
Sampai di rumah ibunya, Riko tidak menemui ibunya di rumah. Bahkan pintu rumah tidak di kunci, dan sedikit terbuka. Riko melihat sekeliling halaman rumah, barangkali ibunya sedang ke rumah tetangga dan biasanya menggosip dengan tentangganya.
"Ibu ceroboh banget sih, ninggalin rumah tidak di tutup dulu dan di kunci. Kemana ibu pergi?" tanya Riko.
Dia keluar dari halaman rumah, menutup pintu lebih dulu dan keluar dari halaman rumah ibunya dan mencari kerumah tetangga di depannya.
"Permisi, apa ada ibu saya?" tanya Riko.
Seorang laki-laki tua keluar, dia melihat Riko dengab memicing.
"Kamu anaknya Juminah?" tanya laki-laki tua itu.
"Iya pak, bapak tahu di mana ibu saya?" tanya Riko.
"Tadi sih bapak lihat pergi ke rumah Raisah, tidak tahu tuh mau apa." kata bapak laki-laki itu.
"Ooh, terima kasih pak. Kalau begitu saya menyusul ibu dulu ke rumah ibu Raisah." kata Riko.
"Oh ya."
Riko pun melangkah lagi menuju rumah ibu Raisah yang tidak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak sepuluh rumah saja. Namun, baru berjalan beberapa langkah dia melihat ibunya berjalan cepat menuju ke arahnya. Riko berhenti, menunggu ibunya mendekat.
"Riko, kamu sudah datang." kata ibu Juminah.
"Iya bu, katanya sakit. Kok jalannya cepat banget, terus keluar rumah lagi." kata Riko melihat ibunya jalan sangat cepat.
"Lha, ibu memang sedang sakit." kata ibu Juminah.
"Sakit apa?" tanya Riko.
"Tangan ibu, kena pisau. Udah di kasih plester sih, jadi tidak banyak yang keluar darahnya." jawab ibu Juminah enteng sekali.
Membuat Riko kesal sekali, sewaktu menelepon kemarin terdengar di telepon sambil batuk-batuk dan seperti seorang kesakitan nafasnya.
"Jadi cuma tangan aja yang sakit karena kena pisau?" tanya Riko memastikan.
"Iya. Heheh."
"Ck, ibu itu. Bikin Riko khawatir aja." ujar Riko kesal.
Dia sudah berdebat dengan Leon di kantor, dan meminta cuti empat hari. Lalu, mau apa dia di rumah ibunya selama empat hari itu? Sedangkan ibunya baik-baik saja. Riko berdecak kesal, kenapa dia selalu tertipu dengan ucapan ibunya itu. Meski dia tahu apa yang akan di lakukan ibunya, selalu menyuruhnya untuk menikah.
"Riko, ibu tadi habis ke rumah Raisah. Dia kan punya anak gadis, jadi ibu pikir kamu kenalan aja dulu sama anaknya Raisah." kata ibu Riko.
__ADS_1
Mereka sudah ada di dalam rumah. Riko duduk di kursi tamu, rasanya dia ingin kembali lagi ke apartemen. Tapi dia tidak ingin di ledek oleh Leon karena ibunya selalu memjodohkannya dengan gadis pilihannya. Atau menyuruhnya segera menikah.
"Sudahlah bu, ibu seperti sedang menjajakan dagangan yang tidak laku saja." kata Riko dengan malas karena ibunya selalu menawarkan pada tetangga-tentangganya.
"Ibu hanya ingin kamu cepat menikah, ibu dengar anak bos kamu sudah menikah." kata ibunya.
"Iya, Leon sudah menikah dengan gadis biasa saja." kata Riko.
"Gadis biasa saja maksudnya gimana?" tanya ibunya.
"Dia gadis biasa, anak orang biasa. Bukan anak orang kaya, maksudnya bu." kata Riko lagi.
"Nah itu juga, orang kaya milihnya anak orang biasa. Kamu, mau milih calon istri seperti apa?" tanya ibunya lagi.
"Yang bisa buat aku nyaman bu. Kalau ngga nyaman dan hanya memikirkan hal yang banyak gadis inginkan, seperti sekarang. Banyak para gadis menginginkan hidup enak, punya ponsel mahal dan gaya hidupnya pengen seperti orang kaya, selalu pergi ke mall. Aku tidak suka gadis seperti itu, dan kebanyakan gadis yang ibu tawarkan semuanya seperti itu." kata Riko.
"Tapi anaknya Raisah itu tidak seperti apa yang kamu katakan. Dia kalem, anaknya juga cantik. Pokoknya dia idaman banget buat mantu ibu." kata ibu Juminah dengan bersemangat.
