
Setelah kedatangannya ke rumah Luna secara mendadak itu, kakek Wira memberitahu pada Leon. Kalau hari Minggu besok dia dan kakeknya akan datang ke rumah Luna untuk melamarnya. Dan malam ini, kakek Wira bicara pada Leon. Karena kebetulan Leon sedang memeriksa berkas yang dia bawa ke rumah.
"Leon, kamu tidak lupa kan dengan janjimu?" tanya kakek Wira menghampiri Leon ke ruang kerjanya.
"Janji apa kek?" tanya Leon tanpa menoleh, masih sibuk dengan memeriksa berkasnya.
"Menikahi Luna." kata kakek Wira.
Leon berhenti memeriksa berkas di tangannya, dia menoleh ke arah kakeknya. Lalu menghela nafas panjang.
"Ya kek, aku tidak lupa." kata Leon, dia lalu meneruskan pekerjaannya.
"Kalau begitu, besok kamu dan kakek akan melamar dia di rumahnya." kata kakek Wira lagi.
"Apa? Melamar?"
"Ya, tentu saja kamu harus melamar Luna pada bapaknya. Kamu pikir mau menikah itu tidak melamar dulu, langsung saja menikah?" kata kakek Wira.
Leon memejamkan matanya, dia kesal sekali kenapa harus ada acara melamar segala. Kakek Wira memperhatikan cucunya yang terlihat kesal.
"Ingat Leon, ada istiasat harus di junjung tinggi. Kamu akan mengambil anak gadis orang, jadi kamu harus memintanya. Yaitu dengan melamarnya, memberikan hadiah pada orang tuanya dan juga anak gadis yang akan kamu lamar itu." kata kakek Wira.
"Kek, ini kan hanya sebuah kesepakatan aja. Kenapa harus resmi segala sih, melamar gadis preman itu? Gimana jadinya jika mereka besar kepala. Seorang gadis preman mau di lamar sama orang kaya. Hah!" ucap Leon mencibir.
"Leon! Jaga bicaramu. Mereka tidak seperti apa yang kamu pikirkan, bahkan bapaknya Luna sendiri belum berani menyetujui permintaan kakek kalau tidak kamu sendiri yang datang melamarnya." kata kakek Wira marah pada cucunya itu.
Leon diam, dia tidak percaya dengan ucapan kakeknya itu. Dan Leon pun kembali meneruskan pekerjaannya, tidak peduli kakeknya marah padanya. Baginya, itu hanya kesepakatan. Kenapa harus resmi melamar segala.
"Besok kamu harus siap melamar Luna, hadiah dan barang-barang lainnya untuk melamar Luna. Kakek yang siapkan, kakek hanya mau kamu itu tidak di butakan oleh cinta. Gadis yang kamu cintai tidak seperti bayanganmu, manis di depan. Tapi selalu memerasmu dengan cara menggodamu, bahkan di belakangmu saja kamu tidak peduli apa yang dia lakukan." kata kakeknya lagi.
"Kakek hanya melihat Sherly dari luarnya saja, coba kakek bertemu dengannya dan bicara padanya. Kakek pasti akan kagum dengan kelbutan hatinya kek." kata Leon membela kekasihnya itu.
__ADS_1
"Tidak bicara dengannya juga kakek sudah tahu gadis seperti apa dia itu. Mungkin sekarang kamu tutuo mata pada kelakuan busuknya tapi nanti kamu akan menyesal akhirnya. Dan ingat dengan ucapan kakek ini." kata kakek Wira lagi.
Leon diam lagi, dia tidak peduli dengan ucapan kakeknya yang selalu menyudutkan pacarnya. Meski dia kesal, tapi apalah daya. Dia harus menurut pada Sherly, jangan menentang kemauan kakeknya. Meski dia harus tersiksa menikah dengan Luna, gadis preman yang bukan pilihannya.
_
Dengan berbagai ancaman, akhirnya Leon mau juga melamar Luna. Kini dia bersiap untuk melamar gadis itu, kakeknya juga sudah siap. Asisten rumah tangga dan juga Roko, asistennya di kantor pun ikut juga. Keluarga kakek Wira ada di Malaysia, jadi ketikan nanti Leon menikah dengan Luna juga tidak dia undang.
