
Luna dan keluarga besar kakek Wira dari Malaysia berkumpul di restoran. Mereka berbincang mengenai pernikahan Leon dan Luna yang secara mendadak, dan Leon yang sekarang lebih mencintai istrinya Luna.
Luna asyik menggendong Cantika itu hanya tersenyum saja ketika semua membicarakan mengenai dirinya dan suaminya. Tidak ada hal yang aneh, tapi mereka tertawa senang.
Leon menghampiri istrinya yang sedang menggendong anak ketiganya yang paling cantik dan sudah melihat sosis gosong milik papanya itu. Jadinya, Cantika sekarang menangis kalau papanya menggendongnya.
Entahlah, mungkin bayi cantik itu merasa trauma dengan sosis gosong papanya atau memang dia malas di gendong oleh papanya karena Leon sering mengguncangkan tubuhnya.
"Bun, kita ke kamar aja yuk?" ajak Leon.
"Kok ke kamar sih. Kan semuanya sedang kumpul di sini mas." kata Luna.
"Aku malas kumpul dengan mereka, lagian aku udah kumpul sejak tadi sebelum kamu bangun sayang." kata Leon.
"Terus kita mau apa di kamar?" tanya Luna.
"Main kuda-kudaan." bisik Leon dengan senyumnya.
"Apa sih mas, kok itu sih maunya?" tanya Luna yang berubah pipinya jadi merah.
"Ish, kamu juga mau kan? Ayo dong sayang." kata Leon merayu Luna.
"Tapi kan kwartet gimana? Mereka juga harus di jaga mas." kata Luna.
"Kasih ke mak cik aja. Biarkan mereka main sama kwartet, kita manfaatkan mereka menjaga kwartet. Kan mereka juga senang sama anak-anak kita." kata Leon lagi.
Luna tampak berpikir, Leon lalu mengambil alih Cantika. Awalnya bayi perempuan itu menangis ketika papinya mengambilnya, tapi kemudian Leon menyerahkannya pada Mak Cik. Dan tentu saja Mak Cik senang Cantika dia gendong.
"Mak Cik, titip anakku ya." kata Leon.
"Ooh, tenang saja. Mak Cik bawa jalan-jalan ke depan lobi deh." kata Mak Cik.
"Iya, tapi hati-hati ya. Jangan sampai anakku hilang kayak tadi, untung yang mengambil emaknya." kata Leon.
"Hahah! Tidak akan, Mak Cik akan pegang erat bayi cantik ini agar tidak lepas." kata Mak Cik lagi.
"Terima kasih Mak Cik." kata Leon.
Kakek Wira heran dengan cucu dan istrinya itu, kenapa mereka mau pergi.
"Kalian mau kemana." tanya kakek Wira.
"Ada urusan kek, harus segera di selesaikan." jawab Leon merangkul istrinya.
Kakek Wira pun paham dengan jawaban Leon yang langsung merangkul Luna. Dia pun tersenum mengerti.
"Ya sudah, jangan lama-lama." ucap kakek Wira.
"Tidak. Paling sampai subuh kek."
__ADS_1
"Apa?!" teriak kakek Wira.
"Ngga kok, heheh."
"Ish! Dia itu ya." ucap kakek Wira.
Leon dan Luna langsung pergi menuju lift, meraka akan masuk ke kamar hotelnya.
_
Sementara itu, di kamar hotel Riko dan Dewi. Dewi sedang muntah-muntah tapi tidak keluar. Riko panik sekali ketika datang-datang istrinya mual dan muntah-muntah. Dewi memuntahkan isi perutnya ke westafel.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Riko memijat tengkuk Dewi.
"Aku ngga tahu bang, tiba-tiba kepala pusing dan perut mual." jawab Dewi yang lemas karena mengeluarkan cairan kuning saja dari mulutnya.
Riko membimbing Dewi untuk tidur di ranjang mereka. Dia masih cemas dengan keadaan Dewi yang terlihat pucat.