"Huh! Ya itu keinginan ibu. Bagaimana nanti kalau bukan istri idaman buatku? Hanya mantu idaman ibu saja?" kata Riko.
"Ngga mungkin, pasti idaman kamu juga. Lha, kan anaknya itu pendiam juga penurut. Kamu bisa kok ketemu dulu dan kenalan sama dia, baru nanti pendekatan sama dia. Namanya Indah, sesuai namanya cantik orangnya."
"Tapi belum tentu cantik hatinya bu." kata Riko bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya untuk istritahat.
"Riko, ibu sudah siapkan makan untuk kamu. Ayo makan dulu." kata ibu Juminah.
"Ya bu."
Riko pun keluar, dia sudah berganti pakaian dengan kaos oblong dan celana pendek. Dia pergi ke dapur untuk makan siang yang terlambat, tapi dia lapar. Ibunya ikut duduk di depannya mengambilkan nasi untuk anaknya itu.
"Ibu sudah menyuruh Indah datang kemari." kata ibu Juminah.
"Apa? Untuk apa bu?" tanya Riko.
"Ya kenalan sama kamu. Sebentar lagi dia datang kok sama ibunya." kata ibunya lagi.
"Ya ampun, ibu ini." kata Riko.
Dia menyantap nasi serta lauknya, perutnya memang terasa lapar. Dia fokus makan saja, tidak peduli ibunya bicara tentang Indah anaknya ibu Raisah. Ibu Juminah menatap anaknya yang makan dengan lahap, dia senang anaknya selalu lahap jika makan di rumahnya.
"Assalamu alaikum!"
"Wa alaikum salam!"
__ADS_1
Ucapan salam dari luar membuat ibu Juminah segera bangikt dan langsung menuju ruang tamu. Riko tetap santai makan meski dia kesal juga dengan ibunya. Tapi apa salahnya berkenalan dan mengenal?
"Riko! Sini nak!" teriak ibunya.
Riko segera menyudahi makannya lalu minum. Kemudian dia melangkah menuju ruang tamu. Dia ingin tahu seperti apa gadis bernama Indah itu. Ibu Juminah tersenyum anaknya kali ini tidak menolak, dia menyuruh Riko duduk di sebelahnya.
Riko pun duduk, ibu Raisah dan Indah tersenyum melihat Riko yang memang perawakannya tinggi dan juga ganteng. Sebenarnya, siapa yang tidak menolak dengan Riko. Tapi Riko yang tidak mau di jodohkan.
Kali ini dia akan menuruti ibunya dulu, jika memang gadis yang di tunjukkan ibunya baik dia akan mencobanya. Dan kali ini, gadis bernama Indah itu memang cantik. Kalem dan juga sepertinya baik, Riko menatap Indah datar saja.
Ibu Juminah tersenyum senang, Riko mau menemui Indah.
"Riko, ini lho namanya Indah. Anaknya ibu Raisah, cantik kan dia?" ucap ibu Juminah.
"Halo mas Riko, saya Indah." kata Indah dengan senyumnya, membuat ibunya dan ibu Riko tersenyum senang.
"Ya." jawab Riko.
"Nah, nanti kalian bisa saling kenal dan dekat ya. Ibu tidak memaksa, hanya saja kalian boleh saling mengenal dulu." kata ibu Riko.
"Iya, kalian boleh kenalan dulu. Indah mau kok di ajak jalan keluar." kata ibu Riasah tersenyum senang.
Riko hanya diam saja, tidak menanggapi. Tapi Indah rupanya lebih agresif lebih dulu.
"Indah boleh minta nomor ponselnya mas Riko ngga?" tanya Indah.
"Boleh aja." jawab ibunya Riko cepat.
"Kalau begitu, boleh tulis di ponsel Indah aja bu." kata Indah lagi.
Ibu Juminah mengambil ponsel yang di sodorkan Indah dan menuliskan nomor ponsel Riko. Riko hanya diam saja, dia malas menanggapi ibunya.
"Nah, sudah ya. Nanti kamu boleh telepon Riko kok." kata ibu Juminah.
"Bu."
"Iya bu, nanti Indah telepon mas Riko kok." kata Indah dengan semangatnya.
Riko tidak suka sikap Indah itu yang terlalu agresif. Namun, dia diam saja. Entah sejak melihat Indah sebenarnya dia sedikit tertarik, tapi sekarang kenapa jadi hilang semangat seperti itu setelah melihat Indah sebenarnya.
_
_
__ADS_1