Preman Cantik Di Nikahi CEO

Preman Cantik Di Nikahi CEO
39. Luna Hilang


__ADS_3

Leon tidak tahu jika Luna pergi begitu saja, dia pikir Luna masuk ke dalam mobil. Lama dia duduk di bangku taman, menatap ke depan. Baru setelah semuanya terasa sepi dan hening, dia pun beranjak dari dari duduknya. Melangkah menuju mobilnya, tanpa mencari di mana Luna berada.


"Gadis itu, dia sebenarnya cantik. Lihat pipinya memerah rasanya lucu sekali dia." gumam Leon.


Mobil melaju pelan, ponsel Leon berbunyi. Dia melihat nama Sherly di sana, namun dia mengabaikannya. Ingat dengan ucapan Luna kalau gadis itu sudah dua kali mengetahui Sherly selingkuh. Hati Leon bimbang, apa benar Sherly selingkuh dan Luna punya rekamannya?


"Benarkah dia punya rekaman Sherly selingkuh?" gumam Leon.


Dia terus melajukan mobilnya dengan cepat, dia masih belum sadar kalau Luna tidak ada di mobil. Dan baru tadi dia naik mobil dengan Luna, jadi masih belum terbiasa. Baru setelah mendekati rumah kakeknya, dia baru sadar kalau Luna tidak ada di mobil.


"Kemana gadis itu? Apa dia tadi naik taksi?" gumam Leon.


Mobilnya memasuki halaman rumah kakeknya lalu berhenti. Dia memarkirkannya di belakang mobil Riko. Leon keluar dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah. Di sana kakeknya sudah berdiri dengan wajah dingin dan juga bersedekap menatapnya tajam.


Leon menatap ke arah Riko lalu berdecih kesal, selalu saja Riko mengadukannya pada kakeknya kalau dia telah menemui Sherly. Leon mendekat, berhenti di depannya hanya berjarak dua meter.


"Kamu masih saja menemui gadis itu?" tanya kakeknya.


"Ya." jawab Leon melirik Riko.


"Kakek sudah bilang, jangan menemui gadis itu lagi. Apa perlu kakek tunjukkan semuanya rekaman dia yang sedang berselingkuh dengan laki-laki lain? Bahkan dia sering bolak balik pergi ke hotel. Kamu pikir gadis itu sesuci perkiraanmu?! Seharusnya kamu itu sadar Leon! Kakek tidak habis pikir sama kamu itu." kata kakek Wira dengan kesal pada cucunya.


"Iya, aku tahu aku salah, maaf." kata Leon singkat.


"Heh! Hanya itu, tapi selalu mengulanginya lagi." kata kakek Wira dengan kesal.


"Tuan Leon, kemana nona Luna?" tanya Riko.


"Aku tidak tahu, dia tidak pulang denganku. Kenapa kamu tanya? Apa kamu khawatir padanya?" tanya Leon menatap tajam pada Riko.


"Tapi, nona Luna tadi pulang dengan anda? Apa dia tidak ikut?" tanya Riko lagi.


Kakek Wira mulai marah, Leon meninggalkan Luna sendirian pulang ke rumahmya. Atau jangan-jangan dia pulang lagi ke rumah bapaknya. Tatapan tajam kakek Wira membuat Leon berpikir, bukankah tadi sejak dia menarik tangan Luna. Gadis itu pergi?


"Kamu tinggalkan dia di mana, Leon?!" tanya kakeknya marah.


"Aku tidak meninggalkannya, tapi dia tidak masuk ke dalam mobilku setelah dia kubawa ke alun-alun kota." jawab Leon.


"Anak kurang ajar! Kamu meninggalkannya di sana!" teriak kakeknya.


Dia lalu mengambil ponselnya, menghubungi Luna. Namun tidak aktif.

__ADS_1


"Kemana dia pergi." gumam kakek Wira.


Membuat Riko ikut khawatir, dia menyesal kenapa Luna tidak dia paksa pulang dengannya. Sedangkan Leon, dia merasa bersalah dan berpikir kemana gadis itu pergi. Dia ingat arah jalan itu hanya dua arah, tapi entah arah mana Luna pergi.


"Aku akan cari dia." kata Leon.


Dia bergegas pergi meninggalkan kakek Wira dan Riko. Merasa bersalah karena tadi membuat Luna pergi begitu saja, bahkan dia tidak melihat Luna pergi. Dia juga tidak segera sadar kalau Luna tidak ada di mobilnya.