Karena memang rencananya tidak akan mengadakan pesta besar. Itu permintaan Leon tadi pagi ketika kakeknya masih memaksa melamar Luna hari ini. Dan mau tidak mau dia harus menuruti permintaan kakeknya. Kini mereka sudah bersiap untuk melamar Luna, hanya membawa kepala asisten rumah tangga dan asisten kantor, yaitu Riko.
Sementara itu, di rumah Luna. Bapaknya Luna meminta bantuan ibunya Riki dan Dewi menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan rombongan kakek Wira.
Gaduh bukan main di gang Luna, pasalnya mereka terkejut kalau Luna ada yang melamar. Para tetangga biang gosip juga sepertinya siap di depan rumah Luna, dan sedang menanti siaran langsung lamaran Luna.
Ada yang tidak percaya, kok bisa Luna sang preman pasar di lamar oleh laki-laki kaya. Bahkan ada yang memggosipkan kalau Luna akan di lamar oleh aki-aki tua.
"Kenapa ya Luna kok mau di lamar sama aki-aki tua." kata tetangga biang gosip.
"Wajar saja, dia kan preman pasar. Pastilah dapatnya aki-aki tua yang sudah bangkotan. Hahah!" ucap salah satu tetangga lagi yang biang gosip.
Benar saja, ketiga perempuan yang bergosip itu mendapat tatapan tajam oleh bapaknya Luna. Dan dapat ancaman dari isyarat tangannya, dengan gerakan menggorok lehernya. Membuat ketiganya pun meringis lalu pergi dari sana.
Sedangkan Luna sedang di dandani oleh Dewi, teman kecilnya. Riki berdiri di pintu, melihat Luna sedang di dandani oleh Dewi.
"Lun, lo kok udah mau nikah aja sih? Siapa nanti yang akan ngejar-ngejar gue lagi? Yang jagain gue dari kejaran si Baron." kata Riki dengan wajah sedihnya.
"Ish, lo cowok Riki. Banci lo kalau ngga ngadepin si Baron." kata Dewi.
"Diem lo! Gue ngga rela aja Luna nikah duluan." kata Riki.
"Lo pikir gue juga rela Luna nikah duluan?! Kagak!" ucap Dewi.
__ADS_1
Luna yang jadi bahan pembicaraan kedua teman masa kecilnya itu diam saja. Dewi mulai kesal sampai dia mendandi Luna seperti nyai ronggeng. Membuat Luna pun kesal karena tangan Dewi menekan spoon bedak dengan keras di pipinya.
"Stop Dewi! Lo mau bunuh gue?!" kata Luna.
"Kagak Lun, lo sensi banget sih. Gue bantuin lo ini." kata Dewi melihat wajah Luna jadi tidak karuan karena make upnya.
"Lun, lo kayak nyai ronggeng." kata Riki.
"Apa sih lo?!"
"Tuh, lihat di kaca. Lo ngaca sana, si Dewi mau buat lo kayak nenek lampir tuh make upnya." kata Riki.
Luna pun bangkit dari duduknya, dia menuju kaca yang menempel di tembok. Dia ingin melihat wajahnya yang di make up Dewi dengan kesal dan iri padanya. Luna kaget dengan penampilannya, Dewi memberikan blush on dengan lipstik merah cabe, dan bibirnya juga seperti bibir habis di pukuli. Alisnya tebal dan bedaknya tidak beraturan.
Luna berbalik, dia menatap tajam pada Dewi. Serasa ingin menerkam, Luna pun melangkah cepat ke arah Dewi dan mencekik leher Dewi.
"Lunaa! Ampun Lun, gue ngga sadar. Lo sih mau nikah ngga bilang-bilang sama gue!" ucap Dewi berusaha melepas cekikan tangan Luna yang tidak kencang itu.
"Beresin ngga?!"
"Iya, gue beresin. Lo lepas dulu tangannya."
"Udah sih, Lun. Gitu juga udah bagus, nanti calon suami lo juga tetap suka sama lo kok." kata Riki menimpali.
"Teman laknat kalian semua! Cepat beresin dandanan gue!"
"Iya."
Dewi pun mengambil peralatan make up untuk menghapus make up yang dia buat di wajah Luna. Dengan tatapan tajam, Luna masih saja kesal pada sahabatnya itu.
_
__ADS_1
_