
Sampai di rumah kakek Wira, Riko membukakan pintu untuk Luna. Membuat gadis itu mengerutkan dahinya, merasa segan saja.
"Ngga usah di bukakan pintunya pak Riko, kayak ratu aja. Hahah!" kata Luna tertawa kecil.
"Sudah kewajiban dan pekerjaanku nona, anda sekarang jadi nona rumah ini juga. Sekarang kan nona itu cucu mantu tuan Wira." kata Riko.
Luna hanya diam saja, dia melihat rumah besar tersebut. Ragu untuk masuk lebih dalam, menghela nafas panjang.
"Ayo masuk nona." kata Riko.
"Jangan panggil nona, pak Riko. Saya jadi tidak enak, siapa saya ini." kata Luna.
"Tidak apa, di biasakan anda harus di panggil seperti itu oleh semua pelayan di rumah tuan Wira." kata Riko.
Deru mobil memasuki halaman rumah besar itu, Riko dan Luna menoleh ke arah mobil masuk halaman rumah. Mereka melihat Leon dan kakek Wira keluar dari dalam mobil. Dengan kesal Leon melangkah masuk ke dalam rumah.
"Tuan Leon, istri anda sudah saya temukan." kata Riko.
"Heh! Dia kemana saja?" tanya Leon memandang sinis pada Luna.
Luna mendengus kasar, dia tahu tatapan Leon itu adalah tatapan menyindir. Tapi Luna diam saja, dia masuk ke dalam rumah besar itu mengikuti kakek Wira.
"Di mana kamu menemukan Luna, Riko?" tanya kakek Wira ketika mereka duduk di ruang tamu.
"Di parkiran hotel tuan." jawab Riko.
"Di parkiran hotel? Sedang apa?" tanya kakek Wira heran.
Riko belum memjawab, dia melirik pada Leon. Kakek Wira menunggu jawaban Riko.
"Riko?"
"Sedang mengatur mobil tuan." jawab Riko.
"Apa?! Hahah!" ucapan Leon dengan teriakan keras dan tawa mengejek membuat kakek Wira menatapnya tajam.
"Diam kamu Leon!" ucap kakek Wira.
"Orang dari mana asalnya, tidak akan berubah jadi lebih baik. Dia akan kembali ke asalnya lagi, kek. Kakek ini, tentu saja dia akan mencari peluang besar jadi tukang parkir di hotel. Meskipun sebenarnya di hotel tidak ada tukang parkir. Kenapa bisa dia jadi tukang parkir, hahah!" ucap Leon dengan tawa mengejeknya.
__ADS_1
Kakek Wira menatap tajam pada cucunya, lalu menarik nafas panjang.
"Riko, carikan guru untuk mengajari Luna etika dan pergaulan. Apa itu namanya, biar dia bisa menjaga sikapnya di mana pun dia berada. Termasuk ke pasar atau jadi tukang parkir lagi." kata kakek Wira.
"Baik tuan." jawab Riko.
"Aku serahkan masalah Luna sama kamu, semuanya harus sudah bisa Luna pelajari. Kurasa kamu lebih bisa bicara lebih baik dari dia." kata kakek Wira.
"Baik tuan."
"Kamu juga bisa jadi supir pribadi Luna, jika dia ingin jalan-jalan. Nanti jika dia tidak bersikap baik pada Luna dan bicara lembut pada gadis itu , biar semua warisanku kamu yang kelola dengan Luna. Aku tidak peduli dia hidup miskin nantinya jika dia tidak mau menuruti apa kataku. Silakan saja dia menikahi gadis model itu, tapi dia tidak akan mendapatkan apa pun dariku." kata kakek Wira mengancam Leon lagi.
Leon mendengus kesal, kenapa kakeknya lebih sayang pada asistennya dari pada dirinya.
"Selalu itu saja yang di ancam kakek padaku. Buktikan saja ucapan kakek itu, aku tidak peduli dengan semua warisan kakek." kata Leon.
"Heh! Kamu pikir kakek hanya mengancam dan menggertak? Kakek serius, dan jika dalam dua bulan kamu tidak juga berubah dan masih menemui gadis model itu. Jangan harap ancaman kakek tidak berlaku." kata kakek Wira.
"Oke, aku akan bersikap baik pada Luna. Ini untuk kakek, agar kakek senang." kata Leon.