"Apa kamu salah makan ya?" tanya Riko.
"Lha, aku makan apa bang? Kan tadi cuma makan mie pedas aja dan minum jus tomat kok." jawab Dewi.
"Ya, barangkali kamu alergi jus tomat. Kan di apartemen kamu tidak pernah bikin jus tomat kok." kata Riko.
"Ngga tahu bang, tiba-tiba aku pengen jus tomat yang menggoda itu. Warna merahnya itu membuat perutku serasa kehausan." kata Dewi kembali membayangkan jus tomat lagi sewaktu di tempat makan foodcort di sebuah mall di sana.
Riko nampak berpikir, apakah istrinya itu sedang hamil?
"Apa?! Hamil." kata Dewi tidak percaya.
Dia mengingat-ingat kalau bulan dan bulan kemarin belum datang bulan. Seharusnya di awal bulan dia sudah mendapatkan tamu bulanan, tapi dua bulan ini belum mendapatkannya.
Wajah Dewi pun tersenyum, dia mengelus perutnya dan menatap Riko. Riko sendiri juga menebak kalau istrinya itu pasti hamil.
"Kamu sedang mengingat apa?" tanya Riko.
"Emm, sepertinya memang aku hamil bang. Karena sudah dua bulan aku tidak datang bulan." jawab Dewi.
"Jadi benar kamu hamil?" tanya Riko dengan wajah berbinar.
"Ya, tapi kita harus periksa dulu ke dokter." jawav Dewi.
"Ooh, senangnya. Aku akan punya anak." kata Riko memeluk Dewi lalu membopongnya dan memutarnya keliling kamar hotel.
"Eeh bang Riko! Turunin aku, jatuh kan bahaya dengan perutku." kata Dewi.
Riko menurunkan tubuh Dewi lalu memeluknya, dia bahagia sekali kalau ternyata istrinya itu hamil. Dan dia sudah memastikan kalau Dewi Hamil anaknya.
_
__ADS_1
Sampai di Indonesia, Riko langsung mengajak Dewi periksa ke dokter untuk memastikan istrinya itu hamil.
Riko dan Dewi memisahkan diri dari rombongan Luna. Luna jadi heran kenapa Dewi memisahkan diri.
"Hei, Dewi. Kalian mau kemana?" tanya Luna.
"Mau ke dokter." jawab Dewi dengan tersenyum.
"Mau apa? Lo sakit?" tanya Luna lagi.
"Gue hamil, Luna." jawab Dewi dengan senangnya.
"Apa?!"
"Emang lo udah tespek?"
"Belum sih. Heheh."
"Ish! Kok udah pede aja lo hamil." kata Luna.
"Ya kan dia tadi muntah-muntah di kamar hotel." kata Riko.
"Kali aja dia masuk angin." kata Luna mencibir.
Riko dan Dewi saling pandang. Apa benar hanya masuk angin saja?
"Sudah, saja periksa aja. Dari pada kalian mati penasaran, yuk sayang kita pulang. Kita tunggu kabar kematian mereka yang penasaran itu karena gagal hamil." kata Leon merangkul pundak Luna.
"Mas! Kamu itu."
Dewi dan Riko masih diam, Luna dan Leon pergi meninggalkan bandara dan kedua pasangan yang sedang bingung.
"Ngga! Gue hamil!" teriak Dewi.
"Udah jangan dengarkan mereka. Ayo kita ke dokter aja." kata Riko.
Mereka pun pergi ke dokter kandungan yang Riko tahu di mana dokter kandungan praktek dan masih buka.
Sampai di tempat praktek dokter kandungan, Dewi langsung memeriksakan diri. Semua prosedur di jalankan oleh Dewi. Dari pemeriksaan umum, dan mengetes dengan alat tes kehamilan pun sudah di lakukan.
Kemudian hasilnya pun adalah ....
"Selamat! Ibu hamil."
..................... T a m a t ................
"Yeee! Aku hamil!!"
_
__ADS_1
_