Leon melajukan mobilnya ke arah di mana dia tadi berhenti. Setiap sisi jalan dia lihat, jalanan sedang ramai dan banyak sekali anak muda sedang nongkrong. Leon memperhatikan satu persatu para pemuda yang sedang nongkrong tersebut.


Mobil dia hentikan, mencari dan bertanya pada orang-orang di sana. Leon keluar dari mobilnya dan mendekat pada mereka.


"Apa kalian melihat seorang gadis berpakaian jeans dan kaos serta memakai topi?" tanya Leon kepada salah satu orang di sana.


"Tidak tuan."


"Ah ya, terima kasih." kata Leon.


Dia pun beralih pada yang lain, bertanya dan jawabannya tetap sama. Leon masuk mobil lagi, dia menyusuri jalanan. Memperhatikan setiap jalanan itu. Namun, tetap tidak di temukan juga Luna di mana.


"Kemana dia pergi." gumam Leon.


Dia pun kembali ke taman kota yang tadi dia kunjungi. Keluar dari mobilnya dan berdiri di jalanan trotoar, menengok ke kanan dan ke kiri. Sepi.


Dia duduk di bangku taman itu, matanya tetap berkeliling mencari sosok Luna. Barangkali dia kembali lagi.


Sepuluh menit dia duduk di bangku itu, kembali ponselnya berbunyi. Sherly yang menelepon, dia berdecak kesal. Lalu ponselnya dia matikan dan di masukkan lagi ke kantong celananya. Leon beranjak pergi dari taman itu, mencari Luna lagi.


_


Sedangkan Luna sedang mengatur parkiran motor di salah satu pasar malam. Dia meminta pada penjaga parkir untuk ikut memarkirkan motor atau mobil yang datang ke pasar malam. Banyak anak muda yang datang dengan pasangannya, untuk melihat pasar malam.


"Lo kenapa ada di sini?" tanya salah satu tukang parkir itu.


"Gue sedang butuh uang untuk pulang, gue tersesat tadi di jalan mau pulang." jawab Luna.


"Kenapa ngga pakai ojek online, nanti bisa bayar di tempat." kata tukang parkir lagi.


"Kagak mau, gue juga udah biasa kok ngatur-ngatur kendaraan kayak gini. Udah, pokoknya gue ikut jagain parkiran malam ini aja." kata Luna.


Ada salah satu mobil keluar, Luna pun mengatur agar mobil itu keluar dengan mudah. Setelah mobil itu keluar, pengemudi memberikan ongkos parkir. Satu mobil masuk, Luna pun mengatur agar mobil itu bisa parkir. Namun ada salah satu laki-laki mendorong Luna untuk tidak mengambil jatahnya.

__ADS_1


"Minggir lo! Ini jatah di tempat gue!" kata pemuda bertato itu.


"Yee, mobilnya mau masuk di tempat parkiran gue bang." kata Luna.


"Jangan rebut, sana pergi!"


Pemuda bertato itu mendorong Luna dengan kasar. Luna ingin membalasnya, tapi satu tangan menarik lengannya untuk mencegah Luna membalasnya.


"Udah, jangan di lawan. Dia emang gitu." kata teman satu parkir Luna.


"Huh! Seharusnya jangan nyerobot." kata Luna.


Tapi pemuda bertato itu tidak terima, dia mendekat pada Luna dan menatap tajam padanya. Luna pun mundur, tapi pemuda itu terus saja maju. Dia menyeringai lalu menarik kerah kaos Luna..


"Kayaknya jika lo pake sama gue malam ini, asyik nih. Lo cantik." kata pemuda itu.


"Apa maksud lo?!"


"Gue mainin anu lo, lo pasti suka deh. Hahah!"


"Jangan macam-macam sama gue ya!" teriak Luna, dia mundur beberapa langkah,


Namun pemuda itu terus mendesak Luna, hingga Luna pun terpepet. Dia panik dan menampar pipi pemuda itu.


"Gadis sialan! Awas kamu!"


Luna berlari menjauhi pemuda itu, dia berlari terus. Pemuda itu pun mengejar Luna, larinya cepat, hingga Luna hampir di tarik kerah bajunya dengan kasar.


"Kena lo!"


"Aaarhg!"


Bug! Bug!


Satu pukulan mengarah pada pemuda bertato itu. Dia menoleh dan menatap tajam pada orang yang memukulnya.


"Siapa kamu!"


_


_

__ADS_1



__ADS_2