau Dewi kerja, tapi nanti setelah punya anak ya harus berhenti kerjanya." kata ibu Juminah.


Lagi, Dewi bingung dengan perdebatan anak dan ibu itu. Serasa dia sedang bicara pada keluarganya, rasanya itu aneh sekali jika yang di bahas masalah rumah tangga yang entah benar atau tidak akan terjadi padanya dan Riko.


Mengingat ucapan Riko sungguh-sungguh menikah dengannya, akan dia tanyakan lagi. Apakah itu hanya pura-pura atau memang benar-benar akan di lakukan.


_


Dalam perjalanan, mereka masih diam. Tidak ada pembicaraan, hingga Dewi merasa tidak sabar ingin bertanya masalah perdebatan kemarin malam itu.


"Pak Riko, aku mau tanya masalah tadi malam." kata Dewi.


"Kok berubah lagi panggilnya." kata Riko.


"Kan sudah tidak di rumah ibu pak Riko." kata Dewi.


"Tapi aku suka di panggil seperti di rumah ibu." jawab Riko tanpa menoleh ke arah Dewi.


"Tapi kan waktu di sana cuma pura-pura." kata Dewi lagi.


"Kata siapa?"


"Eh, apa itu beneran?"


"Ya."


"Tapi kan awalnya bohong pak."

__ADS_1


"Memang tidak boleh bohong jadi beneran?" tanya Riko.


Kali ini dia menatap Dewi dalam, membuat Dewi salah tingkah. Dia menatap ke depan, ada getar halus di dadanya. Riko tersenyum senang.


"Kamu mau tanya apa tadi?" tanya Riko.


"Emm, apa ya? Kok lupa sih." kata Dewi.


"Hahah! Kamu ada- ada saja. Nanti kalau ingat kamu boleh tanyakan lagi sama aku." kata Riko.


Dia tahu pertanyaan Dewi itu, tapi sepertinya Dewi sedang nervous menghadapinya karena ucapannya tadi. Dia memang berniat sungguh-sungguh pada gadis itu. Sejak dia memperhatikan gadis itu mengobrol dengan ibunya, hatinya menegaskan kalau dia akan menikahi Dewi selanjutnya.


Meski dia belum mengatakan cinta, dia sedang mendalami hatinya apakah benar-benar mencintai gadis itu. Tapi dalam benaknya, dia menginginkan Dewi jadi istrinya kelak.


"Oh ya, sekarang aku ingat." kata Dewi sadar dengan keadaannya sekarang.


"Apa?" tanya Riko.


"Emm, apakah memang benar bang Riko mau menikahiku secepatnya? Bukankah kita hanya pura-pura saja." kata Dewi.


"Siapa yang pura-pura? Kan aku sudah bilang, aku sungguh-sungguh mengatakannya." kata Riko lagi.


"Tapi, kan kalau menikah itu harus ada cinta bang." kata Dewi.


"Jadi?"


"Jadi, kita menkah harus ada cinta dulu." jawab Dewi lagi malu-malu.


"Terus?"


"Ish! Kenapa begitu terus sih." ucap Dewi kesal.


"Hahah, apakah aku harus mengucakan cinta sama kamu lalu kita menikah." tanya Riko lagi.


"Ngga usah!" ucap Dewi ketus.


Tangannya bersedekap, dia kesal sekali pada Riko. Riko tersenyum melihat Dewi sepertinya kesal padanya.


Mobil sampai di depan toko De'Luna Colection. Dewi pun segera turun, karena kesal pada Riko. Tapi tangannya di cegah oleh Riko. Dia pun menoleh dengan menatap tajam penuh kekesalan.


"Lepas!"


"Aku cinta kamu."


_


_

__ADS_1



__ADS_2