Dia lalu pergi meninggalkan kakeknya dan Riko dengan kesal. Dia kesal karena sedang menelepon Sherly di rebut ponselnya dan di banting. Dia tidak bisa memghubungi Sherly lagi. Leon masuk ke dalam kamarnya, dia membanting pintu dan menuju ranjangnya.
"Kakek benar-benar keterlaluan. Kenapa bisa membanting ponselku sampai rusak begitu." ucap Leon.
Dia tidak tahu jika Luna ada di kamar mandi sedang mandi. Sudah dua hari dia tidak mandi, jadi dia mandi sepuasnya di kamar mandi Leon dengan berendam di dalam bethup dan bermain busa sabun.
"Waah, senang banget jadi orang kaya. Mandi aja harus duduk dan bersantai, apa lagi banyak busa dan wangi lagi. Kalau begini sih, aku bisa putih mulus dan bersih. Boby pasti kaget denganku, tidak bisa mengenali Luna yang dekil. hihihi." kata Luna.
Tangannya memainkan busa di lempar ke atas berkali-kali. Sampai satu jam dia mandi, setelah merasa puas main busa sabun di bethup. Luna pun segera mengguyur tubuhnya. Dia bingung di mana mengambil air untuk mengguyur tubuhnya yang penuh busa sabun itu.
"Di mana gue harus cuci busa di badan ya." kata Luna, dia melihat sekeliling mencari di mana gayung dan bak mandi untuk menampung air mandi.
"Kok tidak ada gayung sih." gumam Luna. Dia terus mengelilingi kamar mandi, dia masuk ke dalam kamar kaca yang ada showernya.
"Waah, ini pasti shower ya buat mandi."
Luna memutar stop kran dan meluncur air dari shower dengan deras. Dia mengatur stop krannya lebih kecil, lalu mandi dan membersihkan tubuhnya dari banyaknya busa yang menempel di tubuhnya.
Luna di beri tahu kalau kamar Leon adalah kamarnya oleh pembantu di rumah kakek Wira, jadi dia melakukan apa pun di kamar itu sesuka hatinya. Bahkan dia memakai handuk saja di kamar Leon dan berjalan mengitari seluruh kamar mencari lemari baju-baju.
__ADS_1
Kenapa kamar sebesar ini tidak ada lemari baju." ucap Luna masih mencari lemari baju di mana.
Leon merasa terusik tidurnya ketika Luna bolak-balik mencari lemari baju Leon. Leon pun bangkit dari tidurnya dan melihat Luna bolak-balik di kamarnya entah mencari apa, pikir Leon.
Dia terbelalak melihat Luna masih memakai handuk bolak balik di kamarnya dengan wajah kebingungan. Dia menelan ludahnya, melihat putih mulus tubuh Luna. Dia berbalik, tapi sesekali melirik ke arah Luna menuju kamar mandi lagi. Kemudian keluar lagi dengan menggaruk kepalanya, masih kebingunan.
"Kamu cari apa?" tanya Leon.
"Kamar sebesar ini masa tidak ada lemari baju sih." ucap Luna.
"Cari baju?"
"Iya, di mana lemarinya?" tanya Luna tanpa peduli Leon menatapnya aneh padanya.
Leon pun turun dari ranjangnya, dia menuju sebuah ruangan.
"Sini kamu, bukan lemari baju. Tuh di ruangan itu semua baju-bajumu yang kakek beli untukmu." kata Leon, dengan dada berdebar.
Luna mendekat pada Leon yang masih berdiri di pintu antara ruangan walk in kloset. Luna masuk, dia melihat banyak sekali lemari. Bingung lemari mana yang dia buka. Akhirnya satu persatu lemari di buka, Leon hanya memperhatikan apa yang di lakukan Luna itu.
"Mana sih baju kaosnya?"
"Kamu cari baju apa kaos?"
"Gue mau pakai kaos aja, sama celana pendek." kata Luna.
Leon mencarikan kaos untuk Luna, matanya masih sesekali melirik pada Luna. Dia mengambil kaosnya sendiri, dan menyerahkan pada Luna.
"Ini aja punyaku, kakek ngga beli kaos buat kamu." kata Leon.
"Terus, celananya?"
"Ngga ada celana, pakai aja rok pendek. Tuh cari di lemari." kata Leon.
Dia langsung keluar dari walk in kloset. Dia laki-laki normal, jika berlama-lama di sana maka akan bahaya baginya. Luna sendiri mencari celana pendek, tapi tidak menemukannya. Jadi akhirnya dia mengambil rok pendek sesuai kata Leon.
_
_
__ADS_1