
"Kena kau kancil kecil!" teriak laki-laki gendut yang ternyata adalah mantan bosnya Dewi.
Dia memegangi motor Dewi agar tidak bisa kabur lagi. Lalu menarik tangan Dewi dan memaksanya turum dari motornya.
"Lepaskan sialan! Mau apa kamu hah?!" teriak Dewi.
Sialnya keadaan jalanan sepi, jarang sekali kendaraan lewat. Jadi mantan bos Dewi itu lebih leluasa untuk menarik dan membawanya masuk ke dalam mobi avanzanya.
"Aku kesal sama kamu! Sekaligus penasaran gadis sepertimu yang berani menentangku dan menolakku. Kamu gadis tidak tahu diri!" umpat Jono, mantan bos Dewi.
"Eh, cowok gendut! Lo yang ngga tahu diri! Udah punya istri dua, tapi masih aja cari-cari gadis buat gundikmu! Cuih! Lo kira dengan uangmu dan tokomu bisa membeli harga diriku. Lepaskan!" teriak Dewi.
Tapi tenaga Jono meski gendut, dia sangat kuat. Dia terus menarik tangan Dewi. Dewi berontak dan memukul wajah Jono. Hingga Jono pun menampar pipir Dewi hingga merah.
Plak!
"Gadis sialan! Kamu harus ikut denganku, aku tidak sabar ingin tidur dengamu. Hahah!" kata Jono, mantan bos gendut Dewi.
"Enak aja lo, lo pikir gue pelacur! Lepaskan gue, brengsek!" teriak Dewi.
Dewi terus di tarik oleh bos Jono, meski susah karena Dewi bertahan dan menarik tangannya. Tapi Jono masih bisa membawa Dewi masuk oe dalam mobilnya. Sang supir pun membantu bosnya memasukkan Dewi ke dalam mobil avanza tersebut.
Dewi berusaha lepas, dia melakukan apa saja. Berteriak dan kini dia menggigit tangan Jono dengan keras.
"Aaaargh! Sialaan!"
Plak! Plak!
Dewi kembali di tampar pipinya oleh Jono sampai miring. Bibir Dewi berdarah, dia menatap tajam pada Jono. Kemudian dia kembali berusaha melepas dan turun dari dalam mobil avanza hitam itu.
"Ayo cepat jalan mobilnya, bego! Jangan diam saja!" teriak Jono pada supirnya itu.
__ADS_1
"Oh, iya bos."
Supir itu pun menjalankan mobilnya. Dewi masih memberontak, dia melihat mobil lewat seperti mobil yang dia kenal. Kepalanya dia keluarkan, meski itu berbahaya. Tapi dia harus melakukannya untuk minta tolong pada pengemudi mobil sedan hitam di samping mobil avanza Jonk.
"Tolong! Saya di culik! Siapa yang ada di mobil tolong saya!" teriak Dewi dengan kencang.
Jono yang tahu Dewi minta tolong pada kendaraan lewat itu pun menarik rambutnya agar kepalanya segera masuk. Membuat Dewi kesakitan dan kaki Dewi menendang bagian selaangkkangan Jono dengan keras.
"Aaargh! Kurang ajar kamu ya!"
Kini Jono menarik tangan Dewi agar diam, sang supir pun melihat itu jadi tidak tega. Dia melambatkan laju mobilnya, dan dari belakang mobil avanza itu di tabrakkan dengan kencang. Hingga terjadi benturan keras dan membuat penumpangnya kaget.
"Aauw!" teriak Dewi membentur kursi jok di depan.
Mau tidak mau mobil avanza pun berhenti, supir melihat pengemudi sedan hitam itu keluar dan membawa sesuatu dengan wajah marah. Dia memukul kaca jendela dengan benda berat seperti palu kecil.
Brak!
"Pak Riko!" teriak Dewi yang mengetahui yang menolongnya itu adalah Riko.
Dewi pun memberontak dan lagi-lagi menendang bagian paha Jono dengan keras, hingga mengenai benda pusakanya dan menjerit kesakitan.
"Aaauw! Sialaan!" teriak Jono.
Dewi pun keluar dan mendekat pada Riko. Riko masih menatap tajam pada Jono, bergantian dengan supirnya.
"Akan aku bawa kasus penculikan dan berniat pemerkosaan pada pihak polisi! Kamu akan aku pastikan masuk penjara, brengsek!" teriak Riko.
Dewi terpaku, dia terkejut dengan sikap Riko yang begitu marah pada Jono. Menculiknya dan mau di bawa untuk memperkosanya. Dewi benar-benar takjub, dia beruntung melihat mobil Riko lewat.
"Dia mau membawaku entah kemana, tapi dia berniat mau memperkosaku pak Riko. Hik hik hik." kata Dewi tiba-tiba menangis.
__ADS_1
"Heh! Perempuan murahan! Kamu pikir akan bisa memenjarakanku?! Silakan saja kamu lapor polisi! Saya tidak takut. Lagi pula, ini jalanan sepi dan tidak ada bukti apa pun di sini!" ucap Jono.
"Oh ya? Tunggu saja kamu!" ucap Riko.
Dia lalu pergi membawa Dewi yang masih terisak karena ketakutan dan gemetaran. Jika bukan aksinya keluar kepalanya dan mobil Riko tidak lewat, maka entah bagaimana jadinya dirinya itu.
Dewi tidak memyangka, mantan bosnya itu sangat terobsesi dengan dirinya. Menyesal tentu saja Dewi rasakan ketika ingat dia pernah menggoda dan genit pada bos gendut beristri dua itu.
"Apa yang kamu rasakan? Apa dia melakukan sesuatu sama kamu?" tanya Riko meneliti wajah Dewi.
"Dia menamarku tiga kali. Bibirku sobek dan keluar darah." kata Dewi.
"Kita ke dokter, lakukan visum untuk bukti atas penamparanmya itu sama kamu. Baru nanti di potret." kata Riko.
"Apa itu bisa jadi bukti?" tanya Dewi.
"Ya. Biar aku yang mengantarmu lapor ke polisi setelah ke dokrer." kata Riko.
"Baik. Terima kasih ya pak Riko." kata Dewi.
Mereka lalu pergi ke dokter, atau ke klinik untuk pemeriksaan dan melakukan visum pada wajah Dewi. Riko khawatir akan mental Dewi juga, apakah terguncang atau trauma dengan kejadian itu.
_
Mampir guys, bagus lho ceritanya...
_
__ADS_1